Inovasi daerah yang dilaporkan ke Kementerian Dalam Negeri.
No.
Nama inovasi
Tahapan
Bentuk inovasi
Penerapan
Bobot
Detail
171
SA JAGA
penerapan
Inovasi pelayanan publik
2025-04-20
28
Ringkasan Inovasi
Nama inovasi
SA JAGA
Nama OPD
SD NEGERI INAUGA SEMPAN BARAT
Tahapan
penerapan
Uji coba
2025-02-18
Penerapan
2025-04-20
Urusan
Pendidikan
Inisiator
asn
Jenis inovasi
nondigital
Bentuk inovasi
inovasi pelayanan publik
Rancang bangun
RANCANG BANGUN INOVASI DAERAH
Program SA JAGA (Saya Jaga Lingkungan)
Transformasi Sampah Plastik Menjadi Ecobricks Bangku Berbasis Partisipasi Peserta Didik di SD Negeri Inauga Sempan Barat Kabupaten Mimika
A. Dasar Hukum
Pelaksanaan inovasi SA JAGA (Saya Jaga Lingkungan) dilandasi oleh berbagai regulasi yang menjadi pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan, pelestarian lingkungan hidup, dan inovasi daerah. Landasan hukum tersebut antara lain Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28H ayat (1) yang menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat. Selanjutnya Pasal 31 UUD 1945 mengamanatkan bahwa pendidikan harus mampu meningkatkan kualitas manusia Indonesia melalui proses pembelajaran yang bermakna.
Dalam aspek pengelolaan lingkungan, inovasi ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang menekankan pentingnya pengurangan, pemanfaatan kembali, dan pendaurulangan sampah melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Dari sisi pendidikan, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan bertujuan membentuk peserta didik yang beriman, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya.
Selain itu, pelaksanaan inovasi didukung oleh PP Nomor 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah, serta Peraturan Daerah Kabupaten Mimika Nomor 11 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah, yang mendorong keterlibatan masyarakat dan satuan pendidikan dalam pengurangan timbulan sampah melalui pengelolaan yang berkelanjutan.
B. Permasalahan
1. Permasalahan Makro
Permasalahan sampah plastik telah menjadi isu lingkungan global yang berdampak terhadap pencemaran tanah, air, dan udara. Berdasarkan berbagai kajian, plastik merupakan jenis sampah yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai sehingga apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan pencemaran lingkungan dan berkontribusi terhadap perubahan iklim akibat praktik pembakaran terbuka.
Di sektor pendidikan, sekolah memiliki tanggung jawab membentuk generasi yang memiliki karakter peduli lingkungan. Namun dalam praktiknya, pengelolaan sampah di lingkungan sekolah masih sering berorientasi pada pembuangan, bukan pemanfaatan kembali.
2. Permasalahan Mikro
Sebelum inovasi SA JAGA dilaksanakan, SD Negeri Inauga Sempan Barat menghasilkan sampah plastik setiap hari yang berasal dari botol air mineral, kemasan makanan ringan, dan plastik minuman peserta didik. Seluruh sampah tersebut dikumpulkan dalam satu tempat tanpa proses pemilahan sehingga sebagian besar berakhir dengan cara dibakar.
Kondisi tersebut menimbulkan beberapa permasalahan, antara lain meningkatnya pencemaran udara akibat asap pembakaran, rendahnya kesadaran peserta didik dalam memilah sampah, belum adanya budaya daur ulang di lingkungan sekolah, serta belum optimalnya pemanfaatan sampah sebagai media pembelajaran. Selain itu, sekolah juga memiliki keterbatasan fasilitas bangku pada area taman sekolah dan pojok baca yang menyebabkan peserta didik belum memiliki ruang belajar luar kelas yang nyaman.
Permasalahan tersebut mendorong sekolah mencari solusi inovatif yang tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata bagi warga sekolah.
C. Isu Strategis
Isu Global
Program SA JAGA mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pendidikan karakter, Tujuan 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui pengelolaan lingkungan sekolah, Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan kembali sampah plastik, serta Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dengan mengurangi praktik pembakaran sampah plastik.
Isu Nasional
Secara nasional, inovasi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mengurangi timbulan sampah plastik melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular dan penguatan pendidikan karakter. Program ini juga mendukung Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS) yang mendorong satuan pendidikan menjadi pelopor pelestarian lingkungan.
Isu Lokal
Pada tingkat lokal, inovasi SA JAGA mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Mimika dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Program ini juga memperkuat budaya gotong royong masyarakat Papua melalui keterlibatan aktif peserta didik dalam menjaga kebersihan sekolah sekaligus menciptakan sarana belajar yang bermanfaat dari bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
D. Metode Pembaharuan
Sebelum inovasi diterapkan, pengelolaan sampah di sekolah masih bersifat konvensional, yaitu mengumpulkan seluruh jenis sampah tanpa pemilahan dan memusnahkannya melalui pembakaran. Metode tersebut tidak memberikan nilai tambah baik bagi lingkungan maupun proses pembelajaran peserta didik.
Melalui inovasi SA JAGA, sekolah mengubah pola pengelolaan sampah menjadi sistem yang lebih edukatif dan berkelanjutan. Peserta didik dilibatkan secara aktif mulai dari memilah sampah, membersihkan botol plastik, mengeringkan, memadatkan sampah plastik ke dalam botol hingga memenuhi standar kepadatan Ecobrick, kemudian menyusun botol menjadi bangku yang dapat digunakan sebagai fasilitas sekolah.
Perubahan mendasar dari inovasi ini bukan hanya terletak pada hasil akhirnya berupa bangku, tetapi pada perubahan perilaku warga sekolah dalam memandang sampah sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna.
E. Keunggulan/Kebaharuan
Keunggulan utama inovasi SA JAGA adalah penerapan model pembelajaran berbasis aksi nyata di mana seluruh proses pengolahan sampah dilakukan oleh peserta didik dengan pendampingan guru. Pendekatan ini mengintegrasikan pendidikan karakter, pelestarian lingkungan, kreativitas, dan pembelajaran kontekstual dalam satu kegiatan yang berkelanjutan.
Berbeda dengan program kebersihan sekolah pada umumnya yang hanya berfokus pada kegiatan memungut sampah, SA JAGA mengubah sampah plastik menjadi produk fungsional berupa bangku yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar. Inovasi ini juga memiliki biaya pelaksanaan yang rendah, menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekolah, mudah direplikasi oleh sekolah lain, serta mampu memberikan manfaat ekonomi melalui penghematan biaya pengadaan fasilitas sekolah.
F. Cara Kerja Inovasi
Pelaksanaan inovasi SA JAGA dilakukan melalui tahapan yang sistematis. Kegiatan diawali dengan sosialisasi kepada seluruh warga sekolah mengenai pentingnya pemilahan sampah plastik dan dampaknya terhadap lingkungan. Selanjutnya peserta didik mengumpulkan botol plastik bekas dan sampah plastik yang berasal dari lingkungan sekolah. Botol kemudian dicuci dan dikeringkan sebelum digunakan sebagai wadah Ecobrick.
Sampah plastik yang telah dibersihkan dipotong menjadi bagian-bagian kecil, kemudian dimasukkan ke dalam botol dan dipadatkan menggunakan tongkat kayu hingga mencapai tingkat kepadatan tertentu agar memiliki kekuatan struktural. Botol-botol yang telah memenuhi standar tersebut disusun dan diikat menggunakan perekat serta rangka sederhana hingga membentuk bangku yang kokoh, aman, dan nyaman digunakan.
Bangku yang telah selesai diproduksi ditempatkan di area taman sekolah, pojok baca, dan ruang terbuka sebagai sarana belajar. Seluruh proses dilakukan secara berkelanjutan melalui program SA JAGA sehingga tidak hanya menghasilkan produk fisik berupa bangku, tetapi juga membentuk budaya sekolah yang peduli lingkungan, kreatif, dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah.
Tujuan
Program SA JAGA (Saya Jaga Lingkungan) bertujuan menciptakan sistem pengelolaan sampah plastik berbasis partisipasi aktif peserta didik melalui pemanfaatan metode Ecobrick sehingga mampu menghasilkan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, edukatif, dan berkelanjutan. Inovasi ini tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah sampah, tetapi juga membangun budaya peduli lingkungan sejak usia dini melalui pembelajaran yang kontekstual.
Secara khusus tujuan inovasi ini adalah:
Mengurangi volume sampah plastik yang dihasilkan di lingkungan SD Negeri Inauga Sempan Barat melalui kegiatan pemilahan, pemanfaatan kembali (reuse), dan daur ulang (recycle) menggunakan metode Ecobrick.
Menumbuhkan karakter peserta didik yang peduli terhadap lingkungan, bertanggung jawab, disiplin, kreatif, serta memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan sekolah sebagai bagian dari pembentukan Profil Pelajar Pancasila.
Mengubah paradigma warga sekolah bahwa sampah plastik bukan lagi limbah yang harus dibakar atau dibuang, melainkan sumber daya yang memiliki nilai guna apabila dikelola secara tepat.
Mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup ke dalam proses pembelajaran melalui praktik langsung sehingga peserta didik memperoleh pengalaman nyata dalam pengelolaan sampah.
Menghasilkan sarana pembelajaran berupa bangku taman, pojok baca, atau fasilitas sekolah lainnya dari Ecobrick sebagai bentuk pemanfaatan sampah yang bernilai ekonomis dan fungsional.
Mengurangi praktik pembakaran sampah plastik di lingkungan sekolah sehingga mampu menekan pencemaran udara dan mendukung terciptanya lingkungan belajar yang sehat.
Mendorong terbentuknya budaya sekolah yang berkelanjutan (green school) melalui keterlibatan seluruh warga sekolah dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Menjadi model inovasi pengelolaan sampah sederhana, murah, mudah diterapkan, serta dapat direplikasi oleh sekolah lain di Kabupaten Mimika maupun daerah lainnya.
Manfaat
Pelaksanaan Program SA JAGA memberikan manfaat yang nyata bagi peserta didik, sekolah, masyarakat, maupun pemerintah daerah.
A. Manfaat bagi Peserta Didik
Meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dini.
Mengembangkan karakter disiplin, tanggung jawab, gotong royong, kreativitas, dan kepedulian sosial.
Memberikan pengalaman belajar berbasis proyek (Project Based Learning) yang menyenangkan.
Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif melalui pemanfaatan limbah menjadi produk yang berguna.
B. Manfaat bagi Sekolah
Mengurangi volume sampah plastik yang sebelumnya dibakar atau dibuang.
Menciptakan lingkungan sekolah yang lebih bersih, sehat, dan nyaman.
Menambah fasilitas sekolah berupa bangku Ecobrick untuk taman, pojok baca, dan ruang terbuka tanpa biaya besar.
Mengurangi kebutuhan pengadaan sarana melalui pemanfaatan limbah.
Mendukung pelaksanaan Program Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup (PBLHS) serta sekolah ramah lingkungan.
C. Manfaat bagi Lingkungan
Mengurangi pencemaran akibat pembakaran sampah plastik.
Mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Mendukung penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R).
Mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan.
Berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon dari pembakaran sampah.
D. Manfaat bagi Pemerintah Daerah
Mendukung program Pemerintah Kabupaten Mimika dalam pengelolaan sampah.
Menjadi contoh praktik baik (best practice) inovasi daerah berbasis pendidikan.
Mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama tujuan 4, 11, 12, dan
13. Menjadi model pemberdayaan sekolah dalam pengelolaan lingkungan.
E. Manfaat Sosial
Meningkatkan budaya gotong royong di lingkungan sekolah.
Mendorong keterlibatan guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas sekolah karena dibuat bersama.
Menjadi media edukasi lingkungan bagi masyarakat sekitar.
Hasil inovasi
Pelaksanaan Program SA JAGA menghasilkan perubahan yang nyata baik dari aspek lingkungan, pendidikan, sosial, maupun efisiensi penggunaan sumber daya sekolah.
A. Hasil Fisik
Sampah plastik yang sebelumnya dibakar kini dimanfaatkan sebagai bahan baku Ecobrick.
Terbentuk bangku Ecobrick yang digunakan di taman sekolah, pojok baca, dan area belajar luar kelas.
Lingkungan sekolah menjadi lebih bersih, rapi, dan nyaman.
Tersedianya fasilitas belajar tambahan hasil karya peserta didik.
B. Hasil Perubahan Perilaku
Peserta didik mulai terbiasa memilah sampah sesuai jenisnya.
Meningkatnya kesadaran seluruh warga sekolah terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Berkurangnya kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Terbentuk budaya sekolah yang peduli terhadap pelestarian lingkungan.
C. Hasil Pendidikan
Peserta didik memperoleh pengalaman belajar melalui praktik langsung.
Pembelajaran menjadi lebih kontekstual karena dikaitkan dengan permasalahan nyata di lingkungan sekolah.
Meningkatnya kemampuan bekerja sama, komunikasi, kreativitas, dan pemecahan masalah.
Nilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, dan gotong royong semakin berkembang.
D. Hasil Lingkungan
Volume sampah plastik yang dibakar mengalami penurunan.
Lingkungan sekolah menjadi lebih sehat karena berkurangnya asap pembakaran sampah.
Pengelolaan sampah menjadi lebih sistematis melalui proses pemilahan dan pemanfaatan.
E. Hasil Ekonomi
Sekolah dapat menghemat anggaran pengadaan bangku taman.
Pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Penggunaan bahan bekas mengurangi biaya pembelian material baru.
F. Hasil Keberlanjutan
Program SA JAGA menjadi kegiatan rutin sekolah.
Terbentuk sistem pengelolaan sampah yang dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Inovasi mudah direplikasi oleh sekolah lain karena menggunakan bahan sederhana, biaya rendah, dan teknologi yang mudah diterapkan.
DASAR HUKUM
Dasar Hukum Tingkat Pusat
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik;
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik;
Undang-Udang Nomor 11 Tahun 2022 tantang Kelolahragaan;
Dasar Hukum Tingkat Daerah
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan Sistem Informasi Manajemen Surat Menyurat;
Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga Nomor 8 Tahun 2018 yang mengatur tentang standard sarana dan prasarana bangunan gedung dan Olahraga
Peraturan Daerah Kabupaten Mimika Nomor 1 Tahun 2015 tentang Sistem Informasi dan Manajemen Pelayanan Publik.
PERMASALAHAN
1. Informasi dan Sewa Menyewa Venue yang Kurang Maksimal dan Sarana Olahraga Lainnya.
2. Penomoran Surat Menyurat Yang belum efektif.
ISU STRATEGIS
Implementasi Sistem Informasi Pelayanan Pemuda dan Olahraga (SIPPORA) mendukung inovasi dan administrasi publik, meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam pelayanan surat menyurat, sistem administrasi digital seperti ini juga membantu memastikan kelangsungan pelayanan publik dan memastikan semua pihak terkait mendapatkan informasi yang dibutuhkan tepat waktu.
METODE PEMBAHARUAN
1. Sebelum
- Informasi Mengenai Sewa Menyewa Venue dan sarana prasarana lainnya yang Belum diketahui banyak klub dan masyarakat.
- Penomoran Surat Menyurat yang belum efektif.
2. Sesudah
- Masyarakat atau Klub lebih mudah mendapatkan Informasi Terkait venue dan sarana lainnya
- Penomoran Surat Menyurat Menjadi Lebih teratur.
KEUNGGULAN/KEBAHARUAN
Pemberitahuan dan Pemakaian Venue dan sarana lainnya tidak Perlu harus ke Kantor Dispora.
Penomoran Teratur
CARA KERJA INOVASI
Tujuan
TUJUAN
INOVASI: Meningkatkan Pelayanan dinas pemuda dan olahraga dalam era digitalisasi menuju Mimika Smart City.
Manfaat
MANFAAT
INOVASI : Menciptakan Solusi dalam mengatasi permasalahahan yang kurang Efektis
Hasil inovasi
DAMPAK
INOVASI : - Informasi tentang Venue mudah di ketahui
- Penomoran yang teratur
OPTIMALISASI PEMANFAATAN INFORMASI DATA JENIS DAN HARGA BARANG KEBUTUHAN POKOK DARI DISTRIBUTOR KEPADA AGEN, PENGECER DAN MASYARAKAT MELALUI LAYANAN APLIKASI GROUP WHATSAPP DI KABUPATEN MIMIKA ( SIBAPOK MENO)
penerapan
Inovasi pelayanan publik
2026-06-01
Ringkasan Inovasi
Nama inovasi
OPTIMALISASI PEMANFAATAN INFORMASI DATA JENIS DAN HARGA BARANG KEBUTUHAN POKOK DARI DISTRIBUTOR KEPADA AGEN, PENGECER DAN MASYARAKAT MELALUI LAYANAN APLIKASI GROUP WHATSAPP DI KABUPATEN MIMIKA ( SIBAPOK MENO)
Nama OPD
Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Tahapan
penerapan
Uji coba
2026-01-15
Penerapan
2026-06-01
Urusan
Perdagangan
Inisiator
opd
Jenis inovasi
digital
Bentuk inovasi
inovasi pelayanan publik
Rancang bangun
Optimalisasi Pemanfaatan Informasi Data Jenis dan Harga Barang Kebutuhan Pokok dari Distributor kepada Agen, Pengecer, dan Masyarakat Melalui Layanan Aplikasi Group Whats App di Kabupaten Mimika
Rancang bangun ini merupakan desain sistem penyampaian informasi harga, jenis, dan ketersediaan barang kebutuhan pokok secara cepat, akurat, dan mudah diakses melalui Group Whats App resmi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mimika. Sistem dirancang dengan melibatkan distributor sebagai penyedia data utama, agen dan pengecer sebagai penyampai informasi harga di tingkat pasar, serta masyarakat sebagai penerima manfaat informasi. Data yang dikumpulkan diverifikasi oleh petugas Dinas sebelum dipublikasikan ke dalam grup Whats App sehingga informasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan. Alur sistem dimulai dari pengumpulan data oleh distributor dan pelaku usaha, dilanjutkan dengan proses validasi oleh admin Dinas, kemudian dipublikasikan kepada seluruh anggota grup secara berkala. Informasi tersebut dimanfaatkan sebagai dasar pemantauan harga, pengendalian inflasi daerah, pengurangan disparitas harga antarwilayah, serta meningkatkan transparansi distribusi barang kebutuhan pokok. Dengan memanfaatkan platform Whats App yang mudah diakses oleh seluruh pemangku kepentingan, rancang bangun ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penyebaran informasi, mempercepat koordinasi antara pemerintah dan pelaku usaha, serta mendukung pengambilan keputusan yang tepat dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok di Kabupaten Mimika.
Tujuan
Meningkatkan transparansi informasi mengenai jenis, stok, dan harga barang kebutuhan pokok secara cepat, akurat, dan mudah diakses oleh masyarakat.Mempermudah koordinasi dan komunikasi antara Dinas Perindustrian dan Perdagangan, distributor, agen, pengecer, koperasi, serta masyarakat melalui media digital berbasis Whats App.Mendukung pengendalian inflasi daerah dengan menyediakan data harga yang terkini sebagai dasar pengambilan kebijakan oleh Pemerintah Kabupaten Mimika.Mengurangi disparitas harga barang kebutuhan pokok antara wilayah perkotaan, distrik, dan kampung melalui penyebaran informasi harga yang merata. Meningkatkan efisiensi proses pelaporan, verifikasi, dan publikasi data harga barang kebutuhan pokok sehingga informasi dapat disampaikan secara real time.Mendorong partisipasi aktif pelaku usaha dan masyarakat dalam menciptakan sistem informasi harga yang terbuka, akuntabel, dan terpercaya.Meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang perdagangan melalui pemanfaatan teknologi informasi yang sederhana, mudah digunakan, dan berbiaya rendah.Menjadi sarana pendukung bagi Pemerintah Kabupaten Mimika dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Manfaat
Inovasi ini memberikan manfaat berupa meningkatnya transparansi informasi harga, percepatan penyebaran data, kemudahan koordinasi antar pelaku distribusi, efisiensi pelayanan publik, pengendalian inflasi yang lebih efektif, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui akses informasi yang cepat, akurat, dan mudah dijangkau.
Hasil inovasi
hasil inovasi yang dicapai adalah terwujudnya sistem informasi harga barang kebutuhan pokok yang cepat, transparan, akurat, mudah diakses, mendukung pengendalian inflasi daerah, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas harga di Kabupaten Mimika.
RANCANG BANGUN INOVASI DAERAH
Dinas Komunikasi dan Informatika Kab.Mimika
Inovasi Daerah Tahun 2025 : MIMIKA LAPOR
RANCANG BANGUN
DASAR HUKUM
Undang-undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik
Undang-undang No. 11 Tahun 2008 jo. UU No.19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Undang-undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
Undang-undang No.23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah
Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Per Cepatan Pelaksanaan Kebijakan Satu Peta Pada. Tingkat Ketelitian Peta Skala 1:50.000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 28);
Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5149);
Peraturan Bupati Nomor 51 Tahun 2025 tentang Sistem Aplikasi Digital Laynanan Terpadu Mimika Center Kabupaten Mimika
Keputusan Bupati Mimika Nomor 440 Thaun 2025 tentang Penunjukan Penanggung Jawab Kanal Pelaporan Warga Mimika Center
PERMASALAHAN
Makro Pelayanan Publik Antar OPD Belum Terintegrasi
Setiap OPD masih menjalankan pelayanan dan pengaduan secara terpisah sehingga koordinasi, pertukaran data, dan pelayanan kepada masyarakat menjadi kurang efektif.
Sistem Pengaduan Masyarakat Masih Manual
Pengaduan disampaikan melalui berbagai media yang tidak terpusat sehingga laporan sulit didokumentasikan, dipantau, dan ditindaklanjuti secara cepat.
Transparansi dan Monitoring Pelayanan Masih Rendah
Masyarakat belum dapat memantau status dan progres laporan secara jelas, sementara pemerintah daerah juga kesulitan mengawasi kinerja penanganan aduan setiap OPD.
Implementasi SPBE Belum Optimal
Digitalisasi layanan pemerintahan masih berjalan parsial, aplikasi antar OPD belum terintegrasi, dan pemanfaatan data serta dashboard monitoring belum maksimal.
Monitoring dan Pengambilan Keputusan Pimpinan Belum Efektif
Pimpinan daerah belum memiliki sistem monitoring real-time sehingga respon terhadap permasalahan publik dan evaluasi kinerja OPD masih berjalan lambat.
Tantangan Akses Pelayanan dan Tuntutan Smart Governance
Kondisi geografis serta tuntutan reformasi birokrasi mendorong perlunya layanan digital yang cepat, transparan, mudah diakses, dan terintegrasi untuk seluruh masyarakat.
Mikro
Belum Ada Kanal Pengaduan Terpusat
Pengaduan masyarakat masih diterima melalui berbagai media yang berbeda sehingga laporan tidak terkelola dengan baik dan masyarakat bingung harus melapor ke mana.
