| Tahapan | penerapan |
| Urusan | Perhubungan |
| Inisiator | opd |
| Jenis / bentuk | digital / inovasi pelayanan publik |
| Uji coba | 2025-06-01 |
| Penerapan | 2025-12-31 |
| Rancang bangun |
RANCANG BANGUN INOVASI DAERAH
APLIKASI ELEKTRONIK PELAPORAN INFORMASI TRANSPORTASI ANGKUTAN PERINTIS (E-PINTAS MIMIKA)
1. DASAR HUKUM
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2009 tentang Keterbukaan Informasi Publik;
Undang -undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038);
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 96 Tahun 2022 tentang pelaksanaan Undang – undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 215, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5337);
Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2023 tentang Percepatan Transformasi Digital dan Keterpaduan Layanan Digital Nasional;
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pedoman Standar Pelayanan Publik (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 615);
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 79 Tahun 2017 tentang Kriteria dan Penyelenggaraan Kegiatan Angkutan Udara Perintis dan Subsidi Angkutan Kargo;
Peraturan Bupati Mimika Nomor 102 Tahun 2025 tentang Kedudukan,Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Perhubungan Tipe B;
Peraturan Bupati Mimika Nomor 1 Tahun 2025 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Mimika Tahun Anggaran 2025;
Peraturan Bupati Mimika Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Mimika Tahun Anggaran 2026;
Keputusan Bupati Mimika Nomor 62 Tahun 2025 tentang Penetapan Rute, Tarif Dasar,Target Frekuensi, Target Penumpang Dan Target Barang Penyelenggaraan Belanja Transportasi SubsidiPerintis Penumpang Dan Kargo Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kabupaten Mimika Tahun Anggaran 2026;
Keputusan Bupati Mimika Nomor 153 Tahun 2026 perubahan lampiran Keputusan Bupati Mimika Nomor 62 Tahun 2025 tentang Penetapan Rute, Tarif Dasar,Target Frekuensi, Target Penumpang Dan Target Barang Penyelenggaraan Belanja Transportasi SubsidiPerintis Penumpang Dan Kargo Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kabupaten Mimika Tahun Anggaran 2026;
Surat Keputusan Kepala Dinas Perhubungan tentang pengawasan kegiatan subsidi perintis penumpabg dan barang di Kabupaten Mimika Tahun 2026 Nomor 900.1.7.1/135/2026 Tanggal 30 Januari 2026;
Surat Keputusan Plt. Kepala Dinas Perhubungan Nomor 900.1.7.1/304/2026 perubahan lampiran Surat Keputusan Kepala Dinas Perhubungan tentang pengawasan kegiatan subsidi perintis penumpabg dan barang di Kabupaten Mimika Tahun 2026 Nomor 900.1.7.1/135/2026 Tanggal 30 Januari 2026;
Standar Operasional Prosedur (SOP) Aplikasi E-Pintas Nomor 500.11./149/2026 yang ditetapakan Kepala Dinas Perhubungan Tanggal 06 Januari 2026;
Revisi Standar Operasioanl Prosedur (SOP) Aplikasi E-Pintas Nomor 000.8.3.3/299/2026 yang ditetapakan Plt. Kepala Dinas Perhubungan Tanggal 14 April 2026.
2. PERMASALAHAN
a. Makro
Belum optimalnya digitalisasi layanan pemerintah daerah (SPBE);
Keterbatasan sistem monitoring berbasis data pada sektor transportasi udara perintis;
Tuntutan transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran subsidi;
Minimnya informasi yang didapatkan oleh pengguna jasa perintis di Kabupaten Mimika untuk informasi penerbangan subsidi angkutan perintis penumpang dan barang.
b. Mikro
Pelaporan kegiatan subsidi masih manual;
Keterlambatan penyampaian laporan dari pengawas lapangan;
Potensi ketidaksesuaian data penerbangan (penumpang dan kargo);
Sulitnya monitoring real-time oleh pimpinan;
Arsip data tidak terintegrasi.
3. ISU STRATEGIS
a. Global
Latar Belakang:
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 17 SDGs sebagai agenda Perserikatan Bangsa – Bangsa sebagai agenda universal untuk pembangunan berkelanjutan hingga 2030, Indonesia sebagai negara anggota PB, berkomitmen untuk mencapai seluruh target SDGs ini.