Proses Pengelolaan Aduan Masih Manual
Pendataan, disposisi, dan arsip pengaduan masih dilakukan secara manual sehingga laporan sering terlambat ditindaklanjuti dan sulit dipantau.
Tidak Tersedianya Sistem Tracking dan Monitoring
Pengaduan belum memiliki nomor tiket dan monitoring progres yang jelas sehingga masyarakat maupun pimpinan sulit mengetahui status penanganan laporan.
Kurangnya Integrasi Sistem Antar OPD
Sistem layanan yang digunakan masing-masing OPD belum saling terhubung sehingga terjadi duplikasi data dan koordinasi penanganan menjadi kurang efektif.
Minimnya Dashboard dan Analisis Data
Belum tersedia dashboard terintegrasi untuk memantau jumlah aduan, tingkat penyelesaian, dan analisis data pengaduan sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Pemanfaatan Teknologi dan SDM Digital Belum Optimal
Pemanfaatan layanan mobile, dokumentasi digital, serta kesiapan SDM pengelola pengaduan masih terbatas sehingga pelayanan publik belum berjalan maksimal.
ISU STRATEGIS
A. Isu Strategis Global
Percepatan Transformasi Digital Pemerintahan Perkembangan teknologi mendorong pemerintah menghadirkan pelayanan publik yang cepat, efisien, transparan, dan mudah diakses melalui sistem digital.
Meningkatnya Ekspektasi Masyarakat terhadap Layanan Digital
Masyarakat membutuhkan pelayanan pemerintah yang responsif, dapat diakses secara online, serta memiliki kepastian dan monitoring layanan secara real-time.
Penguatan Smart City dan Smart Governance
Pemerintah daerah dituntut memanfaatkan teknologi untuk mendukung pelayanan publik digital, integrasi sistem pemerintahan, dan pengelolaan data berbasis teknologi.
Pemanfaatan Data dan Monitoring Real-Time
Pemerintahan modern membutuhkan sistem yang mampu menyediakan data dan informasi secara cepat untuk mendukung pengambilan keputusan dan evaluasi pelayanan publik.
Peningkatan Transparansi dan Akuntabilitas Pemerintah
Tuntutan good governance mendorong pemerintah menjadi lebih transparan, akuntabel, dan terbuka melalui pelayanan publik berbasis digital.
B. Isu Strategis Nasional
Percepatan Transformasi Digital dan Implementasi SPBE
Pemerintah Indonesia terus mendorong digitalisasi layanan pemerintahan dan integrasi sistem elektronik guna meningkatkan kualitas pelayanan publik dan efisiensi birokrasi.
Reformasi Birokrasi dan Pelayanan Publik Digital
Pemerintah pusat menekankan pelayanan publik yang cepat, transparan, mudah diakses, dan berbasis teknologi sebagai bagian dari reformasi birokrasi.
Pengembangan Smart City dan Smart Governance
Pemerintah daerah didorong membangun layanan publik terintegrasi, command center, dan monitoring pemerintahan berbasis teknologi dan data real-time.
Penguatan Tata Kelola Data Pemerintahan
Pemerintah daerah dituntut memiliki sistem yang mampu mengintegrasikan data pelayanan, menyediakan dashboard monitoring, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Peningkatan Keterbukaan Informasi dan Partisipasi Publik
Masyarakat membutuhkan layanan pemerintah yang transparan, interaktif, partisipatif, dan mudah diakses melalui platform digital.
C. Isu Strategis Lokal
Pelayanan dan Sistem Antar OPD Belum Terintegrasi
Pelayanan dan pengelolaan data antar perangkat daerah masih berjalan terpisah sehingga koordinasi, monitoring, dan sinkronisasi data belum optimal.
Kebutuhan Masyarakat terhadap Pelayanan Digital Semakin Tinggi
Masyarakat membutuhkan layanan pemerintah yang cepat, responsif, mudah diakses melalui perangkat mobile, dan memiliki kepastian tindak lanjut.
Tantangan Geografis dan Akses Pelayanan di Kabupaten Mimika
Kondisi wilayah yang luas memerlukan layanan digital untuk memperluas jangkauan pelayanan dan mempermudah akses masyarakat.
Kebutuhan Monitoring Pemerintahan Secara Real-Time
Pimpinan daerah membutuhkan sistem monitoring terintegrasi untuk memantau pelayanan publik, kondisi lapangan, dan performa perangkat daerah secara cepat dan akurat.
Percepatan Transformasi Digital Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Mimika perlu mempercepat implementasi SPBE, smart city, integrasi layanan, dan digitalisasi pemerintahan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Kebutuhan Integrasi Data dan Peningkatan Kepercayaan Masyarakat
Pemerintah daerah memerlukan platform terintegrasi yang mampu menyatukan data pelayanan, meningkatkan transparansi, serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
METODE PEMBAHARUAN
A. Kondisi Sebelum Adanya Inovasi
Sebelum implementasi sistem “Mimika Lapor”, pelayanan dan pengelolaan informasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mimika masih dilakukan secara konvensional dan belum terintegrasi dalam satu platform digital daerah.
Kondisi tersebut ditandai dengan berbagai permasalahan sebagai berikut:
1. Pelayanan dan Pengaduan Masih Manual
Sebagian besar pelayanan masyarakat dan penyampaian laporan masih dilakukan melalui:
kunjungan langsung ke kantor; surat manual;
telepon;
pesan Whats App;
media sosial;
komunikasi informal kepada pegawai pemerintah.
Hal ini menyebabkan proses pelayanan menjadi tidak efisien dan sulit dikontrol secara menyeluruh.
2. Tidak Adanya Sistem Terintegrasi Antar OPD
Setiap perangkat daerah menjalankan layanan dan pengelolaan informasi secara masing-masing tanpa integrasi data dan sistem.
Akibatnya: koordinasi antar OPD berjalan lambat;
pertukaran informasi tidak optimal;
data pelayanan tersebar;
monitoring pelayanan sulit dilakukan secara terpadu.
3. Sulitnya Monitoring dan Evaluasi Pelayanan
Pimpinan daerah belum memiliki dashboard monitoring real-time untuk memantau:
kondisi pelayanan publik;
progres tindak lanjut;
performa perangkat daerah;
statistik pelayanan masyarakat.
Monitoring masih dilakukan secara manual melalui laporan berjenjang sehingga proses evaluasi membutuhkan waktu lama.
4. Rendahnya Efisiensi Pelayanan Publik
Pelayanan publik masih menghadapi berbagai hambatan seperti:
waktu respon yang lambat;
proses birokrasi panjang;
pelayanan belum berbasis digital;
keterbatasan akses layanan masyarakat.
Kondisi tersebut berdampak terhadap rendahnya efektivitas pelayanan pemerintah daerah.
5. Belum Optimalnya Pemanfaatan Teknologi Informasi
Pemanfaatan teknologi informasi dalam mendukung tata kelola pemerintahan masih terbatas dan belum terintegrasi secara menyeluruh.
Sebagian layanan:
masih berbasis dokumen fisik;
belum menggunakan sistem elektronik;
belum memiliki basis data terintegrasi;
belum mendukung pengelolaan data real-time.
6. Keterbatasan Akses Informasi dan Layanan Masyarakat
Masyarakat mengalami keterbatasan dalam memperoleh:
akses pelayanan;
informasi pemerintah;
kepastian proses layanan;
komunikasi langsung dengan pemerintah daerah.
Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi geografis wilayah Kabupaten Mimika yang luas dan menantang.
B. Kondisi Setelah Adanya Inovasi
Setelah implementasi sistem “Mimika Lapor”, Pemerintah Kabupaten Mimika mulai menerapkan pelayanan publik berbasis digital yang terintegrasi guna meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan masyarakat.
Perubahan yang dihasilkan melalui inovasi ini antara lain:
1. Tersedianya Platform Pelayanan Digital Terintegrasi
“Mimika Lapor” menjadi platform digital terintegrasi yang menghubungkan layanan dan informasi dari berbagai perangkat daerah dalam satu sistem.
Masyarakat dapat mengakses layanan pemerintah secara lebih:
mudah;
cepat;
efisien;
terpusat;
berbasis digital.
2. Peningkatan Efektivitas Koordinasi Antar OPD
Melalui sistem terintegrasi:
distribusi informasi menjadi lebih cepat;
koordinasi pelayanan antar perangkat daerah lebih efektif;
data pelayanan dapat diakses secara terintegrasi;
proses disposisi layanan menjadi lebih terstruktur.
Hal ini meningkatkan efisiensi tata kelola pemerintahan daerah.
3. Tersedianya Dashboard Monitoring Real-Time
Pimpinan daerah dapat memantau kondisi pelayanan dan aktivitas pemerintahan secara real-time melalui dashboard monitoring yang menyediakan:
statistik pelayanan;
data laporan masyarakat;
progres tindak lanjut;
performa perangkat daerah;
informasi pelayanan daerah.
Dashboard tersebut mendukung pengambilan keputusan berbasis data secara lebih cepat dan akurat.
4. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
Implementasi sistem digital membantu meningkatkan kualitas pelayanan melalui:
percepatan proses pelayanan;
penyederhanaan birokrasi;
kemudahan akses layanan;
peningkatan transparansi pelayanan;
pengurangan proses manual.
Masyarakat dapat memperoleh layanan pemerintah dengan lebih efektif dan efisien.
5. Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi
Sistem “Mimika Lapor” mendorong penerapan teknologi informasi dalam tata kelola pemerintahan melalui:
digitalisasi layanan;
integrasi data daerah;
pengelolaan informasi elektronik;
penyimpanan data terpusat;
monitoring berbasis sistem.
Hal ini mendukung percepatan transformasi digital pemerintah daerah.
6. Peningkatan Aksesibilitas Layanan Masyarakat
Masyarakat dapat mengakses layanan pemerintah secara fleksibel melalui perangkat digital tanpa harus datang langsung ke kantor pemerintahan.
Inovasi ini membantu:
memperluas jangkauan pelayanan;
meningkatkan kemudahan akses masyarakat;
mempercepat komunikasi pemerintah dengan masyarakat;
mendukung pelayanan tanpa batas ruang dan waktu.
7. Mendukung Implementasi SPBE dan Smart Governance
Pengembangan “Mimika Lapor” menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Mimika dalam mendukung:
implementasi SPBE;
smart city;
smart governance;
integrasi layanan pemerintahan;
tata kelola pemerintahan berbasis teknologi
KEUNGGULAN/KEBAHARUAN
A. Keunggulan Inovasi
Integrasi Layanan dalam Satu Platform
“Mimika Lapor” mengintegrasikan berbagai layanan dan informasi pemerintah daerah dalam satu sistem sehingga pelayanan menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien.
Mendukung Transformasi Digital Pemerintahan
Sistem ini mendukung digitalisasi pelayanan, integrasi data pemerintahan, dan pengelolaan layanan berbasis elektronik di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mimika.
Pelayanan dan Koordinasi Lebih Cepat
Proses pelayanan, penyampaian informasi, dan koordinasi antar OPD menjadi lebih cepat dan praktis melalui sistem digital terintegrasi.
Monitoring dan Dashboard Real-Time
Pimpinan daerah dapat memantau pelayanan, statistik, dan performa perangkat daerah secara real-time untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Mendukung Smart Governance dan Integrasi Data
Sistem membantu modernisasi tata kelola pemerintahan melalui integrasi layanan, pengelolaan data terpusat, dan peningkatan koordinasi antar OPD.
Mempermudah Akses dan Pengembangan Layanan
Masyarakat dapat mengakses layanan secara digital dari mana saja, serta platform dapat dikembangkan untuk mendukung smart city, command center, dan layanan mobile.
B. Keunikan Inovasi
Dikembangkan Sesuai Kebutuhan Kabupaten Mimika
“Mimika Lapor” dirancang berdasarkan karakteristik dan kebutuhan pelayanan di Kabupaten Mimika sehingga lebih sesuai dengan kondisi daerah.
Menggabungkan Layanan, Informasi, dan Monitoring Pemerintahan
Sistem tidak hanya melayani masyarakat, tetapi juga mendukung monitoring pemerintahan, dashboard pimpinan, dan koordinasi antar perangkat daerah.
Menjadi Fondasi Smart City Kabupaten Mimika
Platform ini dirancang sebagai dasar pengembangan smart city, super app layanan daerah, dan command center pemerintah daerah.
Mendukung Pengambilan Keputusan Berbasis Data
Data pelayanan dapat digunakan untuk evaluasi layanan, monitoring kondisi daerah, dan perencanaan pembangunan secara lebih terukur.
Mengurangi Proses Manual dalam Pelayanan
“Mimika Lapor” membantu pemerintah beralih dari pelayanan manual menuju pelayanan digital dan sistem pemerintahan berbasis teknologi.
CARA KERJA INOVASI
1. Tahap Penerimaan Laporan (Multichannel)
Masyarakat dapat menyampaikan keluhan, kritik, atau saran melalui berbagai saluran resmi yang terintegrasi dalam satu sistem tiket (ticketing system), yaitu:
Aplikasi Web & Mobile: Warga membuat laporan dengan melampirkan bukti foto/dokumen dan menerima kode tiket untuk melacak status laporan.
Whats App Business API: Laporan dikirim via WA dan mendapatkan balasan otomatis dari sistem.
Hotline (Call Center): Operator akan menginput laporan yang masuk melalui telepon langsung ke dalam sistem.
2. Tahap Verifikasi dan Klasifikasi (Integrasi AI)
Laporan yang masuk akan diproses dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (MENO AI) untuk:
Memberikan tanggapan pertama secara otomatis (first response).
Melakukan klasifikasi kategori aduan (seperti Infrastruktur, Kesehatan, atau Pendidikan) secara otomatis.
Menentukan tingkat urgensi laporan (rendah, sedang, tinggi, atau darurat) berdasarkan analisis teks.
3. Tahap Penugasan dan Tindak Lanjut (Eskalasi)
Penugasan: Sistem melalui operator akan meneruskan (assignment) laporan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang relevan.
Tindak Lanjut: Petugas penghubung di setiap OPD wajib merespons dan menindaklanjuti laporan sesuai dengan Batas Waktu Layanan (Service Level Agreement - SLA) yang telah ditetapkan.
Eskalasi: Jika laporan tidak segera ditangani, sistem memiliki alur eskalasi dari operator ke pimpinan OPD atau Pimpinan Daerah.
4. Tahap Pemantauan dan Penyelesaian
Monitoring: Pimpinan dapat memantau jumlah aduan yang masuk, sedang diproses, atau sudah selesai melalui dashboard internal secara real-time.
Pelacakan: Warga sebagai pelapor dapat terus memantau perkembangan status laporannya menggunakan kode tiket yang dimiliki.
Penutupan: Setelah aduan selesai ditangani oleh OPD terkait, laporan akan diverifikasi dan dinyatakan ditutup (closing) dalam sistem.
Tujuan
“Inovasi Mimika Lapor” dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mendukung transformasi digital Pemerintah Kabupaten Mimika melalui sistem pelayanan yang terintegrasi.
Adapun tujuan inovasi ini yaitu:
Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik
Mewujudkan pelayanan yang cepat, efektif, transparan, dan mudah diakses masyarakat.
Mendukung Transformasi Digital Pemerintahan
Mendorong digitalisasi layanan, integrasi sistem pemerintahan, dan pemanfaatan teknologi informasi dalam tata kelola pemerintahan.
Mengintegrasikan Layanan Antar OPD
Memperkuat koordinasi, distribusi informasi, monitoring pelayanan, dan efisiensi birokrasi melalui sistem terintegrasi.
Meningkatkan Aksesibilitas Pelayanan Masyarakat
Mempermudah masyarakat mengakses layanan pemerintah kapan saja dan dari mana saja, termasuk wilayah dengan tantangan geografis.
Mendukung Monitoring dan Pengambilan Keputusan Berbasis Data
Menyediakan data pelayanan secara real-time untuk monitoring, evaluasi kinerja, dan pengambilan kebijakan yang lebih cepat dan akurat.
Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas Pemerintahan
Mendorong pelayanan yang lebih terbuka, terdokumentasi, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Mendukung Implementasi SPBE dan Smart Governance
Mendukung pengembangan SPBE, smart city, smart governance, dan integrasi layanan pemerintahan daerah.
Membangun Basis Data Pelayanan Daerah
Menyediakan data pelayanan terintegrasi untuk mendukung evaluasi pelayanan, analisis kebutuhan masyarakat, dan perencanaan pembangunan daerah.
Manfaat
Implementasi “Mimika Lapor” memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam meningkatkan pelayanan publik dan transformasi digital di Kabupaten Mimika.
A. Manfaat Bagi Pemerintah Daerah
Meningkatkan Efektivitas Pelayanan Publik
Pelayanan menjadi lebih cepat, efisien, terintegrasi, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Mempermudah Koordinasi Antar OPD
Sistem terintegrasi membantu distribusi informasi, monitoring pelayanan, dan pengelolaan data pemerintahan.
Mendukung Monitoring dan Pengambilan Keputusan
Dashboard monitoring menyediakan data pelayanan secara real-time untuk evaluasi, perencanaan, dan pengambilan keputusan berbasis data.
Mendukung SPBE dan Smart Governance
Sistem membantu percepatan transformasi digital, implementasi SPBE, smart city, dan integrasi layanan pemerintahan.
Meningkatkan Efisiensi Tata Kelola Pemerintahan
Digitalisasi layanan mengurangi proses manual, penggunaan dokumen fisik, keterlambatan informasi, dan duplikasi data.
B. Manfaat Bagi Masyarakat
Mempermudah Akses Pelayanan
Masyarakat dapat mengakses layanan pemerintah dengan lebih mudah, cepat, dan fleksibel tanpa harus datang langsung ke kantor.
Meningkatkan Kualitas dan Transparansi Pelayanan
Pelayanan menjadi lebih responsif, transparan, terstruktur, dan mudah dipantau prosesnya.
Mempercepat Akses Informasi Pemerintah
Informasi pemerintah daerah dapat diperoleh lebih cepat melalui platform digital terintegrasi.
Memperluas Jangkauan Pelayanan
Layanan digital membantu masyarakat di wilayah dengan keterbatasan akses geografis tetap memperoleh pelayanan pemerintah.
C. Manfaat Strategis Daerah
Mendukung Transformasi Digital Daerah
“Mimika Lapor” menjadi bagian dari pengembangan pemerintahan digital yang modern dan terintegrasi.
Mendukung Pengembangan Smart City
Sistem mendukung layanan digital, integrasi data daerah, dan monitoring pemerintahan berbasis teknologi.
Meningkatkan Citra Pemerintah Daerah
Inovasi ini menunjukkan komitmen Pemerintah Kabupaten Mimika dalam menghadirkan pemerintahan yang modern, inovatif, dan transparan.
Hasil inovasi
Terwujudnya Platform Pelayanan Digital Terintegrasi
“Mimika Lapor” menghadirkan layanan dan informasi pemerintah daerah dalam satu platform yang lebih mudah diakses masyarakat.
Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
Pelayanan menjadi lebih cepat, mudah, transparan, dan responsif melalui digitalisasi layanan dan pengurangan proses manual.
Meningkatnya Koordinasi Antar OPD
Sistem terintegrasi membantu mempercepat distribusi informasi, mempermudah monitoring, dan meningkatkan koordinasi antar perangkat daerah.
Tersedianya Monitoring dan Dashboard Real-Time
Pemerintah daerah dapat memantau pelayanan, statistik, dan kinerja perangkat daerah secara real-time untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Meningkatnya Pemanfaatan Teknologi Informasi Pemerintahan
Sistem mendukung digitalisasi pelayanan, integrasi data daerah, dan pengelolaan informasi pemerintahan secara elektronik.
Meningkatnya Aksesibilitas dan Transparansi Pelayanan
Masyarakat dapat mengakses layanan secara digital dari mana saja, sementara proses pelayanan menjadi lebih terbuka, efisien, dan terdokumentasi dengan baik.
Mendukung Implementasi SPBE dan Smart Governance
“Mimika Lapor” mendukung pengembangan SPBE, smart city, integrasi layanan pemerintahan, dan tata kelola pemerintahan berbasis digital.
Tersedianya Basis Data Pelayanan Daerah
Sistem membantu pemerintah daerah menyediakan data pelayanan yang dapat digunakan untuk monitoring, evaluasi, dan penyusunan kebijakan berbasis data.
1. DASAR HUKUM
Pelaksanaan inovasi TONG PU ROKET dilandasi oleh berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijakan strategis nasional, sebagai berikut:
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pemerintahan Daerah
Peraturan Menteri PANRB Nomor 30 Tahun 2014 tentang Pedoman Inovasi Pelayanan Publik
Peraturan Menteri PANRB Nomor 5 Tahun 2023 tentang Inovasi Pelayanan Publik
Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2021 tentang Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia
Roadmap Inovasi Nasional 2025-2045 (Kemenristek/BRIN)
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Mimika Tahun 2023-2028
Peraturan Bupati Mimika tentang Pembentukan dan Tata Kelola BRIDA
2. PERMASALAHAN
a. Permasalahan Makro
Pada tataran makro, ekosistem riset dan inovasi di Kabupaten Mimika menghadapi tantangan struktural yang signifikan:
Fragmentasi Sistem Riset dan Inovasi: Data riset dan inovasi tersebar di berbagai institusi tanpa integrasi.
Disjungsi Penelitian-Kebijakan: Hasil riset kurang terlihat dalam pengambilan keputusan kebijakan publik.
Kurangnya Kolaborasi Multi-Sektor: Kolaborasi pentahelix masih terbatas dan tidak terstruktur.
Rendahnya Output Riset: Publikasi ilmiah dan HKI masih jauh di bawah potensi daerah.
Kesulitan Hilirisasi Inovasi: Inovasi yang dihasilkan sulit diakses dan diimplementasikan.
Transformasi Digital Tertinggal: BRIDA dan OPD belum memanfaatkan teknologi digital secara optimal.
b. Permasalahan Mikro
Pada level operasional, permasalahan yang dihadapi oleh BRIDA Kabupaten Mimika mencakup:
Tidak Adanya Portal Riset Terpadu: Peneliti dan OPD harus mengurus berbagai layanan ke tempat yang berbeda.
Manajemen Data Manual: Pencatatan hasil penelitian masih manual dan tidak terstruktur.
Kapasitas SDM Terbatas: Keterbatasan SDM BRIDA dalam mengelola sistem riset modern.
Infrastruktur Teknologi Minimal: BRIDA belum memiliki infrastruktur IT yang memadai.
Komunikasi Internal Lemah: Koordinasi antar unit BRIDA kurang efektif.
Monitoring dan Evaluasi Lemah: Belum ada mekanisme sistematis untuk monitoring real-time.
3. ISU STRATEGIS
a. Isu Global
Transformasi Digital Global: Dunia mengalami akselerasi transformasi digital dalam semua sektor.
Ekonomi Berbasis Pengetahuan: Pertumbuhan ekonomi semakin bergantung pada kapasitas inovasi.
Sustainable Development Goals (SDGs): Agenda pembangunan berkelanjutan mendorong integrasi riset.
Open Science & Collaborative Research: Tren mengarah pada kolaborasi penelitian terbuka dan multi-disiplin.
b. Isu Nasional
Visi Merdeka Belajar dan Riset: Kemenristek/BRIN menempatkan daerah sebagai pusat inovasi lokal.
Indeks Inovasi Daerah (IID): Pemerintah menilai kinerja daerah melalui IID.
Satu Data Indonesia: Mendorong integrasi data di seluruh lembaga pemerintah.
Gerakan BBI (Bangga Buatan Indonesia): Program presidensial mendorong produk unggulan yang inovatif.
SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik): Transformasi digital pemerintahan menjadi mandatory.
c. Isu Lokal
Potensi Kekayaan Alam & Sumber Daya Lokal: Kabupaten Mimika dapat menjadi basis riset dan inovasi lokal.
Kebutuhan Solusi Lokal: Permasalahan pembangunan memerlukan riset dan inovasi berbasis solusi lokal.
Peluang Dana Otonomi Khusus: Alokasi Dana Otonomi Khusus Papua untuk program inovatif.
Urgensi Kemandirian Daerah: Mimika perlu membangun kapasitas riset lokal untuk pembangunan berkelanjutan.
4. METODE PEMBAHARUAN
TONG PU ROKET menghadirkan transformasi fundamental dalam tata kelola ekosistem riset dan inovasi di Kabupaten Mimika, melampaui model konvensional.Yang sebelumnya bernama Sirida Kami, namun sekarang mengalami pengembangan.
a. Perbandingan Sebelum dan Sesudah Penerapan Inovasi
SEBELUM: Portal riset terpisah-pisah untuk setiap layanan
SESUDAH: Portal riset digital terpadu (one-stop service)
SEBELUM: Data riset manual, tidak terstruktur, tersebar di berbagai tempat
SESUDAH: Bank data penelitian terpusat, terstruktur, mudah diakses dan dicari
SEBELUM: Inovasi OPD tidak terdokumentasi dengan baik
SESUDAH: Bank Inovasi Daerah dengan registry lengkap dan TRL assessment
SEBELUM: Monitoring riset manual, tidak real-time
SESUDAH: Dashboard riset real-time dengan visualisasi comprehensive
SEBELUM: HKI diproses secara ad-hoc tanpa sistem terpadu
SESUDAH: Dashboard HKI dengan tracking terintegrasi
SEBELUM: Kolaborasi pentahelix tidak terstruktur dan sporadis
SESUDAH: Platform kolaborasi pentahelix digital yang terfasilitasi sistematis
SEBELUM: Pencatatan kemajuan penelitian tidak terjadwal dan tidak akurat
SESUDAH: Sistem monitoring penelitian digital dengan early warning system
SEBELUM: Hasil riset jarang dikonversi menjadi policy brief
SESUDAH: Policy Brief Center untuk produksi rekomendasi kebijakan sistematis
SEBELUM: Naskah akademik tidak terstandar
SESUDAH: Platform naskah akademik digital dengan template dan guideline standar
SEBELUM: Tidak ada peta jalan riset yang terekspos publik
SESUDAH: Peta jalan riset daerah terintegrasi dengan SDGs dan program nasional
SEBELUM: Pendampingan riset tidak sistematis
SESUDAH: Platform pendampingan digital menghubungkan peneliti dengan mentor profesional
SEBELUM: KPI BRIDA tidak terintegrasi dalam satu dashboard
SESUDAH: Indikator kinerja terintegrasi dengan real-time dashboard dan automated reporting
5. KEUNGGULAN / KEBAHARUAN
TONG PU ROKET memiliki keunggulan dan aspek kebaharuan yang membedakannya dari sistem manajemen riset konvensional maupun inovasi sejenis di daerah lain:
1. Integrasi 12 Komponen Digital Kohesif: Inovasi pertama yang mengintegrasikan dua belas komponen digital yang saling terhubung dalam satu ekosistem riset dan inovasi yang kohesif.
2. One-Stop Service Digital: Memberikan single point of entry untuk semua layanan riset.
3. Dashboard Real-Time: Visualisasi data riset real-time yang comprehensive.
4. Platform Kolaborasi Pentahelix Digital: Menghubungkan lima pemangku kepentingan.
5. Policy Brief Center: Unit khusus mengkonversi hasil riset menjadi policy brief.
6. Sistem Monitoring Otomatis: Pelacakan real-time dengan early warning system.
7. Bank Data Penelitian Terpusat: Repository metadata penelitian yang terstruktur.
8. Bank Inovasi Daerah: Sistem database mendokumentasikan semua inovasi OPD.
9. Platform Pendampingan Digital: Menghubungkan peneliti dengan mentor profesional.
10. Alignment dengan SDGs: Peta jalan riset tervisualisasi dengan jelas.
11. Filosofi Gotong Royong: Nilai-nilai lokal dalam desain ekosistem digital.
12. Scalability & Interoperability: Arsitektur teknologi yang scalable dan interoperable.
6. CARA KERJA INOVASI
TONG PU ROKET beroperasi melalui alur layanan end-to-end yang sistematis, meliputi sepuluh tahapan:
TAHAP 1 - Registrasi & Identifikasi Kebutuhan: Peneliti atau OPD melakukan registrasi di portal. Sistem melakukan intake interview. Data diinput otomatis.
TAHAP 2 - Penugasan Pendamping & Perencanaan: Sistem otomatis mencocokkan kebutuhan dengan kompetensi pendamping.
TAHAP 3 - Konsultasi & Pendampingan: Konsultasi dilakukan secara daring melalui video conference dan chat.
TAHAP 4 - Kolaborasi & Networking: Klien mengakses platform kolaborasi pentahelix.
TAHAP 5 - Pelaksanaan Penelitian & Monitoring: Progress monitoring dilakukan real-time melalui dashboard.
TAHAP 6 - Publikasi Ilmiah: Platform menyediakan template, guideline, dan tool.
TAHAP 7 - Perlindungan HKI: Dashboard HKI membantu identifikasi dan tracking.
TAHAP 8 - Rekomendasi Kebijakan: Policy Brief Center mengkonversi hasil riset.
TAHAP 9 - Hilirisasi & Implementasi Inovasi: Inovasi diintegrasikan ke operasional OPD.
TAHAP 10 - Monitoring, Evaluasi & Pembelajaran: Data dianalisis untuk pembelajaran organisasi.
Tujuan
TUJUAN 1: Transformasi Organisasi BRIDA Berbasis Nilai Gotong Royong
Mengubah budaya kerja BRIDA menjadi organisasi yang kolaboratif, mendukung inovasi, dan berorientasi pada hasil.
TUJUAN 2: Integrasi Semua Data Riset & Inovasi dalam Satu Ekosistem Digital
Membangun infrastruktur teknologi informasi yang mengintegrasikan semua data riset dan inovasi dalam satu platform terpusat.
TUJUAN 3: Perkuat Budaya Penelitian & Inovasi di Semua Level Organisasi
Meningkatkan jumlah ASN, peneliti, dan inovator yang terlibat aktif dalam kegiatan riset dan inovasi.
TUJUAN 4: Tingkatkan Kualitas Kebijakan Berbasis Bukti (Evidence-Based Policy)
Memfasilitasi linkage antara penelitian dan pengambilan kebijakan sehingga kebijakan publik semakin berbasis bukti empiris.
TUJUAN 5: Dorong Kolaborasi Pentahelix yang Efektif & Terukur
Membangun ekosistem riset dan inovasi yang melibatkan lima pemangku kepentingan utama dalam sinergi yang terukur.
TUJUAN 6: Tingkatkan HKI, Publikasi Ilmiah & Inovasi Daerah
Meningkatkan jumlah dan kualitas output penelitian: publikasi ilmiah, pendaftaran HKI, dan inovasi yang diakui dan diimplementasikan.
Manfaat
1. Manfaat bagi Pemerintah Daerah
Kebijakan publik yang lebih berkualitas, efektif, dan efisien berbasis bukti empiris
Peningkatan Indeks Inovasi Daerah yang menjadi indikator daya saing regional
Efisiensi alokasi anggaran riset melalui koordinasi dan eliminasi duplikasi
Peningkatan reputasi dan kredibilitas pemerintah daerah
2. Manfaat bagi BRIDA
Penguatan fungsi sebagai pusat koordinasi riset dan inovasi daerah yang kredibel
Basis data riset dan inovasi yang komprehensif untuk analisis dan perencanaan strategis
Peningkatan efektivitas program dan layanan BRIDA melalui monitoring real-time
Kapabilitas organisasi yang lebih modern dan profesional
3. Manfaat bagi OPD
Akses ke layanan riset dan inovasi profesional yang mudah dan terjangkau
Peningkatan kapabilitas dalam penyusunan kajian dan kebijakan berbasis riset
Solusi inovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan operasional
Recognition dan insentif untuk kontribusi inovasi
4. Manfaat bagi Perguruan Tinggi
Peluang kolaborasi penelitian dengan pemerintah daerah yang terstruktur
Publikasi bersama yang meningkatkan output dan impact penelitian
Koneksi dengan sektor swasta untuk hilirisasi penelitian
Peluang funding dan grant dari pemerintah daerah
5. Manfaat bagi Industri & Pelaku Usaha
Akses ke hasil riset dan teknologi terbaru untuk inovasi produk
Kolaborasi dengan peneliti untuk R&D dan problem solving
Peluang hilirisasi dan commercialization teknologi
Kontribusi pada inovasi daerah yang meningkatkan kompetitivitas
6. Manfaat bagi Masyarakat
Akses ke layanan konsultasi dan pendampingan riset
Pendampingan pengembangan inovasi dari ide hingga implementasi
Perlindungan HKI untuk karya dan inovasi lokal
Peningkatan kesejahteraan melalui akses hasil riset dan inovasi
Hasil inovasi
Implementasi TONG PU ROKET diproyeksikan akan menghasilkan:
Peningkatan signifikan dalam jumlah dan kualitas penelitian daerah
Peningkatan publikasi ilmiah nasional dan internasional
Peningkatan perolehan HKI dan perlindungan aset kekayaan intelektual
Dokumentasi dan implementasi inovasi OPD yang lebih terukur
Peningkatan Indeks Inovasi Daerah secara signifikan
Kebijakan daerah yang semakin berbasis bukti dan evidence
Ekosistem riset dan inovasi yang lebih kuat melalui kolaborasi pentahelix
KREASI KAMI (KLINIK RISET DAN INOVASI KABUPATEN MIMIKA)
ujicoba
Inovasi pelayanan publik
2026-06-09
34
Ringkasan Inovasi
Nama inovasi
KREASI KAMI (KLINIK RISET DAN INOVASI KABUPATEN MIMIKA)
Nama OPD
Badan Riset dan Inovasi Daerah
Tahapan
ujicoba
Uji coba
2026-04-20
Penerapan
2026-06-09
Urusan
Penelitian dan pengembangan
Inisiator
opd
Jenis inovasi
nondigital
Bentuk inovasi
inovasi pelayanan publik
Rancang bangun
1. Dasar Hukum
Rancang bangun Klinik Riset dan Inovasi Kabupaten Mimika berlandaskan pada:
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021 tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional
Peraturan Menteri Dalam Negeri mengenai BRIDA
Peraturan Daerah Kabupaten Mimika tentang RPJMD
Peraturan Bupati Mimika mengenai BRIDA
Renstra BRIDA Kabupaten Mimika
Roadmap Riset Daerah Kabupaten Mimika
2. Permasalahan
a. Permasalahan Makro
Budaya riset di daerah masih rendah
Hasil penelitian belum dimanfaatkan dalam kebijakan
Kolaborasi riset pemerintah–kampus masih terbatas
Publikasi ilmiah Papua Tengah masih rendah
HKI hasil penelitian masih minim
Inovasi daerah belum terdokumentasi secara optimal
b. Permasalahan Mikro
ASN belum terbiasa menyusun proposal penelitian
OPD kesulitan menyusun naskah akademik
Mahasiswa kesulitan analisis data
Peneliti belum memperoleh pendampingan publikasi
Belum ada klinik riset terpadu di Kabupaten Mimika
Pendampingan HKI masih terbatas
3. Isu Strategis
a. Isu Global
Sustainable Development Goals (SDGs)
Evidence-Based Policy
Open Science
Digital Research
Artificial Intelligence dalam penelitian
b. Isu Nasional
Penguatan BRIDA
Transformasi Digital
Asta Cita Pemerintah
Prioritas Nasional IPTEK
Hilirisasi Riset
c. Isu Lokal
Optimalisasi riset potensi Mimika
Biodiversitas
Pertambangan berkelanjutan
Ketahanan pangan
Ekonomi masyarakat adat
Perubahan iklim
Hilirisasi hasil riset daerah
4. Metode Pembaharuan
Rancang bangun ini menerapkan model transformasi dari status quo menuju layanan terintegrasi:
SEBELUM
SESUDAH
Konsultasi riset tidak terintegrasi Klinik riset satu pintu
Proposal disusun sendiri Pendampingan oleh BRIDA
Analisis data terbatas Pendampingan statistik dan kualitatif
HKI belum difasilitasi Pendampingan HKI
OPD menyusun naskah akademik sendiri Klinik Naskah Akademik
Inovasi tidak terdokumentasi Database inovasi daerah
5. Keunggulan dan Kebaharuan Inovasi
Klinik Riset dan Inovasi Kabupaten Mimika menawarkan 10 layanan unggulan terintegrasi:
Klinik Riset Terintegrasi – layanan one-stop untuk semua konsultasi riset
Klinik Proposal – pendampingan penyusunan proposal penelitian
Klinik Statistik – konsultasi analisis data kuantitatif
Klinik Artikel Ilmiah – pendampingan penulisan dan publikasi artikel
Klinik HKI – perlindungan hak kekayaan intelektual hasil penelitian
Klinik Inovasi OPD – dokumentasi dan pengembangan inovasi di OPD
Klinik Kebijakan – konsultasi untuk kebijakan berbasis bukti
Klinik Hilirisasi – pendampingan implementasi hasil riset
Klinik Kolaborasi Pentahelix – pembangunan ekosistem riset dan inovasi
Klinik Digital – konsultasi daring untuk aksesibilitas maksimal
6. Cara Kerja Inovasi
Alur Layanan Klinik Riset dan Inovasi:
Registrasi → Identifikasi kebutuhan → Penugasan pendamping → Klinik konsultasi → Penyempurnaan dokumen → Review ahli → Finalisasi → Monitoring → Evaluasi → Publikasi/HKI
Tujuan
Klinik Riset dan Inovasi Kabupaten Mimika memiliki tujuan strategis sebagai berikut:
Meningkatkan kualitas dan relevansi penelitian di tingkat daerah
Meningkatkan inovasi daerah yang bermanfaat bagi masyarakat
Mendukung pengembangan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy)
Meningkatkan perolehan Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
Memperkuat kolaborasi riset antara pemerintah, kampus, industri, dan masyarakat
Mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat lokal
Meningkatkan daya saing dan competitiveness Kabupaten Mimika
Manfaat
1. Manfaat bagi Pemerintah Daerah
Kebijakan publik menjadi lebih berkualitas dan berbasis data
Efisiensi penggunaan anggaran riset dan inovasi
Peningkatan Indeks Inovasi Daerah di tingkat nasional
2. Manfaat bagi BRIDA
Penguatan fungsi koordinasi riset dan inovasi di daerah
Pembangunan basis data riset dan inovasi daerah yang komprehensif
Pengembangan jejaring kolaborasi riset pentahelix
3. Manfaat bagi OPD
Pendampingan profesional dalam penyusunan kajian dan penelitian
Fasilitasi penyusunan naskah akademik yang berkualitas
Penyelesaian masalah strategis berbasis riset dan bukti
4. Manfaat bagi Perguruan Tinggi
Peluang kolaborasi penelitian dengan pemerintah daerah
Publikasi bersama hasil penelitian
Pengabdian kepada masyarakat berbasis riset
5. Manfaat bagi Masyarakat
Akses konsultasi dan pendampingan riset
Pendampingan pengembangan inovasi di tingkat komunitas
Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari karya masyarakat
Hilirisasi dan implementasi hasil penelitian untuk kesejahteraan masyarakat
6. Manfaat Jangka Panjang
Terbentuknya ekosistem riset dan inovasi yang kuat di Kabupaten Mimika
Peningkatan signifikan Indeks Inovasi Daerah
Terwujudnya pembangunan berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi
1. Manfaat bagi Pemerintah Daerah
Kebijakan publik menjadi lebih berkualitas dan berbasis data
Efisiensi penggunaan anggaran riset dan inovasi
Peningkatan Indeks Inovasi Daerah di tingkat nasional
2. Manfaat bagi BRIDA
Penguatan fungsi koordinasi riset dan inovasi di daerah
Pembangunan basis data riset dan inovasi daerah yang komprehensif
Pengembangan jejaring kolaborasi riset pentahelix
3. Manfaat bagi OPD
Pendampingan profesional dalam penyusunan kajian dan penelitian
Fasilitasi penyusunan naskah akademik yang berkualitas
Penyelesaian masalah strategis berbasis riset dan bukti
4. Manfaat bagi Perguruan Tinggi
Peluang kolaborasi penelitian dengan pemerintah daerah
Publikasi bersama hasil penelitian
Pengabdian kepada masyarakat berbasis riset
5. Manfaat bagi Masyarakat
Akses konsultasi dan pendampingan riset
Pendampingan pengembangan inovasi di tingkat komunitas
Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari karya masyarakat
Hilirisasi dan implementasi hasil penelitian untuk kesejahteraan masyarakat
6. Manfaat Jangka Panjang
Terbentuknya ekosistem riset dan inovasi yang kuat di Kabupaten Mimika
Peningkatan signifikan Indeks Inovasi Daerah
Terwujudnya pembangunan berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi
Hasil inovasi
Target pencapaian Klinik Riset dan Inovasi diukur melalui indikator kinerja berikut:
Jumlah proposal penelitian yang didampingi
Jumlah artikel ilmiah yang dipublikasikan
Jumlah HKI yang didaftarkan
Jumlah inovasi OPD yang terdokumentasi
Jumlah naskah akademik yang dihasilkan
Jumlah policy brief yang disusun
Jumlah kerja sama penelitian antar institusi
Tingkat kepuasan pengguna layanan klinik
SMART BRIDA (Layanan Riset dan Inovasi Daerah secara Cepat, Mudah, Terintegrasi dan Transparan melalui Loket MPP)
ujicoba
Inovasi pelayanan publik
2026-03-11
Ringkasan Inovasi
Nama inovasi
SMART BRIDA (Layanan Riset dan Inovasi Daerah secara Cepat, Mudah, Terintegrasi dan Transparan melalui Loket MPP)
Nama OPD
Badan Riset dan Inovasi Daerah
Tahapan
ujicoba
Uji coba
2026-01-27
Penerapan
2026-03-11
Urusan
Penelitian dan pengembangan
Inisiator
opd
Jenis inovasi
nondigital
Bentuk inovasi
inovasi pelayanan publik
Rancang bangun
1. DASAR HUKUM
Pelaksanaan inovasi SMART BRIDA dilandasi oleh berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijakan strategis nasional, sebagai berikut:
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
Peraturan Menteri PANRB Nomor 30 Tahun 2014 tentang Pedoman Inovasi Pelayanan Publik
Peraturan Menteri PANRB Nomor 5 Tahun 2023 tentang Inovasi Pelayanan Publik di Lingkungan Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik (OSS)
Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Mimika Tahun 2023-2028
Peraturan Bupati Mimika tentang Pembentukan dan Tata Kelola BRIDA
Peraturan Bupati Mimika tentang Sistem Pelayanan Publik Terpadu Satu Pintu (SPP-TP) atau Mal Pelayanan Publik (MPP)
2. PERMASALAHAN
a. Permasalahan Makro
Pada tataran makro, layanan BRIDA di Kabupaten Mimika menghadapi tantangan dalam aksesibilitas dan efisiensi layanan publik:
Fragmentasi Layanan Publik: Masyarakat harus mengakses berbagai layanan pemerintah di tempat yang berbeda, mengurangi efisiensi dan kepuasan pelanggan.
Keterbatasan Akses Informasi: Peneliti, OPD, dan masyarakat kesulitan mengakses informasi lengkap tentang layanan BRIDA yang tersedia.
Rendahnya Kesadaran Masyarakat: Masyarakat umum masih kurang menyadari pentingnya riset dan inovasi dalam memecahkan masalah lokal.
Inefisiensi Waktu Layanan: Proses layanan riset dan inovasi masih memerlukan waktu yang lama karena belum terintegrasi dalam sistem fast-track.
Tarif Layanan Tidak Transparan: Belum adanya tarif layanan yang jelas dan transparan untuk setiap jenis layanan BRIDA.
b. Permasalahan Mikro
Pada level operasional, BRIDA menghadapi kendala dalam memberikan layanan melalui sistem loket MPP:
Tidak Ada Integrasi Sistem: BRIDA belum terintegrasi dalam sistem informasi MPP/loket pelayanan terpadu yang sudah ada.
Petugas Loket Tidak Terlatih: Petugas loket MPP belum dilatih untuk menangani layanan BRIDA secara komprehensif.
Dokumentasi Layanan Tidak Standar: Belum ada SOP yang jelas untuk layanan BRIDA di loket MPP.
Kurangnya Konten Promosi: Materi promosi dan edukasi tentang layanan BRIDA belum tersedia di loket MPP.
Feedback Mechanism Lemah: Belum ada sistem yang jelas untuk menampung feedback dan keluhan pengguna layanan BRIDA di loket.
3. ISU STRATEGIS
a. Isu Global
Government 4.0 & Digital Service Delivery: Dunia mengalami transformasi dalam cara pemerintah memberikan layanan publik melalui sistem terintegrasi dan digital.
One-Stop Service Model: Model loket terpadu menjadi standar global untuk meningkatkan efisiensi dan kepuasan pelanggan.
Citizen-Centric Government: Pemerintah modern berfokus pada kemudahan akses bagi warga dan transparansi layanan publik.
b. Isu Nasional
Reforma Birokrasi: Pemerintah Indonesia melakukan reformasi birokrasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Sistem Informasi Pelayanan Publik Terpadu: Pemerintah mengintegrasikan layanan publik di berbagai tingkatan melalui sistem loket terpadu.
Peningkatan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM): IKM menjadi indikator kinerja utama pemerintah daerah dalam memberikan layanan publik.
Transformasi Digital Pelayanan Publik: E-government dan digitalisasi layanan publik menjadi prioritas nasional.
c. Isu Lokal
Komitmen Kabupaten Mimika: Kabupaten Mimika berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui inovasi dan integrasi sistem.
Peningkatan Transparansi: Masyarakat Mimika menuntut transparansi dan kemudahan akses dalam pelayanan publik pemerintah daerah.
Pemberdayaan Masyarakat dalam Riset dan Inovasi: Perlu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan riset dan inovasi lokal.