Relevansi dengan E-Pintas Mimika:
SDG 9, Industry Innovation and Infrastructure (Industri, Inovasi dan Infrasturktur)
Target 9.1: Mengembangkan infrastruktur yang andal, berkelanjutan, dan resilient untuk mendukung pembangunan ekonomi dan kesejahteraan manusia
E-Pintas Mimika merupakan inovasi digital dalam infrastruktur transportasi perintis yang meningkatkan efisiensi dan keandalan sistem logistik
Sistem informasi terintegrasi mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik untuk pembangunan infrastruktur transportasi yang berkelanjutan
2. SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions (Perdamaian, Keadilan, dan Lembaga yang Kuat)
Target 16.6: Mengembangkan lembaga yang efektif, akuntabel, dan inklusif di semua tingkat
E-Pintas Mimika meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana subsidi publikSistem pelaporan yang terbuka mendukung partisipasi publik dalam pengawasan penggunaan anggaran negara
Data yang akurat dan dapat diakses memperkuat institusi pemerintah dalam memberikan layanan publik yang lebih baik
3. SDG 17: Partnership for the Goals (Kemitraan untuk Tujuan)
Target 17.8: Memperkuat mekanisme kemitraan global untuk berbagi
pengetahuan, keahlian, teknologi, dan pembiayaan
E-Pintas Mimika melibatkan kerjasama multi-stakeholder antara
pemerintah, sektor swasta (operator angkutan), dan masyarakat
Sistem ini menciptakan ekosistem yang mendukung kolaborasi dan
transparansi bersama
Perkembangan teknologi informasi mendorong transformasi digital dalam tata kelola pemerintahan (digital government) yang menuntut layanan publik berbasis data dan sistem terintegrasi;
Tuntutan transparansi dan akuntabilitas publik secara global mengharuskan pemerintah menyediakan sistem pengelolaan data yang cepat, akurat, dan dapat diakses secara real-time;
Pemanfaatan teknilogi informasi untuk efesiensi pelayanan publik.
Pemanfaatan teknologi informasi untuk efisiensi layanan publik.
b. Nasional
Implementasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE);
Penguatan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara;
Kebutuhan integrasi antar sistem transportasi;Program wilayah pengembangan daerah 3T (tertinggal,terdepan,terluar).
c. Lokal
Keterbatasan akses wilayah di Kabupaten Mimika;
Tingginya ketergantungan masyarakat pada angkutan udara perintis;
Kebutuhan pengawasan subsidi yang lebih efektif.
4. METODE PEMBAHARUAN
a. Sebelum penerapan inovasi
Pelaporan dilakukan secara manual (hardcopy/WA);
Data tersebar dan tidak terintegrasi;
Proses verifikasi lambat;
Monitoring tidak real-time;
Informasi yang tersampaikan kepada pengguna jasa tidak real-time.
b. Sesudah penerapan inovasi
Pelaporan dilakukan melalui aplikasi digital (mobile/web);
Data terintegrasi dalam satu sistem;
Verifikasi berjenjang secara sistematis;
Monitoring real-time melalui dashboard;
Laporan otomatis dan terdokumentasi.
5. KEUNGGULAN / KEBAHARUAN
E-Pintas merupakan inovasi berbasis digital pertama di Kabupaten Mimika dalam pengelolaan pelaporan Subsidi Angkutan Udara Perintis yang terintegrasi dan real-time.
Keunggulan Aplikasi E-Pintas
Efisiensi Waktu dan Biaya
Memangkas proses birokrasi konvensional (paper-based) menjadi digital, sehingga mempercepat pelayanan kepada masyarakat atau antar instansi;
2. Aksesibilitas dan Portabilitas
Dapat diakses kapan saja dan di mana saja, yang sangat membantu dalam mengatasi tantangan geografis di Kabupaten Mimika;
3. Peningkatan Transparansi
Setiap tahapan proses terdokumentasi secara digital, meminimalisir risiko manipulasi data atau kecurangan;
4. Akurasi Data
Mengurangi kesalahan manusia (human error) dalam pencatatan dan pengarsipan, menghasilkan data yang lebih akurat dan real-time.