4. METODE PEMBAHARUAN
SMART BRIDA menghadirkan transformasi fundamental dalam cara pemerintah memberikan layanan riset dan inovasi kepada masyarakat dengan menerapkan standar SMART (Service Excellence, Modern, Accessible, Responsive, Transparent).
a. Perbandingan Sebelum dan Sesudah Penerapan Inovasi SMART BRIDA
SEBELUM: Layanan tersebar di berbagai lokasi dengan akses yang sulit
SESUDAH: SMART BRIDA mengintegrasikan layanan dalam loket MPP yang terpusat dan mudah diakses
SEBELUM: Informasi layanan tersebar dan tidak lengkap
SESUDAH: Informasi komprehensif tersedia di satu tempat dengan materi promosi yang menarik
SEBELUM: Proses manual dan waktu layanan tidak terstandar
SESUDAH: Proses digital dan otomatis dengan SLA (Service Level Agreement) yang jelas
SEBELUM: Tarif tidak jelas dan tidak transparan
SESUDAH: Tarif terstandar, transparan, dan dipublikasikan dengan jelas
SEBELUM: Petugas tidak memahami layanan BRIDA
SESUDAH: Petugas profesional terlatih dan tersertifikasi dalam memberikan layanan BRIDA
SEBELUM: Kesadaran masyarakat tentang layanan BRIDA rendah
SESUDAH: Program promosi dan edukasi berkelanjutan meningkatkan kesadaran masyarakat
SEBELUM: Tidak ada data terstruktur tentang pengguna layanan
SESUDAH: Data terintegrasi dalam sistem untuk analisis, monitoring, dan perencanaan yang lebih baik
5. KEUNGGULAN / KEBAHARUAN
SMART BRIDA memiliki keunggulan dan aspek kebaharuan yang membedakannya dari model layanan konvensional:
1. Aksesibilitas Terpadu Penuh: Semua layanan BRIDA dapat diakses dalam satu lokasi MPP tanpa perlu mengunjungi berbagai tempat.
2. Platform Digital Terintegrasi: Sistem informasi SMART BRIDA yang terintegrasi dengan loket MPP memudahkan pengelolaan data dan komunikasi.
3. Transparansi Penuh (Full Transparency): Tarif, waktu proses, dan syarat-syarat layanan dijelaskan dengan transparan dan dipublikasikan di loket.
4. Petugas Profesional Terlatih: Petugas loket MPP menerima pelatihan intensif tentang layanan BRIDA dan kompeten memberikan konsultasi awal.
5. Standar Layanan Terukur (SLA): Waktu respons dan penyelesaian layanan distandarkan dan dipublikasikan untuk menjamin kualitas.
6. Program Edukasi dan Promosi: Program sosialisasi dan edukasi tentang riset dan inovasi dilakukan secara rutin dan terencana.
7. Sistem Feedback dan Improvement Terstruktur: Mekanisme pengumpulan feedback dan penanganan keluhan terintegrasi dalam sistem.
8. Dashboard Monitoring Real-Time: Kepala BRIDA dapat memonitor kinerja layanan secara real-time melalui dashboard sistem.
9. Dokumentasi dan Pelaporan Lengkap: Semua transaksi tercatat untuk keperluan evaluasi, pelaporan, dan akuntabilitas publik.
10. Inovasi Pertama di Papua Tengah: SMART BRIDA adalah inovasi pertama mengintegrasikan layanan BRIDA dalam sistem loket pelayanan publik terpadu di wilayah Papua Tengah.
6. CARA KERJA INOVASI SMART BRIDA
SMART BRIDA beroperasi melalui alur layanan terintegrasi yang sistematis dan terstandar, meliputi sepuluh tahapan berikut:
TAHAP 1 - Smart Reception (Penerimaan Cerdas): Pengunjung tiba di loket MPP dan disambut oleh petugas profesional yang memberikan informasi lengkap tentang layanan SMART BRIDA.
TAHAP 2 - Smart Registration (Registrasi Cerdas): Petugas loket menerima permohonan dan mengisinya dalam formulir digital standar dengan bantuan sistem otomatis.
TAHAP 3 - Smart Verification (Verifikasi Cerdas): Sistem otomatis memeriksa kelengkapan dokumen dan memberikan informasi instant kepada pengguna tentang status kelengkapan.
TAHAP 4 - Smart Recording (Pencatatan Cerdas): Data permohonan dicatat dalam sistem SMART BRIDA dengan nomor registrasi unik dan waktu jatuh tempo layanan otomatis terhitung.
TAHAP 5 - Smart Routing (Pengarahan Cerdas): Sistem otomatis mengarahkan berkas ke divisi BRIDA yang bersangkutan berdasarkan jenis layanan yang diminta.
TAHAP 6 - Smart Processing (Pemrosesan Cerdas): Tim BRIDA memproses permohonan sesuai dengan SLA yang telah ditetapkan dan terdokumentasi dalam sistem.
TAHAP 7 - Smart Update (Pembaruan Cerdas): Status permohonan diupdate secara otomatis dalam sistem dan dapat diakses pengguna melalui portal atau SMS notifikasi.
TAHAP 8 - Smart Delivery (Pengiriman Cerdas): Hasil layanan siap untuk diambil atau dikirim dengan notifikasi otomatis dikirim kepada pengguna.
TAHAP 9 - Smart Feedback (Umpan Balik Cerdas): Pengguna diminta memberikan rating dan feedback tentang kualitas layanan melalui sistem digital yang mudah.
TAHAP 10 - Smart Analytics (Analitik Cerdas): Data layanan dianalisis secara berkala menggunakan dashboard analytics untuk continuous improvement dan perencanaan strategis.
Tujuan
TUJUAN 1: Service Excellence – Memberikan Pelayanan Prima Riset dan Inovasi
Meningkatkan standar kualitas layanan BRIDA melalui petugas profesional, proses terstandar, dan kepuasan pelanggan yang terukur secara berkelanjutan.
TUJUAN 2: Modern & Digital – Transformasi Digital Pelayanan BRIDA
Menerapkan teknologi digital terkini dalam setiap aspek layanan BRIDA, dari registrasi hingga pelaporan, untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi beban administratif.
TUJUAN 3: Accessible – Meningkatkan Aksesibilitas Layanan BRIDA untuk Semua
Membuat layanan BRIDA mudah diakses oleh peneliti, OPD, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat umum melalui satu pintu loket MPP yang terpusat.
TUJUAN 4: Responsive – Memberikan Respons Cepat dan Tanggap Terhadap Kebutuhan
Menetapkan dan memenuhi standar waktu layanan yang terukur, merespons feedback dengan cepat, dan terus melakukan perbaikan berdasarkan masukan pengguna.
TUJUAN 5: Transparent – Menciptakan Transparansi dan Akuntabilitas Penuh
Memberikan informasi yang jelas dan transparan tentang tarif, proses, dan hasil layanan, serta mempertanggungjawabkan kinerja kepada publik melalui laporan berkala.
Manfaat
1. Manfaat bagi Masyarakat Umum dan Komunitas Inovasi
Kemudahan akses layanan BRIDA dalam satu lokasi tanpa perlu mengunjungi berbagai tempat
Informasi layanan yang jelas, transparan, dan mudah dipahami tersedia 24/7
Waktu tunggu dan proses layanan yang terstandar dan dapat diprediksi
Program edukasi berkelanjutan tentang pentingnya riset dan inovasi dalam pemecahan masalah lokal
2. Manfaat bagi Peneliti dan Akademisi
Akses mudah ke konsultasi riset dan pendampingan akademik profesional
Informasi komprehensif tentang peluang riset, sumber daya, dan pendanaan yang tersedia
Proses layanan yang efisien dan transparan dengan waktu respons yang terukur
3. Manfaat bagi OPD (Organisasi Perangkat Daerah)
Akses mudah ke layanan riset dan inovasi untuk mendukung pengembangan kebijakan berbasis bukti
Koordinasi yang lebih baik dengan BRIDA dalam mengidentifikasi solusi inovasi untuk meningkatkan efisiensi operasional
Kemudahan dalam mengakses data dan analisis penelitian untuk pengambilan keputusan
4. Manfaat bagi Dunia Usaha dan Industri
Akses ke hasil riset dan teknologi terbaru untuk inovasi produk dan layanan bisnis
Peluang kolaborasi dengan peneliti dan akademisi untuk R&D dan pengembangan produk
Informasi tentang peluang hilirisasi dan commercialization teknologi dari hasil penelitian
5. Manfaat bagi BRIDA dan Pemerintah Daerah
Peningkatan visibilitas dan brand awareness layanan BRIDA di kalangan luas
Peningkatan jumlah pengguna layanan BRIDA dengan jangkauan yang lebih luas dan efektif
Efisiensi operasional BRIDA melalui otomasi proses dan integrasi sistem dalam loket MPP
Data terstruktur dan feedback lengkap untuk continuous improvement dan perencanaan strategis
Peningkatan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) melalui layanan publik yang terintegrasi dan berkualitas
Pencapaian target reformasi birokrasi dan transformasi digital pemerintah daerah
Hasil inovasi
1. Integrasi Penuh Layanan BRIDA dalam Ekosistem Loket MPP
Semua layanan BRIDA terintegrasi dalam sistem informasi loket MPP dengan database terpusat dan real-time synchronization
Portal SMART BRIDA dapat diakses 24/7 dengan uptime 99.9% untuk informasi layanan dan status permohonan
Petugas loket MPP dapat mengakses dan mengelola semua layanan BRIDA melalui interface yang user-friendly
2. Peningkatan Signifikan Aksesibilitas dan Kenyamanan Layanan
Minimal 80% pengguna layanan BRIDA melaporkan peningkatan kemudahan mengakses layanan melalui SMART BRIDA
Waktu tunggu informasi layanan berkurang dari rata-rata 30 menit menjadi
SIRIDA KAMI#Reborn (SISTEM INFORMASI RISET DAN INOVASI DAERAH KABUPATEN MIMIKA)
ujicoba
Inovasi pelayanan publik
2026-06-09
Ringkasan Inovasi
Nama inovasi
SIRIDA KAMI#Reborn (SISTEM INFORMASI RISET DAN INOVASI DAERAH KABUPATEN MIMIKA)
Nama OPD
Badan Riset dan Inovasi Daerah
Tahapan
ujicoba
Uji coba
2026-03-17
Penerapan
2026-06-09
Urusan
Penelitian dan pengembangan
Inisiator
opd
Jenis inovasi
digital
Bentuk inovasi
inovasi pelayanan publik
Rancang bangun
1. DASAR HUKUM
Pelaksanaan inovasi SIRIDA KAMI#Reborn dilandasi oleh berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijakan strategis sebagai berikut:
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik
Peraturan Menteri PANRB Nomor 30 Tahun 2014 tentang Pedoman Inovasi Pelayanan Publik
Permendagri Nomor 104 Tahun 2018 mengatur tentang Penilaian dan Pemberian Penghargaan dan/atau Insentif Inovasi Daerah
Peraturan Menteri PANRB Nomor 5 Tahun 2023 tentang Inovasi Pelayanan Publik di Lingkungan Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah
Peraturan Daerah Kabupaten Mimika Nomor 9 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Mimika Tahun 2025-2029
Peraturan Daerah Kabupaten Mimika Nomor 10 Tahun 2025 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah
Peraturan Bupati Mimika Nomor 45 Tahun 2024 tentang Inovasi Daerah
Peraturan Bupati Mimika Nomor 93 Tahun 2025 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Uraian Tugas serta Tata Kerja Badan Riset dan Inovasi Daerah
2. PERMASALAHAN
a. Permasalahan Makro
Permasalahan makro merupakan persoalan strategis yang memengaruhi tata kelola riset dan inovasi daerah secara menyeluruh.
Tata kelola riset dan inovasi daerah belum terintegrasi dalam satu ekosistem digital yang berkelanjutan, sehingga proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, hingga pelaporan inovasi masih berjalan secara parsial.
Belum optimalnya budaya inovasi pada perangkat daerah, distrik, BLUD, sekolah, maupun pemangku kepentingan lainnya, yang berdampak pada rendahnya kualitas dan kuantitas inovasi daerah.
Perpindahan kewenangan pengelolaan urusan riset dan inovasi dari Bappeda kepada BRIDA memerlukan transformasi tata kelola, reposisi kelembagaan, serta penguatan sistem informasi agar pelayanan inovasi tetap berjalan secara efektif.
Belum tersedianya data riset dan inovasi daerah yang akurat, terintegrasi, dan real-time sebagai dasar penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).
Pengukuran, pembinaan, dan pelaporan inovasi daerah menuju Indeks Inovasi Daerah (IID) dan Innovative Government Award (IGA) masih menghadapi tantangan dalam hal konsistensi data, dokumentasi, dan koordinasi lintas perangkat daerah. BSKDN juga menekankan bahwa inovasi harus lahir dari permasalahan nyata daerah, memiliki dampak, serta memperkuat tata kelola inovasi secara berkelanjutan.
b. Permasalahan Mikro
Permasalahan mikro merupakan persoalan operasional yang secara langsung melatarbelakangi pengembangan SIRIDA KAMI#Reborn.
Pergantian pengelola SIRIDA KAMI dari BAPPEDA ke BRIDA memerluka pembaruan sistem, tata Kelola dan fitur layanan sesuai tugas dan fungsi BRIDA sebagai perangkat daerah yang mengampu Urusan Penelitian dan Pengembangan
Belum optimalnya pemanfaatan Platform SIRIDA KAMI yang telah dibangun sebelumnya karena masih terbatas pada fungsi tertentu dan belum menjadi pusat layanan inovasi daerah.
Belum tersedia dashboard monitoring yang mampu menampilkan perkembangan inovasi setiap Perangkah Daerah secara real-time sebagai bahan evaluasi pimpinan daerah sekaligus mendukung proses pembinaan inovasi secara cepat, transparan, dan terdokumentasi.
Belum optimalnya pemanfaatan Platform SIRIDA KAMI sebagai bank data untuk Data inovasi, penelitian, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), kerja sama riset, dan hasil kajian masih tersebar pada berbagai media penyimpanan sehingga berpotensi menimbulkan duplikasi data dan kehilangan informasi.
Belum tersedianya fitur yang mengintegrasikan layanan Klinik Inovasi Daerah, konsultasi proposal, pendampingan inovator, serta pemantauan tindak lanjut inovasi dalam satu platform digital.
3. ISU STRATEGIS
isu global, yaitu tuntutan transformasi digital dan tata kelola pemerintahan berbasis data;
isu nasional, yaitu penguatan BRIDA, reformasi birokrasi, digitalisasi layanan publik, dan peningkatan Indeks Inovasi Daerah; serta
isu lokal, yaitu kebutuhan Kabupaten Mimika akan sistem yang mampu mengintegrasikan seluruh proses pengelolaan riset dan inovasi dalam satu platform yang mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
4. METODE PEMBAHARUAN
a. Sebelum Penerapan Inovasi
Menu Riset belum dikembangkan sehingga hasil-hasil kajian/penelitian dari Perangkat Daerah tersebar dan tidak terintegrasi dalam satu platform. Selain itu hasil penelitian ini hanya dikonsumsi kalangan terbatas dan tidak terpublikasikan secara luas
Menu Inovasi yang sudah ada terbatas fiturnya pada pelaporan inovasi dari perangkat daerah, komunikasi hanya satu arah dan tidak tersedia dashboard monitoring dan perhitungan nilai indeks inovasi Perangkat Daerah sebagai bahan evaluasi kinerja.
b. Setelah Penerapan Inovasi
Menu Riset menghimpun dan mengintegrasikan hasil kajian beserta produk kebijakannya yang dapat diakses oleh publik
Menu Inovasi menyediakan layanan pelaporan inovasi perangkat daerah, komunikasi dua arah melalui chat bot, pengukuran nilai indeks inovasi Perangkat Daerah dan dashboard pemantauan progress dan monitoring pelaporan inovasi daerah.
5. KEUNGGULAN / KEBAHARUAN
SIRIDA KAMI#Reborn memiliki keunggulan dan aspek kebaharuan yang membedakannya dari sistem manajemen riset konvensional maupun inovasi sejenis di daerah lain:
digitalisasi layanan inovasi secara end-to-end;
integrasi data penelitian, inovasi, HKI, dan kolaborasi;
penyediaan dashboard monitoring dan evaluasi;
tersedianya perhitungan nilai Indeks Inovasi Perangkat Daerah;
penguatan pembinaan inovasi melalui Klinik Inovasi digital.
6. CARA KERJA INOVASI
Login pada akun SIRIDA KAMI admin OPD
Pada Menu IGA: Klik Tambah Inovasi
Isi Rancang Bangun sesuai format tersedia
Lengkapi bukti dukung melalui 20 indikator yang ditentukan
Kirim laporan inovasi untuk divalidasi Sekretariat Inovasi
Tujuan
Melakukan pembaruan sistem, tata Kelola dan fitur layanan sesuai tugas dan fungsi BRIDA sebagai perangkat daerah yang mengampu Urusan Penelitian dan Pengembangan
Mengoptimalkan pemanfaatan Platform SIRIDA KAMI yang telah dibangun agar menjadi pusat layanan riset dan inovasi daerah.
Menyediakan dashboard monitoring yang mampu menampilkan perkembangan inovasi setiap Perangkah Daerah secara real-time sebagai bahan evaluasi pimpinan daerah sekaligus mendukung proses pembinaan inovasi secara cepat, transparan, dan terdokumentasi.
Mengoptimalkan pemanfaatan Platform SIRIDA KAMI sebagai bank data untuk Data inovasi, penelitian, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), kerja sama riset, dan hasil kajian.
Menyediakan fitur yang mengintegrasikan layanan Klinik Inovasi Daerah, konsultasi proposal, pendampingan inovator, serta pemantauan tindak lanjut inovasi dalam satu platform digital.
Manfaat
Tersedianya platform baru yang memuat sistem, tata Kelola dan fitur layanan sesuai tugas dan fungsi BRIDA sebagai perangkat daerah yang mengampu Urusan Penelitian dan Pengembangan
Optimalnya pemanfaatan Platform SIRIDA KAMI yang telah dibangun sehingga menjadi platform digital end-to-end layanan riset dan inovasi daerah
Tersedianya dashboard monitoring yang mampu menampilkan perkembangan inovasi setiap Perangkah Daerah secara real-time sebagai bahan evaluasi pimpinan daerah sekaligus mendukung proses pembinaan inovasi secara cepat, transparan, dan terdokumentasi, sehingga mendorong peningkatan Indeks Inovasi Daerah Kabupaten Mimika
Optimalnya pemanfaatan Platform SIRIDA KAMI sebagai bank data untuk Data inovasi, penelitian, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), kerja sama riset, dan hasil kajian sehingga menjadi referensi dalam pengambilan kebijakan.
Tersedianya fitur yang mengintegrasikan layanan Klinik Inovasi Daerah, konsultasi proposal, pendampingan inovator, serta pemantauan tindak lanjut inovasi dalam satu platform digital.
Hasil inovasi
Terwujudnya tata kelola riset dan inovasi daerah Kabupaten Mimika yang adaptif, kolaboratif, berbasis data, dan berkelanjutan guna mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik, daya saing daerah, dan kesejahteraan masyarakat.
Inovasi bentuk lainnya sesuai bidang urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah
2026-06-01
Ringkasan Inovasi
Nama inovasi
PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PERMATA MIMIKA)
Nama OPD
Dinas Pendidikan
Tahapan
penerapan
Uji coba
2026-01-15
Penerapan
2026-06-01
Urusan
Pendidikan
Inisiator
opd
Jenis inovasi
nondigital
Bentuk inovasi
inovasi bentuk lainnya sesuai bidang urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah
Rancang bangun
Kebijakan pangan nasional atau regional yang kurang memadai atau tidak konsisten dapat mempengaruhi ketersediaan, akses, dan kualitas makanan di sekolah. Misalnya, kurangnya peraturan yang menetapkan standar gizi minimum untuk makanan sekolah atau kurangnya dukungan untuk program makanan sekolah. Infrastruktur yang kurang memadai untuk memproduksi, mengolah, atau menyimpan makanan di tingkat nasional atau regional dapat mempengaruhi ketersediaan dan kualitas makanan yang dapat disediakan di sekolah. Perbedaan dalam akses terhadap makanan sehat antara daerah perkotaan dan pedesaan, serta di antara kelompok sosial ekonomi yang berbeda, dapat menyebabkan ketidakadilan dalam kualitas makanan yang tersedia di sekolah.
Di beberapa wilayah, terutama di pedesaan atau daerah terpencil, ketersediaan makanan berkualitas bisa menjadi masalah. Sekolah-sekolah mungkin kesulitan mendapatkan pasokan makanan yang cukup, bervariasi, dan sehat untuk memenuhi kebutuhan siswa. Kesadaran Gizi dan Pendidikan Makanan: Kurangnya kesadaran akan pentingnya gizi dan pendidikan makanan di kalangan siswa, orang tua, dan staf sekolah dapat mempengaruhi keputusan tentang makanan yang disediakan. Ini bisa mengarah pada kebiasaan makan yang kurang sehat di kalangan siswa. Preferensi makanan dan budaya lokal juga harus dipertimbangkan dalam penyediaan makanan di sekolah. Menyediakan makanan yang sesuai dengan preferensi dan kebiasaan makan lokal dapat meningkatkan penerimaan dan partisipasi siswa dalam program makanan sekolah.
Tujuan
Tercapainya Minat dan kemampuan belajar siswa
Menyediakan makanan bergizi bagi peserta didik dari sekolah-sekolah di pedalaman
Manfaat
Siswa Mendapatkan asupan gizi harian cukup, mulai dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang cukup sesuai dengan kebutuhannya.
Membantu pertumbuhan siswa di masa Kanak-kanak hingga remaja dalam proses belajar
Hasil inovasi
Siswa lebih bersemangat belajar dikarenakan telah mendapatkan makanan tambahan
Siswa lebih teratur masuk sekolah
Meningkatkan konsentrasi siswa dalam memperahatikan pelajaran di kelas
Inovasi yang dilombakan pada ajang tingkat nasional.
No.
Nama inovasi
Tahapan
Uji coba
Penerapan
Bobot
Detail
61
EKKO - SEBAR
penerapan
2024-01-01
2025-01-01
80
Ringkasan Inovasi IGA
Nama inovasi
EKKO - SEBAR
Nama OPD
SD Inpres Sempan Barat
Tahapan
penerapan
Uji coba
2024-01-01
Penerapan
2025-01-01
Urusan
Pendidikan
Inisiator
opd
Jenis inovasi
nondigital
Bentuk inovasi
inovasi pelayanan publik
Rancang bangun
1. DASAR HUKUM
Undang – Undang No. 20 Tahun 2023 tentang sistem Pendidikan Nasional.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 62 Tahun 2014Tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
Disebutkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, dan kemandirian peserta didik.