Kebaharuan (Inovasi) Aplikasi
Integrasi Data Terpadu
Kebaruan terletak pada kemampuan menggabungkan berbagai fungsi layanan ke dalam satu portal digital yang terintegrasi, yang sebelumnya terpisah-pisah;
2. Berbasis Kebutuhan Lokal (Local Content)
Dirancang khusus untuk memprioritaskan masalah-masalah teknis yang sering dihadapi di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Mimika;
3. Pemanfaatan Teknologi Mobile
Fokus pada antarmuka mobile-friendly agar mudah digunakan oleh pegawai maupun masyarakat langsung dari smartphone.
6. CARA KERJA INOVASI
Operator menginput data penerbangan melalui aplikasi;
Data mencakup : penumpang, kargo, rute, dokumentasi;
Data masuk ke sistem dan tersimpan dalam database;
Dilakukan verifikasi oleh Petugas pengawas lapangan dilajutkan verifikasi admin Kepala Seksi/Kepala Bidang atau PPTK/PPK;
Data ditampilkan dalam dashboard monitoring;
Sistem menghasilkan laporan otomatis;
Data digunakan untuk evaluasi rute dan dasar pembayaran subsidi.
B. HASIL INOVASI
Tersedianya aplikasi E-PINTAS sebagai sistem pelaporan digital
di url e-pintas.mimikakab.go.id;
Tersedianya akun media sosial E-PINTAS di IG E-PINTAS MIMIKA;
Tersedianya Nomor Contact WA 0813 4310 8707;
Meningkatnya kecepatan dan akurasi pelaporan;
Tersedianya data real-time untuk monitoring;
Meningkatnya tertib administrasi dan pengelolaan arsip;
Mendukung pengambilan kebijakan berbasis data;
Terbangunnya fondasi sistem digital yang dapat dikembangkan lebih lanjut dan direplikasi pada sektor transportasi lainnya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mimika secara khusus dan kabupaten dan provinsi lain secara umum.
C. TUJUAN INOVASI
Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengawasan subsidi;
Mewujudkan sistem pelaporan yang cepat, akurat, dan terintegrasi;
Mendukung implementasi SPBE di daerah;
Meningkatkan kualitas layanan angkutan udara perintis;
Meningkatkan transportasi dan akuntabilitas dalam pengelolaan subsidi angkutan perintins.
D. MANFAAT INOVASI
1. Bagi Pemerintah Daerah
Mempermudah monitoring dan evaluasi;
Meningkatkan akuntabilitas anggaran;
Mendukung pengambilan keputusan.
2. Bagi Pengawas
Mempermudah input laporan;
Mengurangi beban administrasi manual.
3. Bagi Operator Penerbangan
Proses verifikasi lebih cepat;
Kepastian data sebagai dasar pembayaran.
4. Bagi Masyarakat
Meningkatkan kualitas layanan angkutan udara;
Mendukung konektivitas wilayah terpencil.
|
| Tujuan | Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengawasan subsidi;
Mewujudkan sistem pelaporan yang cepat, akurat, dan terintegrasi;
Mendukung implementasi SPBE di daerah;
Meningkatkan kualitas layanan angkutan udara perintis;
Meningkatkan transportasi dan akuntabilitas dalam pengelolaan subsidi angkutan perintins. |
| Manfaat | 1. Bagi Pemerintah Daerah
Mempermudah monitoring dan evaluasi;
Meningkatkan akuntabilitas anggaran;
Mendukung pengambilan keputusan.
2. Bagi Pengawas
Mempermudah input laporan;
Mengurangi beban administrasi manual.
3. Bagi Operator Penerbangan
Proses verifikasi lebih cepat;
Kepastian data sebagai dasar pembayaran.