Peraturan yang mengatur Kurikulum Merdeka (Contoh: Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024).Dalam konteks Kurikulum Merdeka, kegiatan kokurikuler diwujudkan secara eksplisit melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Secara umum, UU ini mengatur tentang hak dan kewajiban guru, termasuk kewajiban untuk melaksanakan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Komunitas Belajar adalah salah satu wadah yang diakui dan didorong untuk melaksanakan PKB tersebut
2. PERMASALAH
> Makro
Program “EKKO“ ( Ekstrakurikuler, Komunitas Belajar dan Ko-kurikuler ) merupakan program yang memiliki tingkat kolaborasi yang sangat spesifik melalui pengembangan minat dan bakat murid, berbagi pengalaman belajar dan keterampilan di kalangan guru serta pengembangan karakter.
Tujuan dasar utama dari program ini adalah menjadikan wadah kolaborasi untuk membangun budaya interaksi dalam pengembangan minat dan bakat serta karakter yang ada di lingkungan sekolah. Namun yang menjadi permasalahan umum adalah sarana, prasarana, dan anggaran yang dialokasikan sering tidak seimbang dengan kebutuhan kegiatan. Hal ini menghambat pengembangan potensi maksimal siswa, Jadwal ekskul sering bertabrakan dengan kepentingan siswa lain (seperti bimbingan belajar, kursus bahasa/musik, atau kegiatan keagamaan) terkadang memaksa siswa memilih antara ekskul dan aktivitas penting lainnya, kurangnya ketertarikan siswa pada ekskul yang ada, pembina yang ditugaskan (baik guru maupun pelatih luar) mungkin memiliki semangat yang tinggi, namun kurang memiliki sertifikasi, kompetensi teknis yang mutakhir, atau metodologi pengajaran yang kurang menarik dan terstruktur. Sedangkan untuk kegiatan ko-kurikuler yang melibatkan kunjungan luar atau praktik lapangan seringkali membutuhkan biaya tambahan, yang menimbulkan diskriminasi atau ketidaksetaraan bagi siswa yang kurang mampu secara ekonomi, Ko-kurikuler dilakukan hanya sebagai refreshing atau selingan tanpa memiliki keterkaitan yang jelas dan terstruktur dengan Capaian Pembelajaran (CP) atau materi yang sedang diajarkan, serta perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di luar kelas (meminta izin, mengurus transportasi, mengawasi siswa) menambah beban kerja administrasi dan psikologis yang besar pada guru, apalagi jika terjadi insiden di lapangan, hasil dari kegiatan ko-kurikuler (misalnya, laporan observasi, produk proyek) seringkali tidak memiliki rubrik penilaian yang baku dan untuk komunitas belajar seringkali pertemuan cenderung bersifat monolog (hanya mendengarkan presentasi kepala sekolah/narasumber) dan kurang memberikan ruang aman bagi guru untuk berbagi real problem di kelas, merefleksikan kegagalan, dan mencari solusi kolaboratif, kegiatan hanya berjalan jika ada perintah dari atasan atau pengawas (top-down) tidak ada inisiatif dari guru sendiri (bottom-up) untuk bertemu, membuat agenda, atau menindaklanjuti rencana aksi dan agenda komunitas belajar tidak fokus pada core business peningkatan pembelajaran siswa (seperti mendiskusikan hasil asesmen formatif atau strategi diferensiasi), tetapi justru membahas hal-hal administratif atau non-kurikuler.
> Mikro
Tantangan yang di hadapi SD INPRES SEMPAN BARAT dalam menerapkan program “ EKKO “ adalah :
Kurangnya minat murid pada ekstrakurikuler serta pelaporan kegiatan yang tidak terstruktur
Kemauan serta motivasi anggota berbeda – beda, rasa kepedulian terhadap hal – hal baru masih kurang
Sulitnya mengukur dampak keterlibatan murid dalam pembelajaran akademik, kurangnya pengawasan dari guru dan kurangnya kesadaran murid akan ko-kurikuler.
3. ISU STRATEGIS
Global
Pengembangan ekstrakurikuler, komunitas belajar dan ko-kurikuler merupakan kegiatan yang terprogram untuk memperluas cakupan pembelajaran dari intrakurikuler. Dalam dunia Pendidikan kegiatan tersebut pastinya menjadi tolak ukur keberhasilan suatu sekolah. Namun di samping itu tentunya ada berbagai isu global yang mempengaruhi kegiatan tersebut diantaranya :
>Akses dan Kesetaraan
Seringkali kegiatan ekstrakurikuler (terutama yang mahal seperti robotika atau olahraga tertentu) hanya dapat diakses oleh siswa dari latar belakang ekonomi yang lebih baik. Hal ini memperburuk kesenjangan sosial dan akademik.
>Keseimbangan Beban Siswa
Ada tekanan global untuk berprestasi, yang mendorong siswa mengambil terlalu banyak kegiatan ekstrakurikuler. Ini menyebabkan kelelahan (burnout), kurang tidur, dan mengurangi waktu untuk keluarga/sosialisasi non-terstruktur.
>Integrasi dalam Budaya Sekolah
Komunitas belajar sering dianggap sebagai "tambahan" daripada bagian integral dari pekerjaan guru. Sekolah kesulitan mengubah budaya dari pengajaran yang terisolasi menjadi kolaborasi normatif.
>Keterbatasan Kurikulum Inti
Kurikulum inti global seringkali padat dan terfokus pada ujian standar. Ini menyisakan sedikit ruang fleksibel bagi guru untuk mengintegrasikan kegiatan ko-kurikuler berbasis proyek atau kunjungan lapangan yang mendalam.
Nasional
> Kesenjangan Sarana & Prasarana
Sekolah di daerah 3T sering tidak memiliki fasilitas dasar (lapangan olahraga, laboratorium, alat musik, studio seni) untuk menyelenggarakan ekskul berkualitas. Akibatnya, pilihan ekskul sangat terbatas pada kegiatan non-fasilitas seperti Pramuka (yang wajib disediakan), Palang Merah Remaja (PMR), atau karya ilmiah sederhana.
> Kualitas dan Kompetensi Pembimbing
Tidak semua guru memiliki kompetensi atau minat untuk menjadi pembimbing ekskul. Seringkali, sekolah merekrut pihak luar dengan pelatihan pedagogis yang minim, atau guru hanya ditunjuk berdasarkan paksaan (mandat) tanpa ada pelatihan spesifik.
> Fokus pada Administrasi vs Pembelajaran
Kombel di banyak sekolah masih terjebak dalam membahas hal-hal administratif, persiapan akreditasi, atau penyelesaian perangkat ajar (Modul Ajar) daripada berfokus pada tiga ide besar yaitu 1) Fokus pada hasil belajar murid, 2) Budaya kolaborasi, dan 3) Berorientasi pada data hasil murid.
> Waktu dan Beban Kerja Guru
Guru di Indonesia memiliki beban jam mengajar dan tugas administrasi yang tinggi. Menemukan waktu efektif untuk mengadakan Kombel yang bermakna (minimal 1 jam per minggu) tanpa memberatkan guru di luar jam kerja merupakan masalah struktural.
> Ketidakjelasan Batasan (Ekskul vs. Ko-kurikuler)
Di lapangan, banyak sekolah yang kesulitan membedakan mana kegiatan ko-kurikuler dan mana ekstrakurikuler. Hal ini menyebabkan ko-kurikuler hanya dilihat sebagai "kegiatan tambahan" tanpa integrasi mendalam ke dalam mata pelajaran.
> Dukungan Mitra Komunitas dan Industri
Ko-kurikuler yang ideal melibatkan pengalaman dunia nyata. Sekolah di Indonesia masih kesulitan membangun kemitraan yang kuat dan berkelanjutan dengan keluarga, masyarakat, dan industri lokal untuk memberikan pengalaman belajar yang otentik dan bermakna bagi siswa.
Lokal
> Kurangnya ketertarikan siswa terhadap kegiatan ekstrakurikuler
Siswa merasa bahwa kegiatan ektrakurikuler merupakan kegiatan yang menguras tenaga dan menghabiskan waktu serta kegiatannya yang monoton
> Rendahnya keterlibatan orang tua dalam pendampingan anak
Di sekolah tertentu, komunikasi tentang manfaat ekskul gagal menjangkau orang tua karena tingkat literasi yang rendah atau ketidakmampuan menggunakan media komunikasi digital. Orang tua menganggap ekskul membuang waktu dan biaya.
> Fokus Hanya pada Kelas Serumpun
Kombel hanya efektif di antara guru-guru kelas yang mengajarkan mata pelajaran yang sama (misalnya, guru Matematika) dan gagal membangun kolaborasi antar-mata pelajaran yang penting untuk implementasi dan pembelajaran terintegrasi.
> Dominasi Guru
Dalam Kombel, ide-ide inovatif guru muda sering terhambat atau diabaikan karena dominasi pandangan dan praktik yang sudah lama diterapkan oleh guru senior. Ini menciptakan lingkungan yang tidak aman untuk berbagi masalah.
> Kurangnya Relevansi Kurikulum Lokal
Pihak sekolah kesulitan mengintegrasikan isu lokal yang spesifik dan sensitif (misalnya, masalah sampah, konflik lahan, atau politik desa) ke dalam proyek ko-kurikuler karena takut menimbulkan reaksi negatif dari masyarakat atau pemerintah daerah.
4. METODE PEMBAHARUAN
Kondisi sebelum adanya program “ EKKO “ :Ekstrakurikuler Di sekolah siswa hanya menerima pelajaran intrakurikuler
Perkembangan minat dan bakat siswa tidak tersalurkan dengan baik
Di sekolah para guru hanya bisa melihat kemampuan siswa dari pengetahuannya
Komunitas Belajar Sikap cuek terhadap permasalahan yang ada
Kurangnya kolaborasi dan komunikasi antar guru
Kurangnya berbagi pengalaman belajar antar guru
Ko-Kurikuler ( 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat )Siswa belum teratur dalam bangun pagi
Belum membiasakan diri melaksanakan doa
Bermalas-malasan dalam berolahraga dan mengkonsumsi makanan bergizi
Siswa belum membiasakan diri dalam bermasyarkat dan tidur cepat
Masih kurangnya motivasi dalam belajar
Kondisi setelah adanya Program “ EKKO “ :Ekstrakurikuler Perkembangan minat dan bakat siswa semakin terarah
Siswa mampu mengikuti kegiatan dan lomba – lomba di luar sekolah
Guru mampu melihat kemampuan siswa dari segi keterampilan
Komunitas Belajar Kolaborasi dan komunikasi semakin baik
Saling berbagi pengalaman belajar
Guru mampu mengimplemtasi pengalaman belajar yang terintegrasi
Ko – Kurikuler ( 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat )Keterlamabatan siswa datang ke sekolah mulai berkurang
Selalu berdoa bersama saat apel pagi
Mulai mengkonsumsi makanan bergizi melalui bekal dari rumah
Melaksanakan Olahraga 2 x seminggu ( Rabu dan Jumat )
Peningkatan prestasi belajar siswa mulai meningkat dilihat dari hasil belajar siswa dan keaktifan dalam kelas.
5. KEUNGGULAN / KEBAHARUAN
Program “ EKKO “ sangat membawa perubahan positif di lingkungan sekolah baik bagi siswa, guru maupun orang tua. Perubahan tersebut terlihat dari beberapa keunggulan yang ada yaitu :
Siswa mampu membawa nama baik sekolah di kanca Nasional dan Provinsi melalui lomba seperti : Karate, OSN Sains, Mendongeng
Kolaborasi yang baik dengan orang tua siswa dan berbagai organisasi dalam kegiatan ekstrakurikuler
Memberikan wadah terstruktur untuk siswa yang memiliki passion di bidang tertentu
Mengajarkan siswa untuk menyeimbangkan antara tuntutan akademik dan kegiatan non-akademik, sehingga membangun keterampilan manajemen waktu yang efektif dan menjadi sarana stress release.
Nilai-nilai seperti sportivitas (dalam ekskul olahraga), ketekunan, dan daya juang terbentuk melalui proses latihan dan kompetisi yang intensif.
Guru secara rutin berbagi praktik baik, mengkaji kurikulum, dan mencari solusi atas tantangan pembelajaran (misalnya, KBM yang fokus pada penggunaan teknologi dalam kelas).
Menyediakan forum di mana guru dapat menganalisis data hasil belajar siswa dan merancang intervensi yang disesuaikan untuk meningkatkan capaian spesifik
Guru yang telah mahir dapat memimpin sesi atau menjadi mentor bagi rekan-rekannya, menumbuhkan rasa kepemilikan dan kepemimpinan kolektif terhadap kualitas sekolah.
Guru mampu melakukan praktik baik di berbagai sekolah lainnya
Siswa mulai bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan diri sendiri dan tidak menyalahkan orang lain.
Mencari solusi yang saling menguntungkan dalam interaksi.
Bekerja sama untuk mencapai hasil yang lebih baik daripada yang bisa dicapai sendiri.
Meningkatkan kedisiplinan siswa dalam melakukan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
6.CARA KERJA INOVASI
Pada program “ EKKO “ penerapan kerja inovasi dilakukan melalui Strategi, Tantangan, Aksi dan Refleksi ( STAR ) :
Ekstrakurikuler Strategi
Mengidentifikasi ekstrakurikuler yang relevan dengan potensi daerah dalam minat dan bakat murid serta melibatkan mentor/ pelatih yang kompeten dan mengatur jadwal yang flesibel
Tantangan
Kurangnya minat murid terhadap ekstrakurikuler serta pelaporan kegiatan yang tidak terstruktur
Aksi
Membuat program kerja
Melibatkan siswa dalam perencanaan
Meningkatkan kapasitas pembina
Memanfaatkan media sosial untuk mempublikasikan kegiatan ekstrakurikuler sekolah
Refleksi
Mengevaluasi keaktifan dan perkembangan peserta didik serta menyesuaikan jenis kegiatan di tahun berikutnya
Komunitas Belajar
Strategi
Membentuk kelompok belajar dengan tujuan berbagi pengalaman belajar melalui metode dan media pembelajaran.
Tantangan
Kemauan serta motivasi anggota berbeda – beda, rasa kepedulian terhadap hal – hal baru masih kurang
Aksi
> Mendorong berbagai anggota dalam berbagi keterampilan serta pengalaman belajar, memanfaatkan aplikasi sebagai bahan referensi pembelajaran dan menentapkan jadwal yang konsisten
> Refleksi
> Mengevaluasi pencapaian pembelajaran, efektivitas metode kolaboratif, dan keterlibatan anggota untuk meningkatkan kualitas komunitas.
Ko-Kurikuler Strategi
Mengintegrasikan kegiatan ko-kurikuler melalui lintas mapel serta 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dalam tujuan kurikulum
Tantangan
Sulitnya mengukur dampak keterlibatan murid dalam pembelajaran akademik, kurangnya pengawasan dari guru dan kurangnya kesadaran murid akan ko-kurikuler.
Aksi
>Membuat jurnal sebagai laporan perkembangan murid sebagai bukti partisipasi
>Menyusun program ko-kurikuler yang relevan dalam pembelajaran
> Memberikan pengarahan dan bimbingan
Refleksi
Memantau kontribusi kegiatan terhadap pengembangan karakter dan keterampilan serta motivasi belajar siswa dalam melakukan perbaikan program untuk tahun selanjutnya
Tujuan
TUJUAN
Tujuan dasar dari program “ EKKO “ adalah :
Meningkatkan kemampuan akademik siswa baik di bidang olahraga, seni maupun pengetahuan
Menjadi wadah pengembangan minat dan bakat siswa
Meningkatkan keterampilan bersosialisasi, kerja sama tim, kepemimpinan, dan disiplin diri.
Memberikan kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat sebagai penyeimbang dari beban akademik.
Guru secara kolektif mengidentifikasi masalah, berbagi praktik terbaik, dan mencari solusi untuk meningkatkan efektivitas pengajaran mereka.
Membangun budaya berbagi, saling mendukung, dan belajar berkelanjutan di antara staf pengajar.
Memastikan bahwa strategi pengajaran yang digunakan berdampak positif dan signifikan pada hasil belajar siswa.
Memberikan kesempatan pada guru untuk melakukan praktik baik di luar sekolah
Memberi siswa pengalaman nyata dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka pelajari di kelas
Menanamkan nilai-nilai seperti tanggung jawab, kemandirian, kedisiplinan dan etika melalui penugasan proyek yang terstruktur.
Membantu siswa melihat relevansi materi pelajaran dengan dunia nyata dan masa depan mereka.
Manfaat
MANFAAT / DAMPAK
Dampak dari program “ EKKO “ adalah :
Bagi Siswa
Peningkatan keterampilan non-akademik dan bakat, peningkatan kepercayaan diri, kesehatan mental yang lebih baik, dan keterampilan sosial.
Mendapat kualitas pengajaran yang lebih baik, umpan balik yang relevan, metode pembelajaran inovatif, dan lingkungan kelas yang adaptif.
Kemampuan aplikasi teori, pemahaman kontekstual materi, pengembangan pemecahan masalah dunia nyata, dan peningkatan keterampilan proyek.
2. Bagi Guru
Meningkatan hubungan emosional dengan siswa, penemuan potensi siswa dari sudut pandang yang berbeda, dan pengembangan keterampilan memfasilitasi di luar materi pelajaran inti.
Peningkatan kompetensi profesional, berbagi praktik terbaik, mengurangi rasa terisolasi, dan solusi inovatif terhadap tantangan pengajaran.
Memperluas pemahaman tentang relevansi materi yang diajarkan, meningkatkan integrasi kurikulum, dan mendapatkan kepuasan profesional dari keberhasilan proyek siswa
3. Bagi Orang Tua
Kebanggaan terhadap prestasi non-akademik anak, meningkatnya keterlibatan dalam kegiatan sekolah (misalnya saat pertunjukan/pertandingan), dan menjadi saluran kontribusi keahlian masyarakat.
Peningkatan mutu pendidikan sekolah secara keseluruhan, jaminan bahwa anak mereka diajar oleh guru yang terus berkembang, dan kepercayaan yang lebih tinggi terhadap institusi sekolah.
Anak memiliki keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat/industri, peningkatan citra sekolah sebagai lembaga yang menghasilkan lulusan yang siap kerja/bermasyarakat.
Hasil inovasi
KEUNGGULAN / KEBAHARUAN
Program “ EKKO “ sangat membawa perubahan positif di lingkungan sekolah baik bagi siswa, guru maupun orang tua. Perubahan tersebut terlihat dari beberapa keunggulan yang ada yaitu :
Siswa mampu membawa nama baik sekolah di kanca Nasional dan Provinsi melalui lomba seperti : Karate, OSN Sains, Mendongeng
Kolaborasi yang baik dengan orang tua siswa dan berbagai organisasi dalam kegiatan ekstrakurikuler
Memberikan wadah terstruktur untuk siswa yang memiliki passion di bidang tertentu
Mengajarkan siswa untuk menyeimbangkan antara tuntutan akademik dan kegiatan non-akademik, sehingga membangun keterampilan manajemen waktu yang efektif dan menjadi sarana stress release.
Nilai-nilai seperti sportivitas (dalam ekskul olahraga), ketekunan, dan daya juang terbentuk melalui proses latihan dan kompetisi yang intensif.
Guru secara rutin berbagi praktik baik, mengkaji kurikulum, dan mencari solusi atas tantangan pembelajaran (misalnya, KBM yang fokus pada penggunaan teknologi dalam kelas).
Menyediakan forum di mana guru dapat menganalisis data hasil belajar siswa dan merancang intervensi yang disesuaikan untuk meningkatkan capaian spesifik
Guru yang telah mahir dapat memimpin sesi atau menjadi mentor bagi rekan-rekannya, menumbuhkan rasa kepemilikan dan kepemimpinan kolektif terhadap kualitas sekolah.
Guru mampu melakukan praktik baik di berbagai sekolah lainnya
Siswa mulai bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan diri sendiri dan tidak menyalahkan orang lain.
Mencari solusi yang saling menguntungkan dalam interaksi.
Bekerja sama untuk mencapai hasil yang lebih baik daripada yang bisa dicapai sendiri.
Meningkatkan kedisiplinan siswa dalam melakukan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
TEMPO KAS TUNTAS (TANGGULANGI ELIMINASI MALARIA MELALUI PERIKSA DARAH, OBATI DAN AWASI KEPATUHAN PENGOBATAN SAMPAI TUNTAS)
penerapan
2024-07-01
2024-08-14
102
Ringkasan Inovasi IGA
Nama inovasi
TEMPO KAS TUNTAS (TANGGULANGI ELIMINASI MALARIA MELALUI PERIKSA DARAH, OBATI DAN AWASI KEPATUHAN PENGOBATAN SAMPAI TUNTAS)
Nama OPD
Dinas Kesehatan
Tahapan
penerapan
Uji coba
2024-07-01
Penerapan
2024-08-14
Urusan
Kesehatan
Inisiator
opd
Jenis inovasi
nondigital
Bentuk inovasi
inovasi pelayanan publik
Rancang bangun
A. DASAR HUKUM
Undang-undang Nomor 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular;
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan;
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1501 Tahun 2010 Tentang Penyakit Menular Tertentu yang dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan;
Permenkes Nomor 45 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan;
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2014 Tentang Penanggulangan Penyakit Menular;
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1479 tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular terpadu;
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa;
Keputusan Direktur Jenderal P2M dan PLP Nomor 451-IIPD.03.04.IF/1991 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa;
Peraturan Bupati Mimika No 49 Tahun 2009 tentang Pedoman Eliminasi Malaria di kabupaten Mimika;
Peraturan Bupati Mimika No 255 tahun 2019 tentang pembentukan Tim Pengendalaian Malaria;
Keputusan Bupati Mimika Nomor 519 tahun 2020 Tentang Penetapan Daerah Dengan Situasi Khusus untuk percepatan eliminasi Malaria Tingkat Kelurahan /kampung di kabupaten Mimika.
B. PERMASALAHAN
a. Makro
Inovasi Tempo Kas Tuntas ini sangat berkaitan erat dengan tema reformasi birokrasi ke-6 (enam) yang instruksikan oleh Presiden yaitu percepatan eliminasi malaria di Kabupaten/kota di seluruh Indonesia pada tahun 2030, dan Kabupaten Mimika merupakan penyumbang 30% atau terbanyak kasus malaria di Indonesia.
Tingginya kasus malaria di Mimika sangat tidak sesuai dengan target eliminasi malaria di Indonesia sebagaimana arahan Presiden R.I dalam tema reformasi birokrasi untuk isu kesehatan demikian pula regulasi oleh Kementerian Kesehatan dalam Peraturan Menteri Kesehatan R.I Nomor 22 Tahun 2022 tentang penanggulangan Malaria di Indonesia untuk mencapai eliminasi di tahun 2030 dan sama halnya juga dengan target Sustainability Development Goals atau SDGs.