4. Bagi Masyarakat
Meningkatkan kualitas layanan angkutan udara;
Mendukung konektivitas wilayah terpencil. |
| Hasil | Tersedianya aplikasi E-PINTAS sebagai sistem pelaporan digital dan informasi laporan seacara realtime untuk pengguna jasa subsidi angkutan perintis penumpang dan barang di Kabupaten Mimika. |
| Bobot indikator | 0 (min. lengkap 75) |
| Dokumen | Unduh ringkasan PDF |
Inovasi tahap penerapan
Dinas Perhubungan
Rendah
3 inovasi penerapan · rata-rata bobot 0,0
3 inovasi · klik baris untuk melihat detail
| Tahapan | penerapan |
| Urusan | Perhubungan |
| Inisiator | opd |
| Jenis / bentuk | nondigital / inovasi pelayanan publik |
| Uji coba | 2025-01-01 |
| Penerapan | 2026-01-01 |
| Rancang bangun | RANCANG BANGUN INOVASI DAERAH.
ATCS DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN MIMIKA
1. DASAR HUKUM:
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN.
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMO RPM 49 TAHUN 2014 TENTANG ALAT PEMBERI ISYARAT LALU LINTAS.
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MIMIKA NOMOR 7 TAHUN 20219 TENTANG PENYELENGARAAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN:
Pasal 1 ayat 27: Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas ( APILL) adalah perangkat elektronik yang menggunakan isyarat lampu yang dapat dilengkapi bunyi, untuk mengatur lalu lintas orang dan/atau kendaraan, dipersimpangan atau pada ruas jalan.
2. PERMASALAHAN ATCS SECARA MAKRO :
Infrastruktur dan Konektivitas: Masalah utama sering kali berupa kurangnya infrastruktur pendukung yang memadai, seperti jaringan kabel fiber optik atau koneksi internet yang stabil di seluruh titik persimpangan.
Pemeliharaan Teknologi: Ketergantungan pada perangkat teknologi tinggi (CCTV, sensor, server) membutuhkan biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tinggi. Seringkali terjadi kerusakan perangkat yang memperlambat optimalisasi lalu lintas.
Perilaku Pengguna Jalan: Pelanggaran lalu lintas yang masih tinggi oleh pengendara, seperti menerobos lampu merah atau berhenti melebihi garis stop, mengurangi efektivitas kinerja sistem ATCS dalam mengatur lalu lintas secara maksimal.
Koordinasi Antar Lembaga: Kurangnya integrasi data dan koordinasi antara dinas perhubungan, kepolisian, dan
pihak lain yang relevan dapat menghambat efektivitas sistem manajemen lalu lintas.
Integrasi Data Real-Time: Kendala dalam mengolah data lalu lintas secara real-time yang akurat dan cepat untuk penyesuaian siklus lampu lalu lintas yang dinamis, terutama saat terjadi lonjakan volume kendaraan yang tidak terduga.
Sumber Daya Manusia (SDM): Keterbatasan SDM yang kompeten dalam mengoperasikan, menganalisis, dan memelihara sistem ATCS secara teknis.
3. ISU STRATEGIS ATCS
Global
Integrasi Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning: Implementasi AI memungkinkan ATCS untuk menganalisis data lalu lintas secara real-time dan menyesuaikan lampu lalu lintas secara dinamis, melampaui sistem berbasis waktu konvensional.
Konektivitas V2X (Vehicle-to Everything): Menghubungkan ATCS dengan kendaraan pintar untuk pertukaran data secara langsung, guna mengoptimalkan arus lalu lintas dan meningkatkan keselamatan.
Pengelolaan Mobilitas Berkelanjutan: ATCS diintegrasikan untuk memprioritaskan moda transportasi publik (bus, trem) dan kendaraan ramah lingkungan, guna mengurangi emisi karbon di pusat kota.
Keamanan Siber (Cybersecurity): Mengingat ATCS berbasis teknologi informasi dan terhubung ke jaringan, perlindungan terhadap potensi serangan siber yang dapat melumpuhkan lalu lintas kota menjadi prioritas utama.
Pengembangan Smart City: ATCS menjadi tulang punggung dalam ekosistem smart city, di mana data dari sistem lalu lintas digunakan untuk perencanaan kota yang lebih baik.
2. Nasional
Peningkatan Efisiensi Lalu Lintas Perkotaan: ATCS bertujuan mengoptimalkan kinerja jaringan jalan dengan mengatur durasi lampu lalu lintas secara real-time berdasarkan kepadatan kendaraan.
Optimalisasi Command Center Terintegrasi: Kebutuhan untuk mengintegrasikan CCTV ATCS ke dalam Command Center yang terpadu guna mempercepat respons terhadap insiden lalu lintas.
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK): Implementasi teknologi berbasis internet pada persimpangan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mewujudkan Smart City.
Peningkatan Keselamatan Transportasi Darat: Penggunaan ATCS untuk memantau pelanggaran lalu lintas dan mengurangi angka kecelakaan.
Adaptasi terhadap Peningkatan Volume Kendaraan: Penyesuaian sistem manajemen lalu lintas terhadap
pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi dan truk di wilayah perkotaan.
Pemeliharaan dan SDM: Keterbatasan teknisi lokal dalam pemeliharaan perangkat keras dan lunak ATCS:
- memerlukan SDM yang kompeten untuk mengoperasikan control room.
- memerlukan pengembangan SDM yang berkelanjutan.
3. Lokal
Terintegrasi dan Interkoneksi Sistem: Tantangan utama adalah menyatukan berbagai sistem ATCS yang terfragmentasi di berbagai kota/daerah agar dapat terhubung ke dalam satu pusat kendali nasional atau provinsi.
Optimalisasi Kinerja Simpang: Penggunaan ATCS difokuskan untuk mengatasi kemacetan dengan menyesuaikan waktu sinyal lampu lalu lintas secara real-time berdasarkan derajat kejenuhan dan panjang antrean, mengacu pada standar Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997.
Pengembangan Transportasi Perkotaan: ATCS menjadi bagian integral dari strategi penanganan kemacetan di area perkotaan yang padat, yang merupakan fokus strategis nasional periode 2025-2029.
Peningkatan Keselamatan dan Kamseltibcarlantas: Pemanfaatan ATCS untuk pengawasan lalu lintas, penindakan pelanggaran, dan mendukung budaya tertib lalu lintas (Kamseltibcarlantas) di persimpangan.
Adaptasi Teknologi: Kebutuhan untuk memperbarui teknologi kamera, sensor, dan perangkat lunak agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan lalu lintas modern dan situasi pasca-pandemi.
4. METODE PEMBAHARUAN
SEBELUM PENERAPAN INOVASI AREA TRAFFIC CONTROL SYSTEM (ATCS)
Pengecekan Kondisi Lapangan Manual: Petugas harus melihat kondisi langsung di lapangan, yaitu di setiap persimpangan, untuk memantau situasi.
Pergerakan Kendaraan Kurang Terdata: Data pergerakan kendaraan tidak terekam dengan baik, sehingga analisis lalulintas menjadi kurang akurat.
Rekayasa Lalu Lintas Kurang Antisipatif: Karena kurangnya data dan pemantauan real-time, rekayasa lalu lintas sering kali kurang dapat diantisipasi dengan baik.
Pengaturan Lampu Lalu Lintas Belum Terkoordinasi: Lampu lalu lintas bekerja secara independen (tidak terkoordinasi), yang menyebabkan kinerja jaringan jalan kurang optimal dibandingkan sesudah penerapan ATCS.
Waktu Tundaan Tinggi: Kondisi eksisting sebelum ATCS umumnya menghasilkan waktu tundaan yang lebih lama bagi pengguna jalan.
Kurangnya Bukti Visual Berbasis Teknologi: Belum adanya sistem pengawasan CCTV yang terintegrasi (berbasis teknologi informasi) untuk memantau lalu lintas secara real-time.
2. SESUDAH PENERAPAN INOVASI AREA TRAFFIC CONTROL SYSTEM (ATCS)
Peningkatan Kepatuhan Berlalu Lintas: Pengendara menjadi lebih patuh karena adanya pengawasan CCTV, yang sering kali dilengkapi dengan fitur suara teguran.
Pengurangan Kemacetan dan Waktu Tunda: ATCS terbukti mengurangi tundaan di simpangan, membuat pergerakan kendaraan lebih efisien, dan mempersingkat waktu tempuh.