Menurut Miranti Ita (2019) tingginya kasus malaria di Provinsi Papua dan kawasan timur Indonesia hingga mencapai 28,6% dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor pengobatan dan faktor perilaku pencegahan gigitan nyamuk. Prevalensi atau Positivity Rate (PR) malaria di Mimika menurut laporan Riset Kesehatan Dasar tahun 2022 oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika dan PT Freeport Indonesia mencapai 25% dan laporan kasus malaria tahun 2023 oleh Dinas Kesehatan Kesehatan Kabupaten Mimika PR mencapai 30,6%. Dengan besaran kasus malaria yang dibuktikan dengan angka API 456,32 per 1.000 penduduk dan PR 30,66% maka Kabupaten Mimika merupakan daerah endemisitas tinggi sebab standar nasional API dan PR oleh Kementerian Kesehatan adalah API dibawah 1 per 1000 penduduk dan PR dibawah 1%.
b. Mikro
Rendahnya kepatuhan minum obat
Minimnya kontrol ulang setelah pengobatan
Lamanya waktu tunggu pemeriksaan dan alur yang jelas untuk pemeriksaan malaria
Kurangnya Peran petugas kesehatan / keluarga/Kader Malaria untuk mengingatkan minum obat dan memantau efek samping termasuk mengingatkan pemeriksaan malaria setelah pengobatan
C. ISU STRATEGIS
Isu Global : Diperkirakan ada 263 juta kasus malaria baru di 83 negara pada tahun 2023, meningkat dari 252 juta pada tahun
2022. Jumlah kematian akibat malaria mencapai sekitar 597.000, dengan 94% kasus dan 95% kematian terjadi di Afrika.
Isu Nasional : Sebagian besar kasus malaria di Indonesia terkonsentrasi di wilayah timur, khususnya di Papua dan Papua Barat. Pada tahun 2023, sekitar 91% kasus malaria di Indonesia terjadi di Papua . Sebagai contoh, di Kota Jayapura, pada periode Januari hingga September 2024, tercatat 132.539 kasus malaria, dengan 31.783 kasus positif
Isu Lokal : Laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Provinsi Papua Tengah angka kejadian malaria tahunan atau Annual Parasite Incidence (API) dalam lima tahun terakhir terus meningkat dari 373,69 per 1.000 penduduk pada tahun 2019 menjadi 456,32 per 1.000 penduduk di tahun 2023 atau lebih dari 400 kali lebih tinggi dari angka nasional (target naisonal (
Tujuan
Secara umum tujuan inovasi ini adalah menurunkan jumlah kasus malaria di Kabupaten Mimika untuk mencapai Eliminasi Malaria pada tahun 2030 sedangkan tujuan khusus dari inovasi proyek perubahan ini dibagian dalam tiga tahapan yaitu :
a. Tujuan jangka pendek adalah menyediakan layanan pemantauan kepatuhan pengobatan malaria sampai tuntas (Pantau KAS Tuntas) melalui jejaring kerjasama antara petugas puskesmas, keluarga dan kader malaria serta menyediakan layanan drivethru untuk pemeriksaan malaria pada 9 (Sembilan) lokus yaitu : Pelabuhan Laut Pomako, Bandara Udara Mozes Kilangin Timika, Pusat Perbelanjaan/keramaian dan 6 puskesmas yang telah terakreditasi dan BLUD, seperti: Timika, Timika Jaya, Wania, Karang Senang, Pasar Sentral dan Mapurujaya. Untuk pencapaian tujuan jangka pendek ini akan dimulai tanggal 22 Juli – 2 September 2024;
b. Tujuan jangka menengah yaitu meningkatnya pelaksanaan inovasi pada fasilitas kesehatan tingkat pertama dari 9 lokus menjadi 35 lokus dengan penambahan 26 lokus baru yang melakukan replikasi inovasi proyek perubahan yaitu 4 puskesmas wilayah kota, 11 puskesmas di wilayah pesisir, 5 Puskesmas wilayah pegunungan 3 klinik PEMDA, 1 klinik PT Freeport Indonesia, 1 klinik TNI-AD dan 1 klinik Polri. Kegiatan ini direncanakan minggu pertama bulan November 2024- minggu ke-empat bulan Maret 2025;
c. Tujuan jangka panjang yaitu meningkatnya inovasi pada 60 lokus baru sehingga jumlah lokus meningkat dari 35 menjadi 95 lokus dengan rincian 60 lokus baru ini adalah 40 puskesmas pembantu dan 20 klinik. Target pelaksanaan tujuan jangka panjang akan dimulai pada minggu pertama April – Desember
2025.
Manfaat
Manfaat yang akan diperoleh dari inovasi ini, adalah :
a. Bagi organisasi : meningkatnya kinerja pengendalian malaria melalui efektifitas pengobatan dan deteksi malaria sebagai upaya pencegahan infeksi baru.
b. Bagi Pemerintah : Percepatan upaya eliminasi malaria di Indonesia termasuk menurunkan biaya kesehatan sekitar Rp. 72,2 Milyar per tahun dalam penyediaan obat malaria;
c. Bagi Masyarakat : meningkatkan produktifitas dan ekonomi keluarga dengan meningkatnya jumlah hari kerja termasuk menurunkan angka kejadian anemia ibu hamil, menurunkan berat badan lahir rendah bayi yang berdampak pada kejadian stunting dan gizi anak balita
Hasil inovasi
1. Meningkatkan Akses dan menghentikan transmisi penularan malaria
2. Menurunkan kasus malaria di Kabupaten Mimika dan Indonesia
A. DASAR
HUKUM :
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan,
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2021 Tentang Percepatan Penurunan Stunting;
Peraturan Menteri Dalam Negeri Repoblik Indonesia Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengintegrasian Layanan Sosial Dasar Di Pos Pelayanan Terpadu;
Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2019 tentang Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah;
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat;
Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2016 tentang Perangkat daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2016 Nomor 114, tambahan Lemabran Negara Republik Indonesia Nomor 5887);
Peraturan Daerah Kabupaten Mimika Nomor 5 Tahun 2022 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Mimika Tahun 20222 Nomor 5) Noreg Peraturan Daerah Kabupaten Mimika Propinsi Papua Tengah 5/2022;\
Peraturan Bupati Mimika Nomor : 27 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Stunting Dalam Upaya Menurunkan Mortalitas Dan Morbiditas Serta Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Kabupaten Mimika.
B. PERMASALAHAN.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005–2025, disebutkan bahwa pembangunan kesehatan pada hakikatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi.
Kecukupan gizi dan pangan merupakan salah satu faktor terpenting dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia, sebagai indikator keberhasilan pembangunan suatu bangsa. Dalam hal ini gizi memiliki pengaruh terhadap kecerdasan dan produktivitas kerja sumber daya manusia (Almatsier, 2001). Saat ini Indonesia menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manuasia (SDM). Salah satu masalah kekurangan gizi yang masih
cukup tinggi di Indonesia adalah stunting dan wasting pada balita serta masalah anemia dan kurang energi kronik (KEK) pada ibu hamil.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi gagal tumbuh pada anak balita disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama serta terjadinya infeksi berulang, yang dipengaruhi oleh pola asuh yang tidak memadai terutama dalam 1.000 HPK.
Masalah Stunting atau balita pendek menggambarkan adanya masalah gizi kronis, dipengaruhi dari kondisi ibu/calon ibu, masa janin, dan masa bayi/balita, termasuk penyakit yang diderita selama masa balita. Seperti masalah gizi lainnya, tidak hanya terkait masalah kesehatan, namun juga dipengaruhi berbagai kondisi lain yang secara tidak langsung mempengaruhi kesehatan (Kemenkes RI,2016).
Permasalahan stunting pada usia dini terutama pada periode 1000 HPK, akan berdampak pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Stunting menyebabkan organ tubuh tidak tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam jangka pendek, stunting menyebabkan gagal tumbuh, hambatan perkembangan kognitif dan motorik, dan tidak optimalnya ukuran fisik tubuh serta gangguan metabolisme. Dalam jangka panjang, stunting menyebabkan menurunnya kapasitas intelektual. Gangguan struktur dan fungsi saraf dan sel-sel otak yang bersifat permanen dan menyebabkan penurunan kemampuan menyerap pelajaran di usia sekolah yang akan berpengaruh pada produktivitasnya saat dewasa. Selain itu, kekurangan gizi juga menyebabkan gangguan pertumbuhan (pendek dan atau kurus) dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung kroner, dan strok
Penelitian yang dilakukan Rendraduhita (2017), mengungkapkan bahwa balita stunting mayoritas dengan umur ibu yang melahirkan
Tujuan
Menurunkan angka stunting melalui penguatan posyandu oleh aparat pemerintahan kelurahan / kampung di Kabupaten Mimika.
Manfaat
1. Terbentuknya Pokja Posyandu
2. Meningkatnya sinergisitas Aparat Pemerintahan Kelurahan / Kampung dan komponen masyarakat dalam pengelolaan posyandu
3. Meningkatkan cakupan layanan posyandu setiap bulan.
4. Meningkatnya kualitas pelayanan sumber daya manusia kesehatan dalam pelayanan public
Hasil inovasi
Masyarakat lebih mudah mengakses layanan Kesehatan primer melalui Posyandu terintegrasi
Terbentuknya pokja Posyandu di Tinkat Kelurahan/kampung sebagai motor penggerak kesinambungan pelayanan di posyandu.
Meningkatakan pemahaman aparat kampung tentang peran dan fungsi Pokja Posyandu dalam pengintergasian layanan
Meningkatkan cakupan pelayanan posyandu; Penimbangan, Imunisasi, cakupan pemberian Vitamin A pada bayi usia 6- 59 bulan, pelayanan kesehatan ibu hamil
SISTEM MANAJEMEN PEMASARAN CEPAT, MUDAH DAN AMAN (SIMACEMUDA)
penerapan
2023-01-09
2023-02-28
99
Ringkasan Inovasi IGA
Nama inovasi
SISTEM MANAJEMEN PEMASARAN CEPAT, MUDAH DAN AMAN (SIMACEMUDA)
Nama OPD
—
Tahapan
penerapan
Uji coba
2023-01-09
Penerapan
2023-02-28
Urusan
Pangan
Inisiator
opd
Jenis inovasi
nondigital
Bentuk inovasi
inovasi pelayanan publik
Rancang bangun
RANCANG BANGUN
Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi
Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2017 tentang Kebijakan Strategi Ketahanan Pangan dan gizi
Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal
Peraturan Bupati Nomor 19 Tahun 2016 tentang petunjuk teknis Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Pokok Produk Lokal
PERMASALAHAN
Permasalahan Makro
Permasalahan distribusi pangan meliputi sulit bersaingnya produk pangan lokal atas gempuran produk pangan yang masuk dari luar papua
Meningkatnya harga sarana produksi pertanian (Saprodi Pertanian) menjadi keluhan utama, kebutuhan racun pembasmi penyakit/hama dan herbisida yang harganya terus melonjak, kelangkaan pupuk an organik yang tidak mampu memenuhi kebutuhan petani dalam usaha taninya
Kurangnya minat kaum muda milenial dalam menekuni usaha tani, menjadikan semakin banyaknya lahan baku pertanian menjadi lahan tidur yang tidak dapat memproduksi bahan pangan
Panjangnya rantai distribusi hasil pertanian pangan segar, lonjakan harga pangan menjadi tidak realistic yang mengakibatkan meningkatnya inflasi daerah.
Permasalahan Mikro/Khusus meliputi :
Masyarakat Orang Asli Papua, menghadapi berbagai kendala dalam memasarkan hasil panen mereka. Permasalahan ini menghambat mereka untuk mendapatkan penghasilan yang layak dan meningkatkan taraf hidup. Berikut beberapa permasalahan utama yang dihadapi khususnya di Mimika :
1. Akses Pasar yang terbatas :
Keterpencilan : Kampung-kampung di Mimika seringkali terletak didaerah terpencil yang sulit dijangkau, sehingga petani dan nelayan kesulitan mengangkut hasil panen mereka kepasar
Kurangnya Infrastruktur : Infrastruktur jalan dan jembatan yang tidak memadai di Mimika, terutama didaerah pegunungan, menyebabkan biaya transportasi yang tinggi dan memperlambat distribusi hasil panen
Minimnya pasar Tradisional : di Mimika, pasar trandisional yang tersedia tidak memadai untuk menampung hasil panen yang melimpah dari masyarakat
2. Persaingan dengan Produk Impor dan Lokal :
Produk Impor yang lebih murah : Produk impor, seperti beras, ayam dan daging, seringkali lebih murah dibandingkan produk lokal sehingga sulit bagi petani dan nelayan Mimika untuk bersaing
Kurangnya branding dan promosi : Produk lokal Mimika seringkali tidak memiliki branding dan promosi yang baik, sehingga kurang dikenal oleh konsumen di Mimika dan daerah lainnya
Kualitas produk yang tidak konsisten : Kualitas produk lokal Mimika, seperti sayur dan buah, seringkali tidak konsisten, sehingga konsumen enggan untuk membelinya
ISU STRATEGIS
GLOBAL
Melanesia, sebagai wilayah yang sebagian besar terdiri dari negara-negara berkembang, menghadapi tantangan unik dalam sektor pertanian yang dipengaruhi oleh faktor-faktor global. Berikut beberapa isu utama :
1. Perubahan Iklim
Kenaikan permukaan laut : Ancaman terhadap lahan pertanian pesisir
Perubahan pola curah hujan : mengganggu siklus tanam dan hasil panen
Peningkatan suhu : mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan penyebaran hama penyakit.
2. Keamanan Pangan
Ketergantung pada impor : Banyak negara Melanesia mengimpor sebagian besar pangan, membuat mereka rentan terhadap fluktuasi harga global
Malnutrisi : Tingkat malnutrisi masih tinggi dibeberapa negara, terutama pada anak-anak
Pertumbuhan penduduk : Peningkatan populasi meningkatkan tekanan pada produksi pangan lokal
3. Deforestasi dan Degradasi Lahan
Pengurangan lahan pertanian : Konversi hutan menjadi lahan pertanian atau perkebunan besar mengancam ketahanan pangan
Erosi Tanah : Praktik pertanian yang tidak berkelanjutan menyebabkan penurunan produktivitas tanah.
4. Hama dan Penyakit Tanaman
Penyebaran hama dan penyakit baru : Perubahan iklim dan globalisasi mempermudah penyebaran organisme pengganggu tanaman
Kerugian ekonomi : Hama dan penyakit dapat menyebabkan kerugian besar bagi petani
5. Infrastruktur Pertanian
Kurangnya infrastruktur : Jalan, Irigasi dan penyimpanan pasca panen yang buruk menghambat efisiensi pertanian
Keterbatasan akses pasar : sulit bagi petani untuk membawa produk ke pasar yang lebih luas
6. Sumber Daya Manusia
Keterampilan pertanian yang terbatas : Banyak petani memiliki pengetahuan pertanian tradisional yang terbatas
Migrasi pemuda : Migrasi pemuda ke kota mengurangi tenaga kerja pertanian
7. Kebijakan Pertanian
Kebijakan yang tidak konsisten : Perubahan kebijakan pemerintah dapat mengganggu sektor pertanian
Dukungan pemerintah yang terbatas : Investasi pemerintah dalam penelitian dan pengembangan pertanian seringkali tidak memadai
8. Globalisasi dan Perdagangan
Persaingan dengan produk impor : Produk pertanian impor dapat menekan harga produk lokal
Ketergantungan pada pasar global : Fluktuasi harga komodtas global dapat mempengaruhi pendapatan petani
NASIONAL
Indonesia sebagai negara dengan populasi besar dan agraris, sangat rentan terhadap isu-isu global ketahanan pangan. Berikut beberapa isu utama :
1. Perubahan Iklim
2. Fluktuasi Harga Pangan Global
3. Hama dan Penyakit Tanaman
4. Persaingan Global
5. Ketahanan Energi
6. Pertumbuhan Penduduk
7. Ketimpangan Sosial Ekonomi
LOKAL
Pembangunan Ketahanan Pangan merupakan prioritas dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah )RPJMD) Kabupaten Mimika yang difokuskan pada peningkatan ketersediaan pangan, pemantapan distribusi pangan, percepatan penganekaragaman pangan dan pengawasan keamanan pangan segar sesuai dengan karakteristik daerah. Pembangunan ketahanan pangan dilaksanakan melalui berbagai upaya dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan dari perwujudan pembangunan sosial, budaya dan ekonomi sebagai bagian pembangunan secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa isu utama dimana terkait dengan penyelenggaraan tugas dan fungsi Dinas Ketahanan Pangan yaitu :
1. Stunting diatas rata-rata Nasional
Dinas Ketahanan Pangan melaksanakan fungsi dan tugas Intervensi gizi sensitif melalui gerakan pertanian keluarga (Family Farming) yang dharapkan keluarga beresiko stunting mendapatkan manfaat sumber daya pekarangan untuk peningkatan asupan gizi
2. Peta Kerentanan dan Kerawanan Pangan (FSVA) secara Nasional Kabupaten Mimika termasuk baik dengan nilai 81,83 namun memiliki kampung rentan rawan pangan sebanyak 30% masih perlu diturunkan sesuai standar target nasional sebanyak 13%
3. Kabupaten Mimika masih tercatat inflasinya masih diatas rata-rata nasional, bahkan provinsi papua tengah secara nasional provinsi papua tengah sempat menjadi tertinggi secara nasional
4. Pencegahan Polio untuk Provinsi Papua Tengah, sesuai rapat Koordinasi Kementerian Dalam Negeri, menyebutkan masih cukup tinggi
Dengan uraian diatas melalui peningkatan sistem manajemen ketersediaan dan distribusi pangan yang kuat akan terwujud peningkatan kualitas hidup masyarakat yang semakin baik.
METODE PEMBAHARUAN
Kondisi awal sebelum inovasi diterapkan :
Sebelum adanya inovasi SIMACEMUDA, Masyarakat dalam hal ini masyarakat OAP memasarkan hasil produk pertanian mereka dengan menjual pada :
Pasar Sentral Jalan Hasanuddin
Pasar SP2 Jalan Cendrawasih
Median Jalan-Jalan Bhayangkara (Bahu Jalan)
Bundaran SP2 Jalan Cenderawasih (diatas trotoar)
Pada Tahun 2022-2023 jumlah penerima manfaat kurang lebih 200 keluarga namun ditahun 2024-2025 sudah sekitar kurang lebih 400 keluarga OAP yang menjadi mitra dalam pengambilan komoditi pangan lokal yang jumlahnya akan bertambah setiap hari. Dengan jumlah pasar di Kabupaten Mimika yang sangat terbatas distribusi pangan tertentu membutuhkan biaya yang cukup besar dalam hal biaya transportasi serta adanya kemungkinan hasil produk pertanian, perikanan serta peternakan yang mereka jual tidak laku terjual sehingga mereka mengalami kerugian karena adanya biaya transportasi. Penjualan dibahu jalan akan berdampak pada kwalitas pangan yang dibeli oleh konsumen karena terkontaminasi dengan debu dan kuman yang berterbangan.
Kondisi setelah inovasi diterapkan :
Saat ini dengan adanya Inovasi SIMACEMUDA, masyarakat dapat menjual hasil pertanian mereka dengan menghubungi Toko Pangan Dinas Ketahanan Pangan selanjutnya karyawan Toko akan menjemput ke lahan petani/peternak/nelayan yang kemudian akan dipasarkan dengan warga Masyarakat dapat berbelanja secara langsung pada toko pangan dan melalui kios pangan keliling dan seiring dengan berjalanannya waktu sekarang dapat melakukan pembelian atau pemesanan melalui Fb Kioos Pangan maupun melalui penjualan online lewat menu Simacemuda pada Web. Sikepang (Sistem Informasi Ketahanan Pangan) yang selanjutnya pembeli dapat diantarkan barang pesanan yang mereka pesan. Dengan adanya program ini Petani sangat dimudahkan dalam hal pemasaran hasil pertanian karena tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi untuk pemasaran, masyarakat tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk duduk sepanjang hari berjualan dipasar serta warga masyarakat juga dapat dimudahkan untuk memperoleh kebutuhan pangan dengan harga yang terjangkau karena adanya pemotongan rantai pasok pangan yang semula harus melalui petani-pedagang grosir-pedagang eceran-konsumen akhir menjadi petani-Toko Tani Indonesia-Konsumen Akhir. Disamping itu juga memberi kemudahanan bagi konsumen untuk mendapatkan barang yang mereka butuhkan dengan melakukan pemesanan melalui Fb dan Menu Simacemuda.
Keunggulan/Kebaharuan
Keunggulan dan keunikan inovasi manajemen pemasaran ini adalah layanan bagi petani, peternak, nelayan OAP yang mengalami kesulitan dalam pemasaran hasil pertanian mereka adalah :
Kecepatan Pelayanan karena Tim Toko Tani mempunyai pelayanan menjemput komoditas yang akan dipasarkan oleh petani langsung kekebun budidaya
Mudah dan Murah, diharapkan petani merasa dimudahkan dan difasilitasi pemasaran hasil taninya sebagai ucapan syukur atas panen yang melimpah, Masyarakat Kota Timika sebagai Konsumen akan mencintai produk petani/peternak/nelayan Orang Asli Papua karena diinterfensi dengan harga subsidi berdasarkan Peraturan Bupati
Aman, Konsumen dengan kita memberikan dan memperhatikan ketersediaan dan distribusi pangan lokal akan meningkatkan pola konsumsi Masyarakat melalui konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA)
CARA KERJA INOVASI
Alur Kerja Inovasi SIMACEMUDA, yaitu :
1. Petani, Peternak, Nelayan yang mempunyai produk yang akan dijual menghubungi karyawan Toko Pangan/Toko Tani Indonesia
2. Karyawan Toko Pangan/Toko Tani Indonesia akan menjemput kelahan
3. Tim Pemasaran akan melakukan negosiasi harga dengan mempertimbangkan sesuai kualitas komoditas dan panel harga pangan harian dipasar
4. Tim Pemasaran menetapkan harga subsidi dan
5. Komoditas siap dipasarkan melalui Toko Tani Indonesia, Kios Pangan keliling, Penjualan lewat FB dan Menu Simacemuda pada Web. Sikepang
Tujuan
TUJUAN INOVASI
Memudahkan petani/peternak/nelayan dalam pemasaran hasil pertanian, peternakan dan perikanan
Meningkatkan daya beli warga masyarakat karena dapat memperoleh kebutuhan pangan dengan harga terjangkau dan waktu yang lebih efisien sekaligus meningkatkan kecintaan masyarakat untuk mengkonsumsi pangan lokal
Manfaat
MANFAAT INOVASI
Pendapatan Petani akan meningkat melalui hasil penjualan produk pertanian mereka tanpa mengeluarkan biaya transportasi dan resiko produk tidak laku terjual
Petani tidak perlu menghabiskan waktu untuk duduk berjualan dipasar
Hasil inovasi
DAMPAK INOVASI
Petani akan lebih bersemangat dalam usaha pertanian yang memiliki pasaran yang lebih pasti dan tetap serta petani memiliki waktu yang lebih efisien, sehingga menurunnya angka kemiskinan ekstrim
MATOA KOP 1 (Manajemen Aplikasi Terpadu Operasional Akademik Koperapoka I )
penerapan
2025-01-13
2026-01-12
111
Ringkasan Inovasi IGA
Nama inovasi
MATOA KOP 1 (Manajemen Aplikasi Terpadu Operasional Akademik Koperapoka I )
Nama OPD
SD INPRES KOPERAPOKA 1
Tahapan
penerapan
Uji coba
2025-01-13
Penerapan
2026-01-12
Urusan
Pendidikan
Inisiator
asn
Jenis inovasi
digital
Bentuk inovasi
inovasi bentuk lainnya sesuai bidang urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah
Rancang bangun
RANCANG BANGUN INOVASI
SD INPRES KOPERAPOKA 1
Nama Inovasi : MATOA KOP I (Manajemen Aplikasi Terpadu Operasional Akademik Koperapoka I )
Tahapan : Penerapan
Inisiator : Margarita Abraham, S.Pd. M.Pd
Jenis Inovasi : Inovasi Daerah Lainnya
Bentuk Inovasi : Digital
Urusan : Mempermudah pengelolaan administrasi serta kegiatan akademik sekolah melalui satu platform digital yang terintegrasi.
Waktu Uji Coba : Januari 2025 s/d Desember 2025
Waktu Penerapan : Januari 2026 s/d Desember 2026
DASAR HUKUM
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya Pasal 31 tentang pendidikan.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2024. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun
2022. Ketentuan dan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait digitalisasi pembelajaran, administrasi pendidikan, dan pemanfaatan teknologi dalam satuan pendidikan.
Peraturan dan kebijakan internal SD Inpres Koperapoka 1 terkait administrasi sekolah, kehadiran, pembelajaran, serta pengelolaan data pendidikan.
B. PERMASALAHAN
A. Makro
Perkembangan teknologi informasi menuntut satuan pendidikan melakukan transformasi dalam pengelolaan administrasi dan pembelajaran. Pengelolaan absensi yang masih dilakukan secara manual, pencatatan perangkat pembelajaran yang tersebar, serta pelaporan yang membutuhkan waktu dapat mengurangi efisiensi kerja guru dan sekolah. Kondisi tersebut mendorong SD Inpres Koperapoka 1, merancang MATOA KOP I sebagai sistem informasi yang menghubungkan absensi online dengan perangkat pembelajaran dalam satu alur kerja yaitu :
Administrasi kehadiran guru dan siswa perlu dilakukan secara lebih cepat, tertib, terdokumentasi, dan mudah dipantau.
Perangkat pembelajaran seperti modul ajar/RPP, bahan ajar, LKPD, tugas, dan dokumentasi kegiatan perlu tersimpan secara lebih terstruktur.
Data kehadiran dan kegiatan pembelajaran perlu dapat digunakan sebagai bahan pemantauan dan pelaporan sekolah.
Komunikasi dan penyampaian informasi pembelajaran perlu didukung media digital yang mudah digunakan.
Digitalisasi sekolah perlu tetap memperhatikan keamanan, keterbatasan sarana, kemampuan pengguna, dan perlindungan data pribadi.
B. Mikro
Absensi guru dan siswa belum seluruhnya terdokumentasi dalam satu sistem yang dapat dipantau secara real time.
Pencatatan kegiatan pembelajaran harian masih berpotensi tersebar pada buku, lembar kerja, atau aplikasi yang berbeda.
Perangkat pembelajaran guru belum terpusat sehingga pencarian dan pemanfaatan kembali dokumen membutuhkan waktu.
Rekap kehadiran dan laporan kegiatan sekolah membutuhkan pekerjaan administratif berulang.
Belum tersedia alur terpadu dari absensi, kegiatan pembelajaran, tugas, dokumentasi, hingga pelaporan.
Pemanfaatan teknologi digital belum sepenuhnya memiliki prosedur operasional yang seragam bagi guru dan warga sekolah.
III. ISU STRATEGIS
Global
Transformasi digital pendidikan menuntut sekolah meningkatkan efisiensi, akses informasi, dan kualitas pengelolaan pembelajaran.
Pemanfaatan data secara cepat menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan pendidikan.
Keamanan informasi dan perlindungan data pribadi menjadi perhatian utama dalam penggunaan sistem digital.
Kompetensi digital guru dan siswa perlu dikembangkan agar teknologi benar-benar mendukung pembelajaran.
2. Nasional
Digitalisasi pendidikan mendorong satuan pendidikan memanfaatkan teknologi untuk administrasi dan pembelajaran.
Pengelolaan data pendidikan perlu dilakukan secara akurat, tertib, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Guru perlu memiliki kemampuan memanfaatkan perangkat digital untuk merencanakan, melaksanakan, menilai, dan mendokumentasikan pembelajaran.
Efisiensi administrasi sekolah perlu diarahkan agar waktu guru lebih banyak digunakan untuk kegiatan pembelajaran dan pendampingan siswa.
3. Lokal
SD Inpres Koperapoka 1 membutuhkan sistem yang sesuai dengan kebutuhan nyata sekolah dan mudah digunakan oleh guru serta siswa.
Kegiatan absensi dan pembelajaran perlu terdokumentasi dalam satu alur yang mudah dipantau kepala sekolah.
Perangkat pembelajaran perlu tersedia secara terstruktur agar dapat digunakan dan dikembangkan kembali oleh guru.
Kondisi sarana internet dan perangkat digital perlu diperhitungkan dalam penerapan sistem secara bertahap.
Penguatan budaya kerja digital perlu dilakukan melalui pendampingan dan pembiasaan.
IV. METODE PEMBAHARUAN
A. Kondisi Sebelum adanya Program MATOA KOP I
Absensi
Pencatatan kehadiran masih membutuhkan proses manual; rekap dan pemeriksaan data memerlukan waktu
2. Perangkat pembelajaran
Dokumen pembelajaran tersimpan di tempat yang berbeda sehingga pencarian dan pemanfaatan ulang belum optimal.
3. Kegiatan pembelajaran harian
Catatan kegiatan dan tugas belum terhubung langsung dengan data kehadiran.
4. Pelaporan
Rekap absensi dan kegiatan pembelajaran memerlukan pekerjaan administratif berulang.
5. Pemantauan
Kepala sekolah belum memiliki satu alur informasi yang ringkas untuk memantau absensi dan aktivitas pembelajaran.
6. Komunikasi
Informasi tugas/bahan pembelajaran berpotensi tersebar pada beberapa media.
7. Dokumentasi
Bukti kegiatan pembelajaran belum seluruhnya terarsip secara sistematis.
B. Kondisi Setelah adanya Program MATOA KOP I
Absensi online real time
Guru dan siswa melakukan absensi melalui sistem; data tersimpan dan dapat direkap secara digital.
Pusat perangkat pembelajaran
Perangkat pembelajaran dapat dikelompokkan berdasarkan kelas, mata pelajaran, materi, dan kegiatan.
Integrasi Pembelajaran
Absensi dapat dihubungkan dengan kegiatan pembelajaran harian, materi, tugas, dan dokumentasi.
Pelaporan lebih efisien
Rekap dapat disusun dari data yang tersimpan sehingga mengurangi pekerjaan pencatatan berulang.
Pemantau Sekolah
Kepala sekolah memperoleh informasi yang lebih terstruktur untuk memantau pelaksanaan pembelajaran.
Akses Informasi
Guru dan siswa memiliki akses yang lebih terarah terhadap bahan dan tugas pembelajaran sesuai kewenangan.
Dokumentasi digital
Dokumen, tugas, dan bukti kegiatan dapat diarsipkan secara lebih sistematis.
C. Penyajian Data Kuantitatif (Target Rancangan)
Angka berikut merupakan target indikator ketercapaian yang dapat digunakan sebagai baseline evaluasi MATOA KOP I. Angka perlu diperbarui berdasarkan hasil pengukuran sekolah.
No
Indikator Dampak Program
Sebelum MATOA KOP I
Target Setelah MATOA KOP I
Pertumbuhan
1
Ketersediaan sistem absensi terintegrasi
10%
100%
+90%
2
Kecepatan/ketertiban rekap absensi
30%
90%
+60%
3
Ketersediaan perangkat pembelajaran terpusat
20%
100%
+80%
4
Dokumentasi kegiatan pembelajaran
25%
90%
+65%
5
Kemudahan pemantauan kepala sekolah
20%
90%
+70%
6
Keteraturan pemberian/pengumpulan tugas
30%
90%
+60%
7
Efisiensi pelaporan administrasi
25%
85%
+60%
8
Pemanfaatan teknologi digital oleh guru
35%
90%
+55%
Diagram Batang Teks : Perbandingan Target Sebelum dan Setelah MATOA KOP I
Absensi terintegrasi
Sebelum ██ 10% Sesudah ████████████████████ 100%
Rekap absensi
Sebelum ██████ 30% Sesudah ██████████████████ 90%
Perangkat pembelajaran
Sebelum ████ 20% Sesudah ████████████████████ 100%
Dokumentasi pembelajaran
Sebelum █████ 25% Sesudah ██████████████████ 90%
Pemantauan kepala sekolah
Sebelum ████ 20% Sesudah ██████████████████ 90%
Pengelolaan tugas
Sebelum ██████ 30% Sesudah ██████████████████ 90%
Pelaporan
Sebelum █████ 25% Sesudah █████████████████ 85%
Pemanfaatan digital guru
Sebelum ███████ 35% Sesudah ██████████████████ 90%
KEUNGGULAN/KEBAHARUAN
Terintegrasi: menghubungkan absensi online dengan perangkat dan aktivitas pembelajaran dalam satu sistem kerja.
Real time: mendukung pencatatan kehadiran dan pemantauan informasi secara lebih cepat.
Terpusat: perangkat pembelajaran dapat ditata dalam satu ruang digital sesuai kelas dan mata pelajaran.
Efisien: mengurangi pencatatan berulang dan membantu proses rekapitulasi.
Terukur: data dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dan pelaporan.
Kolaboratif: guru dapat berbagi perangkat, tugas, dan dokumentasi pembelajaran sesuai kewenangan.
Fleksibel: dapat dikembangkan bertahap sesuai kebutuhan dan kemampuan sarana sekolah.
Berorientasi pada pembelajaran: digitalisasi tidak hanya untuk administrasi, tetapi juga mendukung proses belajar siswa.
Memperkuat budaya digital sekolah: membiasakan warga sekolah menggunakan sistem yang tertib dan terdokumentasi.
Berpotensi menjadi praktik baik: model dapat dikembangkan sesuai kebutuhan sekolah lain dengan karakteristik serupa.
CARA KERJA INOVASI
MATOA KOP I dilaksanakan melalui tiga tahapan utama yaitu : Perencanaan, Pelaksanaan, serta Monitoring – Evaluasi dan Pengembangan.
1. Tahapan Perencanaan dan Persiapan
Analisis kebutuhan absensi, perangkat pembelajaran, tugas, dokumentasi, dan pelaporan.
Menentukan pengguna sistem: kepala sekolah, guru, siswa, dan bila diperlukan orang tua.
Menentukan menu dan alur kerja sistem sesuai kebutuhan sekolah.
Menyiapkan data dasar pengguna, kelas, mata pelajaran, dan struktur perangkat pembelajaran.
Menyusun SOP penggunaan, hak akses, pengelolaan data, dan pencadangan.
Melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada pengguna.
2. Tahap Pelaksanaan/Penggunaan
Guru dan siswa melakukan absensi online sesuai jadwal.
Data kehadiran tersimpan dalam sistem dan dapat digunakan untuk rekap.
Guru mencatat kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pada hari tersebut.
Guru mengunggah atau menyediakan perangkat pembelajaran seperti modul ajar/RPP, bahan ajar, LKPD, dan materi.
Guru memberikan tugas melalui sistem dan mengelola dokumentasi pengumpulan tugas.
Siswa mengakses materi dan tugas sesuai kelas/mata pelajaran.
Kepala sekolah memantau data absensi dan aktivitas pembelajaran sesuai kewenangan.
Data dan dokumen yang diperlukan disusun menjadi laporan berkala.
3. Tahap Monitoring, Refleksi, dan Pengembangan
Memeriksa keteraturan penggunaan sistem dan kelengkapan data.
Mengidentifikasi kendala teknis, jaringan, perangkat, maupun kemampuan pengguna.
Mengumpulkan umpan balik dari guru dan siswa.
Melakukan evaluasi keamanan dan ketepatan pengelolaan data.
Memperbaiki menu, alur, dan perangkat pendukung berdasarkan hasil evaluasi.
Menyusun laporan implementasi dan rencana pengembangan berikutnya.
VII. TUJUAN
Mewujudkan sistem absensi online yang lebih tertib, cepat, terdokumentasi, dan mudah dipantau.
Menyediakan pusat perangkat pembelajaran digital yang terstruktur dan mudah diakses sesuai kewenangan.
Mengintegrasikan data kehadiran dengan aktivitas pembelajaran, tugas, dan dokumentasi sekolah.
Meningkatkan efisiensi kerja guru dan pengelolaan administrasi sekolah.
Memudahkan kepala sekolah dalam melakukan monitoring dan memperoleh informasi untuk pengambilan keputusan.
Meningkatkan keterampilan dan budaya digital guru serta siswa.
Mendukung pembelajaran yang lebih terorganisasi, terdokumentasi, dan berkelanjutan.
Menyiapkan model digitalisasi sekolah yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan SD Inpres Koperapoka
1. VIII. MANFAAT/DAMPAK
Manfaat bagi Siswa
Memudahkan siswa melakukan absensi sesuai prosedur sekolah.
Memudahkan akses terhadap materi, LKPD, dan tugas pembelajaran.
Mendorong keteraturan dan tanggung jawab dalam mengikuti pembelajaran.
Meningkatkan literasi dan keterampilan menggunakan teknologi digital secara bertanggung jawab.
Memudahkan dokumentasi dan pemantauan tugas pembelajaran.
2. Manfaat bagi Guru
Memudahkan pencatatan kehadiran dan kegiatan pembelajaran.
Menyediakan tempat terstruktur untuk menyimpan perangkat pembelajaran.
Mengurangi pekerjaan rekapitulasi dan pencatatan yang berulang.
Memudahkan pemberian tugas dan dokumentasi hasil belajar.
Mendukung guru melakukan refleksi dan evaluasi pembelajaran berbasis data.
3. Manfaat bagi Kepala Sekolah
Memudahkan pemantauan kehadiran guru dan siswa.
Mendukung monitoring pelaksanaan pembelajaran secara lebih terstruktur.
Menyediakan data dan dokumentasi sebagai bahan evaluasi dan pelaporan.
Membantu pengambilan keputusan berdasarkan informasi yang lebih cepat dan terdokumentasi
4. Manfaat bagi Sekolah
Terbangunnya budaya administrasi dan pembelajaran berbasis digital.
Pengelolaan dokumen pembelajaran menjadi lebih terstruktur.
Efisiensi proses administrasi dan pelaporan.
Terbentuknya arsip digital yang dapat mendukung keberlanjutan program.
Meningkatkan citra sekolah sebagai satuan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
5. Manfaat bagi Orang Tua/Masyarakat
Mendukung keteraturan komunikasi dan informasi pendidikan apabila fitur akses orang tua diterapkan.
Mendorong keterlibatan orang tua dalam memantau proses belajar sesuai mekanisme yang ditetapkan sekolah.
Memperkuat transparansi informasi sekolah dengan tetap memperhatikan kewenangan akses dan perlindungan data.
Tujuan
Tujuan :
Mewujudkan sistem absensi online yang lebih tertib, cepat, terdokumentasi, dan mudah dipantau.
Menyediakan pusat perangkat pembelajaran digital yang terstruktur dan mudah diakses sesuai kewenangan.
Mengintegrasikan data kehadiran dengan aktivitas pembelajaran, tugas, dan dokumentasi sekolah.
Meningkatkan efisiensi kerja guru dan pengelolaan administrasi sekolah.
Memudahkan kepala sekolah dalam melakukan monitoring dan memperoleh informasi untuk pengambilan keputusan.
Meningkatkan keterampilan dan budaya digital guru serta siswa.
Mendukung pembelajaran yang lebih terorganisasi, terdokumentasi, dan berkelanjutan.
Menyiapkan model digitalisasi sekolah yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan SD Inpres Koperapoka
1.
Manfaat
MANFAAT/DAMPAK
Manfaat bagi Siswa
Memudahkan siswa melakukan absensi sesuai prosedur sekolah.
Memudahkan akses terhadap materi, LKPD, dan tugas pembelajaran.
Mendorong keteraturan dan tanggung jawab dalam mengikuti pembelajaran.
Meningkatkan literasi dan keterampilan menggunakan teknologi digital secara bertanggung jawab.
Memudahkan dokumentasi dan pemantauan tugas pembelajaran.
2. Manfaat bagi Guru
Memudahkan pencatatan kehadiran dan kegiatan pembelajaran.
Menyediakan tempat terstruktur untuk menyimpan perangkat pembelajaran.
Mengurangi pekerjaan rekapitulasi dan pencatatan yang berulang.
Memudahkan pemberian tugas dan dokumentasi hasil belajar.
Mendukung guru melakukan refleksi dan evaluasi pembelajaran berbasis data.
3. Manfaat bagi Kepala Sekolah
Memudahkan pemantauan kehadiran guru dan siswa.
Mendukung monitoring pelaksanaan pembelajaran secara lebih terstruktur.
Menyediakan data dan dokumentasi sebagai bahan evaluasi dan pelaporan.
Membantu pengambilan keputusan berdasarkan informasi yang lebih cepat dan terdokumentasi
4. Manfaat bagi Sekolah
Terbangunnya budaya administrasi dan pembelajaran berbasis digital.
Pengelolaan dokumen pembelajaran menjadi lebih terstruktur.
Efisiensi proses administrasi dan pelaporan.
Terbentuknya arsip digital yang dapat mendukung keberlanjutan program.
Meningkatkan citra sekolah sebagai satuan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
5. Manfaat bagi Orang Tua/Masyarakat
Mendukung keteraturan komunikasi dan informasi pendidikan apabila fitur akses orang tua diterapkan.
Mendorong keterlibatan orang tua dalam memantau proses belajar sesuai mekanisme yang ditetapkan sekolah.
Memperkuat transparansi informasi sekolah dengan tetap memperhatikan kewenangan akses dan perlindungan data.
Hasil inovasi
Hasil dari inovasi MATOA KOP I di SD Inpres Koperapoka 1 adalah:
Absensi online guru dan siswa menjadi lebih mudah, cepat, dan tertib.
Perangkat pembelajaran terintegrasi dengan RPP dan tugas pembelajaran dalam satu platform.
Efisiensi waktu kerja guru dalam mengelola administrasi dan kegiatan akademik.
Data sekolah lebih terorganisasi sehingga mudah diakses dan diperbarui.
Meningkatkan kedisiplinan dan tanggung jawab guru serta siswa.
Mendukung digitalisasi sekolah untuk mewujudkan pelayanan pendidikan yang lebih efektif dan modern.
Orang tua dapat memantau kehadiran dan kegiatan pembelajaran siswa di sekolah dalam satu platform
Data inovasi peserta Mimika Innovation Week tingkat kabupaten.
No.
Kategori anugerah
Judul inovasi
Tanggal pengembangan
Detail
11
Inovasi Pelayanan Publik
SA ANTAR KO (Sistem Layanan Antar Pulang Pasien Rawat Inap Orang Asli Papua)
2025-07-17
Ringkasan MIW
Pengusul
RSUD Mimika
Tipe inovator
instansi
Kontak
-
Anggota kelompok
-
Kategori anugerah
Inovasi Pelayanan Publik
Judul inovasi
SA ANTAR KO (Sistem Layanan Antar Pulang Pasien Rawat Inap Orang Asli Papua)
Tanggal pengembangan
2025-07-17
Latar belakang
Permasalahan mikro menggambarkan kondisi nyata yang terjadi di tingkat fasilitas layanan (RSUD Mimika) dan pasien:
Tertundanya pemulangan pasien karena kendala transportasi
Banyak pasien OAP tidak dapat segera pulang karena tidak memiliki biaya atau akses kendaraan.
Risiko komplikasi akibat keterlambatan pulang
Pasien yang seharusnya sudah pulang tetap berada di rumah sakit, berisiko mengalami infeksi nosokomial atau penurunan kondisi.
Inefisiensi penggunaan tempat tidur (BOR)
Keterlambatan discharge menyebabkan keterbatasan tempat tidur bagi pasien baru yang membutuhkan perawatan.
Beban tambahan bagi keluarga pasien
Keluarga harus mencari kendaraan dengan biaya tinggi atau menempuh jarak jauh untuk menjemput pasien.
Tidak adanya layanan antar pulang yang terstruktur,
Sebelum inovasi, mekanisme pemulangan pasien belum didukung sistem transportasi resmi yang aman dan terstandar.
Ketergantungan pada solusi informal
Pasien sering mengandalkan bantuan pribadi atau kendaraan tidak layak, yang berisiko terhadap keselamatan.
Tujuan
TUJUAN INOVASI
Menjamin semua pasien OAP dapat kembali ke rumah tanpa beban biaya transportasi
Mengurangi risiko komplikasi akibat perjalanan yang tidak aman
Mempercepat rotasi tempat tidur untuk efisiensi layanan
Meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga
Memperkuat citra RSUD sebagai rumah sakit yang peduli keselamatan pasien hingga tahap akhir perawatan
Manfaat
MANFAAT INOVASI
Program SA Antar KO memberikan manfaat komprehensif dengan menjamin pemulangan pasien Orang Asli Papua secara aman, mengurangi beban ekonomi, meningkatkan mutu layanan rumah sakit, serta mendukung pemerataan akses kesehatan di wilayah kabupaten mimika.
Rancang bangun
1. DASAR HUKUM
Perpres No.80 Tahun 2011 Tentang Grand Design Reformasi Birokrasi Indonesia 2010-2025
Inpres No.03 Tahun 2003 Tentang Kebijakan dan Srtategi Nasional Pengembangan e-Government
UU No.02 Tahun 2021 Tentang Perubahan Kedua atas UU No.21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua, Pada Pasal 59 Menyatakan Bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Provinsi Papua Berkewajiban Menetapkan Standar Mutu Memberikan Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Termasuk Peningkatan Gizi, Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Serta Melakukan Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit.
PP No.106 Tahun 2022 Tentang Kewenangan dan Kelembagaan Pelaksanaan Kebijakan Otonomi Khusus Provinsi Papua.
PP No.107 Tahun 2022 Tentang Penerimaan, Pengelolaan, Pengawasan dan Rencana Induk Percepatan Pembangunan dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Khusus Provinsi Papua.
UUD No.44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Bahwa Setiap Rumah Sakit Wajib Melakukan Pencatatan dan Pelaporan Tentang Semua Kegiatan Penyelenggaraan Rumah Sakit dan Bentuk Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS)
Permenkes No.1171 tahun 2011 Tentang SIRS Bahwa Setiap Rumah Sakit Wajib Melaksanakan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS)
Visi Bupati Mimika yaitu Responsif, Energik, Transparan, Terampil, Objektif, Berdaya Saing.