Optimalisasi Arus Lalu Lintas: Pengaturan lampu lalu lintas yang terkoordinasi secara terpusat dan real-time memudahkan petugas untuk melakukan rekayasa lalu lintas, terutama saat terjadi lonjakan arus.
PemantauanRealTime: Dinas Perhubungan dapat memantau kondisi jalan secara langsung, yang memungkinkan penanganan cepat jika terjadi kecelakaan atau kemacetan.
Peningkatan Keamanan: Penggunaan CCTV membantu mendokumentasikan pelanggaran dan potensi kecelakaan, sehingga meningkatkan keamanan berkendara.
5. KEUNGGULAN / KEBAHARUAN
Optimalisasi Jaringan Jalan: Mengatur lampu lalu lintas secara terkoordinasi dan responsif berdasarkan kepadatan lalu lintas sesungguhnya (tidak sekadar timer).
Mengurai Kemacetan: Mampu mengurangi antrean kendaraan di persimpangan secara signifikan, meningkatkan efisiensi waktu perjalanan, dan memperlancar arus lalu lintas.
Prioritas Kendaraan Darurat: Memberikan waktu hijau khusus bagi kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran, dan konvoi VVIP untuk melintas cepat.
Peningkatan Keamanan & Keselamatan: CCTV memantau pelanggaran lalu lintas dan kecelakaan, menyediakan data rekaman, serta membantu memantau situasi keamanan di area persimpangan.
Efisiensi Pengaturan: Mengurangi beban kerja petugas lapangan karena operasional dilakukan secara terpusat dari ruang control.
Informasi Lalu Lintas: Menyampaikan kondisi lalu lintas terkini dan alternatif rute kepada pengguna jalan.
6. CARA KERJA INOVASI
A. CARA KERJA ATCS SECARA DETAIL
Analisis Data di Pusat Kontrol: Data dari sensor dan CCTV dikirim ke pusat kendali (ruang ATCS). Komputer dan operator menganalisis kepadatan lalu lintas secara real-time.
Penyesuaian Lampu Lalu Lintas (Adaptif): Berdasarkan analisis, sistem secara otomatis (atau diatur oleh operator) akan menyesuaikan waktu sinyal lampu lalu lintas. Sisi dengan antrean kendaraan lebih panjang akan mendapat lampu hijau lebih lama.
Koordinasi Antar Persimpangan: ATCS tidak hanya mengatur satu titik, tetapi menghubungkan berbagai persimpangan untuk menciptakan "gelombang hijau, sehingga kendaraan dapat melaju lebih lancar di jaringan jalan tersebut.
Prioritas Kendaraan Darurat: ATCS dapat memprioritaskan ambulans atau pemadam kebakaran yang terdeteksi, dengan memberikan lampu hijau lebih cepat.
B. TUJUAN INOVASI
Mengoptimalkan Kinerja Jaringan Jalan: Mengurangi kemacetan melalui pengaturan waktu lampu lalu lintas yang adaptif (sesuai volume kendaraan).
Mengurangi Waktu Tunggu: Pengendara tidak menunggu terlalu lama di persimpangan.
Koordinasi Persimpangan: Mencegah penumpukan kendaraan dari satu persimpangan ke persimpangan berikutnya.
Pengurangan Emisi Gas Buang: Lalu lintas yang lancar mengurangi kendaraan berhenti lama yang menghasilkan CO2
Respons Cepat Kecelakaan: Petugas Dishub dapat langsung mengetahui kecelakaan atau gangguan lalu lintas melalui layar monitoring.
Pengawasan RealTime dan Pencegahan Pelanggaran: dengan adanya CCTV, petugas dapat memantau dan menegur pelanggar aturan lalu lintas secara langsung, yang membantu meningkatkan disiplin pengguna jalan.
C. MANFAAT INOVASI
Mengurangi beban dan jumlah petugas lalu lintas yang harus berjaga secara fisik di lapangan.
Mewujudkan sistem lalu lintas yang lebih aman dan teratur.
Informasi Lalu Lintas: Menyampaikan informasi kondisi jalan dan rute alternatif kepada pengendara.
Penindakan Pelanggaran: Mendukung penegakan hukum terhadap pelanggar lalu lintas, seperti melawan arus atau menerobos lampu merah.
D. DAMPAK POSITIF INOVASI ATCS:
Pengurangan Angka Kriminalitas: CCTV bekerja 24 jam memantau aksi kejahatan di area traffic light.
Peningkatan Disiplin Pengendara: Mengurangi pelanggaran seperti tidak menggunakan helm, menerobos lampu merah, dan mabuk saat berkendara.
Audio announcer (Pengumum Suara): Petugas dapat menegur langsung pelanggar melalui speaker di simpang jalan.
|
| Tujuan | Mengoptimalkan Kinerja Jaringan Jalan: Mengurangi kemacetan melalui pengaturan waktu lampu lalu lintas yang adaptif (sesuai volume kendaraan).
Mengurangi Waktu Tunggu: Pengendara tidak menunggu terlalu lama di persimpangan.
Koordinasi Persimpangan: Mencegah penumpukan kendaraan dari satu persimpangan ke persimpangan berikutnya.
Pengurangan Emisi Gas Buang: Lalu lintas yang lancar mengurangi kendaraan berhenti lama yang menghasilkan CO2
Respons Cepat Kecelakaan: Petugas Dishub dapat langsung mengetahui kecelakaan atau gangguan lalu lintas melalui layar monitoring.
Pengawasan RealTime dan Pencegahan Pelanggaran: dengan adanya CCTV, petugas dapat memantau dan menegur pelanggar aturan lalu lintas secara langsung, yang membantu meningkatkan disiplin pengguna jalan. |
| Manfaat | Mengurangi beban dan jumlah petugas lalu lintas yang harus berjaga secara fisik di lapangan.
Mewujudkan sistem lalu lintas yang lebih aman dan teratur.
Informasi Lalu Lintas: Menyampaikan informasi kondisi jalan dan rute alternatif kepada pengendara.
Penindakan Pelanggaran: Mendukung penegakan hukum terhadap pelanggar lalu lintas, seperti melawan arus atau menerobos lampu merah. |
| Hasil | Pengurangan Angka Kriminalitas: CCTV bekerja 24 jam memantau aksi kejahatan di area traffic light.
Peningkatan Disiplin Pengendara: Mengurangi pelanggaran seperti tidak menggunakan helm, menerobos lampu merah, dan mabuk saat berkendara.
Audio announcer (Pengumum Suara): Petugas dapat menegur langsung pelanggar melalui speaker di simpang jalan. |
| Bobot indikator | 0 (min. lengkap 75) |
| Dokumen | Unduh ringkasan PDF |
| Tahapan | penerapan |
| Urusan | Perhubungan |
| Inisiator | asn |
| Jenis / bentuk | digital / inovasi pelayanan publik |
| Uji coba | 2026-04-21 |
| Penerapan | 2026-12-31 |
| Rancang bangun | Undang-undang Nomor 14 Tahun 2009 tentang Keterbukaan Informasi Publik.Undang -undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038).Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 96 Tahun 2022 tentang pelaksanaan Undang – undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 215, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5337)Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2023 tentang Percepatan Transformasi Digital dan Keterpaduan Layanan Digital Nasional.Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pedoman Standar Pelayanan Publik (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 615)Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 79 Tahun 2017 tentang Kriteria dan Penyelenggaraan Kegiatan Angkutan Udara Perintis dan Subsidi Angkutan Kargo.Peraturan Bupati Mimika Nomor 102 Tahun 2025 tentang Kedudukan,Susunan ,Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Perhubungan Tipe B. |
| Tujuan | Mewujudkan Sitem Pelaporan Subsidi Angkutan Perintis Penumpang dan Barang yang efektif, terintegrasi dan berbasis data secara real time guna mendukung pengambilan keputusan yang tepat, transparan dan akutabel di Dinas Perhubungan Kabupaten Mimika. |
| Manfaat | Tersedinaya data real time, monitoring lebih cepat dan akurat, efesiensi wakru dalam rekapitulasi dan pelaporan berbasis data real time. |
| Hasil | Aplikasi E-Pintas Mimika, link url https://e-pintas.mimikakab.go.id/ |
| Bobot indikator | 0 (min. lengkap 75) |
| Dokumen | Unduh ringkasan PDF |