Visi Rumah Sakit Kabupaten Mimika yaitu Menjadi Rumah Sakit Yang Berkualitas, Mandiri dan Terkemuka di Wilayah Papua.
2. PERMASALAHAN
a. Makro
Permasalahan makro menggambarkan isu pada level sistem, kebijakan, dan kondisi wilayah yang lebih luas :
Ketimpangan akses layanan kesehatan di wilayah Papua
Kondisi geografis yang luas, terpencil, dan sulit dijangkau menyebabkan akses layanan kesehatan belum merata, terutama pada fase pasca-perawatan.
Belum optimalnya implementasi jaminan akses kesehatan terjangkau
Meskipun regulasi menjamin pembebasan atau keringanan biaya layanan kesehatan, aspek transportasi pasien belum sepenuhnya terakomodasi dalam kebijakan pembiayaan.
Keterbatasan infrastruktur transportasi dan konektivitas,
Jalan yang sulit dilalui, jarak antar wilayah yang jauh, serta keterbatasan moda transportasi menjadi hambatan utama mobilitas pasien.
Kesenjangan sosial-ekonomi masyarakat OAP
Sebagian masyarakat masih memiliki keterbatasan ekonomi, sehingga biaya non-medis (seperti transportasi) menjadi beban signifikan.
b. Mikro
Permasalahan mikro menggambarkan kondisi nyata yang terjadi di tingkat fasilitas layanan (RSUD Mimika) dan pasien:
Tertundanya pemulangan pasien karena kendala transportasi
Banyak pasien OAP tidak dapat segera pulang karena tidak memiliki biaya atau akses kendaraan.
Risiko komplikasi akibat keterlambatan pulang
Pasien yang seharusnya sudah pulang tetap berada di rumah sakit, berisiko mengalami infeksi nosokomial atau penurunan kondisi.
Inefisiensi penggunaan tempat tidur (BOR)
Keterlambatan discharge menyebabkan keterbatasan tempat tidur bagi pasien baru yang membutuhkan perawatan.
Beban tambahan bagi keluarga pasien
Keluarga harus mencari kendaraan dengan biaya tinggi atau menempuh jarak jauh untuk menjemput pasien.
Tidak adanya layanan antar pulang yang terstruktur,
Sebelum inovasi, mekanisme pemulangan pasien belum didukung sistem transportasi resmi yang aman dan terstandar.
Ketergantungan pada solusi informal
Pasien sering mengandalkan bantuan pribadi atau kendaraan tidak layak, yang berisiko terhadap keselamatan.
3. ISU STRATEGIS
a. Global
Secara global, masih terdapat kesenjangan dalam akses layanan kesehatan, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil dan berpenghasilan rendah, termasuk pada fase pasca-perawatan.
Tren global menekankan bahwa kualitas pelayanan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tetapi juga mencakup fase pemulangan dan pemulihan di rumah.
b. Nasional
Perbedaan akses layanan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil (terutama Indonesia Timur) masih tinggi.
Tantangan geografis dan infrastruktur, Wilayah kepulauan dan daerah dengan akses sulit menyebabkan hambatan dalam mobilitas pasien.
c. Lokal
Kendala nyata transportasi pasien OAP saat pemulangan
Biaya tinggi, jarak jauh, akses jalan sulit dan minim kendaraan menjadi hambatan utama pasien untuk kembali ke rumah.
Risiko keterlambatan pemulangan pasien
Pasien yang tertahan di rumah sakit berpotensi mengalami komplikasi serta mengganggu efisiensi pelayanan.
Beban ekonomi masyarakat lokal
Keterbatasan ekonomi membuat biaya transportasi menjadi beban signifikan bagi pasien dan keluarga.
4. METODE PEMBAHARUAN
a. Sebelum penerapan inovasi
Ada pasien menunda pulang karena tidak memiliki biaya
Risiko pasien tertahan di rumah sakit meskipun sudah sembuh
b. Sesudah penerapan inovasi
Pemulangan pasien lebih terstruktur dan terencana
Pasien tidak lagi menunda kepulangan karena kendala biaya
Waktu tunggu pemulangan lebih singkat
Kebaruan
Kerjasama dengan layanan transportasi online
layanan khusus dan pertama bagi OAP
Kesiapterapan
Pemulangan pasien lebih terstruktur dan terencana
Pasien tidak lagi menunda kepulangan karena kendala biaya
Waktu tunggu pemulangan lebih singkat
Potensi komersialisasi
-
Kemanfaatan
Program SA Antar KO memberikan manfaat komprehensif dengan menjamin pemulangan pasien Orang Asli Papua secara aman, mengurangi beban ekonomi, meningkatkan mutu layanan rumah sakit, serta mendukung pemerataan akses kesehatan di wilayah kabupaten mimika.
Program ini dirancang untuk menguatkan kompetensi teknis siswa sekaligus mengembangkan keterampilan non-teknis seperti komunikasi, empati, dan profesionalisme sebagai bekal kesiapan kerja.serta menghadirkan layanan kesehatan dasar yang nyaman, aman, dan mudah diakses oleh masyarakat .
Manfaat
Inovasi Home Care Service di SMK Negeri 3 Mimika memberikan manfaat yang signifikan bagi berbagai pihak. Bagi peserta didik, program ini menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang mampu meningkatkan kompetensi teknis, keterampilan komunikasi, empati, serta kesiapan kerja di bidang kesehatan dan pekerjaan sosial. Bagi masyarakat, layanan ini membantu meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan dasar secara langsung di rumah, sehingga lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran.Bagi sekolah, inovasi ini memperkuat peran sebagai lembaga pendidikan vokasi yang responsif terhadap kebutuhan lingkungan serta meningkatkan citra dan kepercayaan publik.
Rancang bangun
A. RANCANG BANGUN
1. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
4. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
5. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan.
6. Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi.
7. Permendikbud Nomor 34 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan SMK/MAK.
8. Permenkes Nomor 26 Tahun 2019 tentang Pelayanan Kesehatan.
9.Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses
10. Kebijakan Link and Match SMK dengan Dunia Kerja.
11.Kebijakan Merdeka Belajar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia
2. Permasalahan
Perkembangan dunia pendidikan vokasi saat ini dihadapkan pada tantangan besar, khususnya dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan nyata di dunia kerja dan masyarakat. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sebagai lembaga pendidikan yang berorientasi pada kesiapan kerja, dituntut untuk mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, profesional, serta memiliki pengalaman praktis yang relevan dengan bidang keahlian yang dipelajari.
a.Makro
Permasalahan utama proses pembelajaran di SMK sering kali masih berfokus pada aspek teoritis dan praktik terbatas di lingkungan sekolah, sehingga belum sepenuhnya memberikan pengalaman kerja nyata yang dibutuhkan oleh siswa. Di sisi lain, perkembangan sektor kesehatan menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan layanan berbasis rumah (home care), terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.
b. Mikro
Adanya kebutuhan mendesak untuk menghadirkan sebuah inovasi pembelajaran yang mampu menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan dasar. Oleh karena itu, inovasi Home Care Service menjadi sangat penting untuk diterapkan di SMK Negeri 3 Kesehatan dan Pekerjaan Sosial Mimika. Inovasi ini tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran berbasis pengalaman nyata (experiential learning), tetapi juga sebagai sarana penguatan kompetensi teknis dan soft skills siswa, seperti komunikasi, kerja sama, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
3. Isu Strategis
a. Global,
Terjadi pergeseran paradigma pelayanan kesehatan dari yang semula berpusat pada fasilitas kesehatan (hospital-based care) menuju pelayanan berbasis rumah (home-based care). Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelayanan kesehatan yang lebih personal, humanis, dan berkelanjutan. Selain itu, perkembangan demografi, seperti meningkatnya jumlah lansia serta pasien dengan penyakit kronis, turut mendorong kebutuhan akan layanan kesehatan yang dapat diberikan di rumah.
b.Nasional
Pemerintah Indonesia terus mendorong revitalisasi pendidikan vokasi melalui berbagai kebijakan strategis, seperti penguatan link and match antara SMK dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), serta implementasi pembelajaran berbasis praktik nyata. Sementara itu, sektor kesehatan di Indonesia juga menghadapi tantangan dalam pemerataan layanan, khususnya bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan. Kondisi ini membuka peluang bagi institusi pendidikan vokasi untuk berperan aktif melalui inovasi layanan kesehatan berbasis masyarakat, seperti Home Care Service.
c. local
Pada tingkat lokal, khususnya di Kabupaten Mimika, kebutuhan terhadap layanan kesehatan masyarakat masih cukup tinggi, terutama bagi kelompok masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan karena faktor geografis, ekonomi, maupun sosial. Di sisi lain, SMK Negeri 3 Kesehatan dan Pekerjaan Sosial Mimika sebagai sekolah berbasis keahlian kesehatan memiliki potensi besar dalam menyiapkan sumber daya manusia yang dapat berkontribusi langsung kepada masyarakat.
4. Metode Pembaharuan
a.Sebelum
layanan praktik peserta didik di SMK Negeri 3 Kesehatan dan Pekerjaan Sosial Mimika masih terbatas pada kegiatan simulasi di laboratorium sekolah. Pelayanan kepada masyarakat belum terintegrasi secara langsung, sehingga peserta didik hanya memperoleh pengalaman praktik dalam kondisi buatan. Selain itu, masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan dasar harus datang langsung ke fasilitas kesehatan, sehingga bagi sebagian warga yang memiliki keterbatasan waktu, jarak, atau kondisi fisik, akses pelayanan masih kurang efektif. Sekolah juga belum memiliki media layanan yang memudahkan masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan secara cepat.
b.Setelah
Home Care Service dikembangkan melalui pemanfaatan Whats App Business sebagai media pendaftaran dan komunikasi layanan. Masyarakat dapat menghubungi layanan melalui Whats App untuk menyampaikan kebutuhan pemeriksaan kesehatan atau pendampingan di rumah. Tim sekolah kemudian menindaklanjuti permintaan tersebut dengan menyiapkan peserta didik dan guru pembimbing untuk memberikan layanan langsung ke rumah.
Penerapan sistem ini membawa perubahan yang signifikan. Peserta didik tidak lagi hanya belajar melalui simulasi, tetapi memperoleh pengalaman nyata dalam memberikan pelayanan kesehatan dan sosial kepada masyarakat. Keterampilan teknis, komunikasi, empati, dan tanggung jawab profesional berkembang lebih optimal. Di sisi lain, masyarakat memperoleh kemudahan akses layanan kesehatan dasar secara lebih cepat, praktis, dan terjangkau tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan.
Melalui inovasi ini, sekolah mampu menghadirkan pelayanan yang lebih responsif sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran. Home Care Service berbasis Whats App Business menjadi sarana yang efektif untuk menghubungkan sekolah dengan masyarakat serta memperkuat peran sekolah sebagai pusat pendidikan vokasi yang inovatif dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar di Kabupaten Mimika.
5. Keunggulan/Kebaharuan
Salah satu keunggulan utama inovasi ini adalah siswa dilibatkan secara langsung dalam memberikan layanan kesehatan dasar kepada masyarakat, sehingga mereka memperoleh pengalaman praktik yang autentik (real experience). Hal ini menjadi nilai tambah yang sangat penting dalam meningkatkan kesiapan kerja lulusan.
Selain itu, inovasi ini memiliki kebaruan dalam pendekatan pembelajaran yang berbasis experiential learning dan student-centered learning. Siswa tidak hanya menjadi objek pembelajaran, tetapi berperan aktif sebagai pelaku layanan yang bertanggung jawab terhadap proses dan hasil pelayanan yang diberikan. Dalam proses ini, siswa tidak hanya mengembangkan kompetensi teknis, tetapi juga keterampilan non-teknis (soft skills), seperti komunikasi terapeutik, empati, etika profesi, kerja sama tim, serta kemampuan problem solving dalam situasi nyata. Penguatan aspek soft skills ini menjadi keunggulan penting yang sering kali belum optimal dalam pembelajaran konvensional.
Keunggulan lainnya terletak pada aspek relevansi sosial, di mana inovasi Home Care Service tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Program ini memungkinkan masyarakat, khususnya yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan, untuk memperoleh layanan kesehatan dasar secara lebih mudah dan terjangkau. Dengan demikian, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai agen pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
6. Cara Kerja Inovasi
Inovasi Home Care Service di SMK Negeri 3 Kesehatan dan Pekerjaan Sosial Mimika dirancang sebagai suatu sistem layanan kesehatan berbasis masyarakat yang terintegrasi dengan proses pembelajaran siswa. Mekanisme kerja inovasi ini tidak hanya menekankan pada aspek pelayanan kesehatan, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital, khususnya melalui platform Whats App Business, sebagai media komunikasi dan akses layanan yang mudah dijangkau oleh masyarakat.
Proses kerja inovasi diawali dengan penyediaan kanal layanan resmi berupa Whats App Business yang dikelola oleh pihak sekolah. Melalui platform ini, masyarakat dapat dengan mudah mengakses layanan Home Care Service dengan cara mengirimkan pesan, melakukan konsultasi awal, serta mengajukan permohonan layanan kesehatan di rumah. Pemanfaatan Whats App Business menjadi keunggulan tersendiri karena bersifat praktis, familiar bagi masyarakat, serta memungkinkan komunikasi yang cepat dan responsif.
Setelah permintaan layanan diterima, tim pengelola yang terdiri dari guru pembimbing dan siswa melakukan proses verifikasi dan identifikasi kebutuhan pasien. Pada tahap ini dilakukan pengkajian awal terkait kondisi kesehatan, jenis layanan yang dibutuhkan, lokasi, serta waktu pelaksanaan. Informasi tersebut kemudian digunakan sebagai dasar dalam menyusun rencana pelayanan yang sesuai dan aman bagi pasien.
Selanjutnya, sekolah membentuk tim layanan yang terdiri dari siswa sesuai dengan kompetensi keahlian yang relevan, di bawah supervisi langsung guru atau tenaga profesional. Sebelum pelaksanaan layanan, siswa diberikan pengarahan dan briefing terkait prosedur pelayanan, etika profesi, serta standar operasional yang harus dipatuhi. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa layanan yang diberikan memenuhi standar kualitas dan keselamatan.
Pelaksanaan layanan dilakukan dengan mengunjungi rumah pasien sesuai jadwal yang telah disepakati. Dalam kegiatan ini, siswa melakukan tindakan pelayanan kesehatan dasar sesuai kewenangan dan kompetensinya, seperti pemeriksaan tanda-tanda vital, perawatan sederhana, edukasi kesehatan, serta pendampingan pasien. Seluruh proses pelayanan dilakukan dengan mengedepankan prinsip profesionalisme, empati, dan komunikasi terapeutik.
Setelah layanan selesai, dilakukan tahap evaluasi dan tindak lanjut. Siswa bersama guru pembimbing melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan, baik dari aspek teknis maupun non-teknis. Selain itu, dokumentasi kegiatan juga dilakukan sebagai bagian dari penilaian pembelajaran dan bahan evaluasi program. Komunikasi lanjutan dengan pasien tetap dilakukan melalui Whats App Business untuk memantau kondisi pasien serta memberikan edukasi kesehatan berkelanjutan.
Tujuan Inovasi
Inovasi “(DISKO)Disiplin Komitmen Sekolah” merupakan sebuah upaya pembaharuan budaya sekolah yang dirancang untuk meningkatkan kedisiplinan, tanggung jawab, serta komitmen seluruh warga sekolah dalam menjalankan aturan dan tata tertib yang berlaku. Inovasi ini hadir sebagai solusi terhadap permasalahan keterlambatan dan rendahnya kesadaran disiplin yang dapat memengaruhi proses pembelajaran serta kualitas lingkungan sekolah.
Melalui inovasi ini, sekolah berupaya menciptakan budaya positif yang tidak hanya berfokus pada pemberian sanksi, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesadaran diri. Penerapan disiplin dilakukan secara konsisten, terukur, dan melibatkan seluruh unsur sekolah mulai dari peserta didik, guru, tenaga kependidikan, hingga warga sekolah lainnya sehingga tercipta lingkungan belajar yang tertib, nyaman, dan produktif.
Adapun tujuan dari inovasi “DISKO(Disiplin Komitmen Sekolah)” yaitu:
Menanamkan nilai disiplin dan tanggung jawab kepada peserta didik, guru, dan seluruh warga sekolah sebagai bagian dari pembentukan karakter yang positif.
Mengurangi angka keterlambatan guru, peserta didik, dan warga sekolah melalui penerapan aturan yang jelas, pengawasan yang konsisten, serta pembiasaan budaya tepat waktu.
Membangun lingkungan sekolah yang tertib, aman, nyaman, dan produktif sehingga mendukung terciptanya proses pembelajaran yang efektif dan berkualitas.
Manfaat
Manfaat Inovasi
Penerapan inovasi Disiplin Komitmen Sekolah memberikan dampak positif dalam membangun budaya disiplin dan tanggung jawab di lingkungan sekolah. Melalui program ini, seluruh warga sekolah dibiasakan untuk mematuhi aturan dan menghargai waktu sehingga tercipta lingkungan belajar yang lebih tertib dan kondusif. Adapun beberapa manfaat dari penerapan inovasi ini adalah sebagai berikut:
Berkurangnya angka keterlambatan guru, peserta didik, dan warga sekolah hadir di sekolah.
Dengan adanya komitmen disiplin yang diterapkan secara konsisten, tingkat keterlambatan mengalami penurunan. Guru, peserta didik, dan warga sekolah menjadi lebih sadar akan pentingnya hadir tepat waktu sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung lebih efektif dan teratur.
Setiap individu lebih menghargai waktu dan aturan tata tertib.
Inovasi ini membantu menanamkan sikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh warga sekolah menjadi lebih patuh terhadap aturan tata tertib serta memiliki kesadaran untuk memanfaatkan waktu dengan baik. Kebiasaan positif tersebut turut membentuk karakter yang bertanggung jawab dan berintegritas.
Rancang bangun
DASAR HUKUM
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 (Sistem Pendidikan Nasional) dan Peraturan Teknisnya.
Tata Tertib Sekolah (SMA N 6 Mimika)
PERMASALAHAN
Makro
Fenomena keterlambatan siswa datang ke sekolah yang terus terjadi dan dianggap sebagai hal biasa merupakan permasalahan makro dalam dunia pendidikan yang berkaitan dengan menurunnya budaya disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran terhadap pentingnya pendidikan karakter di lingkungan masyarakat. Permasalahan ini tidak hanya berdampak pada individu siswa, tetapi juga memengaruhi kualitas proses pendidikan secara luas. Keterlambatan siswa menjadi gambaran adanya krisis kedisiplinan yang perlahan berkembang di lingkungan sekolah akibat lemahnya pengawasan, kurangnya ketegasan penerapan aturan, serta rendahnya kesadaran sebagian siswa dan orang tua terhadap pentingnya manajemen waktu.
Dalam konteks yang lebih luas, kebiasaan datang terlambat menunjukkan adanya perubahan pola perilaku generasi muda yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan perkembangan teknologi. Penggunaan gadget secara berlebihan, kebiasaan tidur larut malam, rendahnya kontrol diri, hingga minimnya pengawasan keluarga menjadi faktor yang turut memperkuat budaya tidak disiplin di kalangan pelajar. Selain itu, sebagian lingkungan masyarakat mulai menganggap keterlambatan sebagai sesuatu yang wajar sehingga pelanggaran terhadap tata tertib sekolah tidak lagi dipandang sebagai masalah serius. Kondisi ini menyebabkan nilai-nilai kedisiplinan yang seharusnya menjadi dasar pembentukan karakter siswa semakin melemah.
Permasalahan keterlambatan siswa juga berdampak terhadap kualitas pembelajaran dan efektivitas pendidikan di sekolah. Siswa yang datang terlambat cenderung kehilangan kesempatan menerima materi pelajaran secara utuh, mengalami penurunan motivasi belajar, serta kurang mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus dan dialami oleh banyak siswa, maka akan memengaruhi kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan. Sekolah tidak hanya menghadapi tantangan dalam meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga menghadapi tantangan besar dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab peserta didik.
Secara makro, fenomena ini menunjukkan bahwa permasalahan disiplin siswa bukan hanya tanggung jawab sekolah semata, melainkan memerlukan keterlibatan berbagai pihak, seperti keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Diperlukan penguatan pendidikan karakter, peningkatan kerja sama antara orang tua dan sekolah, penegakan aturan yang konsisten, serta pembinaan moral dan etika kepada siswa agar budaya disiplin dapat kembali ditanamkan sejak dini. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi lingkungan yang mampu membentuk generasi muda yang bertanggung jawab, menghargai waktu, dan memiliki karakter yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.
Mikro
Permasalahan keterlambatan siswa di sekolah menunjukkan bahwa penerapan hukuman yang selama ini dilakukan belum memberikan dampak yang efektif terhadap perubahan perilaku siswa. Sebelumnya, siswa yang datang terlambat diberikan sanksi berupa memungut sampah di lingkungan sekolah atau membersihkan kamar mandi sebagai bentuk pembinaan disiplin. Namun, hukuman tersebut justru mulai dianggap sebagai hal yang biasa oleh siswa sehingga tidak lagi menimbulkan efek jera. Akibatnya, jumlah siswa yang datang terlambat pada setiap hari efektif sekolah tidak mengalami penurunan yang signifikan.
Kondisi ini menunjukkan adanya penurunan makna disiplin dalam diri siswa. Sebagian siswa menganggap hukuman tersebut hanya sebagai rutinitas biasa yang tidak memberikan konsekuensi serius terhadap pelanggaran yang dilakukan. Bahkan, terdapat siswa yang tetap mengulangi keterlambatan meskipun sudah beberapa kali menerima hukuman yang sama. Hal ini menandakan bahwa pendekatan yang diterapkan lebih bersifat formalitas dan belum menyentuh kesadaran siswa tentang pentingnya menghargai waktu serta mematuhi aturan sekolah.
Selain itu, permasalahan ini juga dapat dipengaruhi oleh kurangnya pengawasan dan pembinaan secara berkelanjutan dari berbagai pihak, baik guru maupun orang tua. Beberapa siswa masih kurang memiliki motivasi untuk datang tepat waktu karena belum memahami dampak negatif keterlambatan terhadap proses belajar mereka sendiri. Di sisi lain, hukuman yang monoton dan dilakukan secara berulang tanpa evaluasi menyebabkan siswa menjadi terbiasa dan tidak merasa terbebani dengan konsekuensi yang diberikan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka budaya tidak disiplin akan semakin berkembang di lingkungan sekolah dan dapat memengaruhi siswa lainnya. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembinaan yang lebih efektif, seperti pemberian motivasi, pendekatan personal kepada siswa, kerja sama dengan orang tua, serta penerapan sanksi yang lebih mendidik dan mampu menumbuhkan kesadaran disiplin dari dalam diri siswa. Dengan demikian, upaya mengurangi keterlambatan tidak hanya berfokus pada pemberian hukuman, tetapi juga pada pembentukan karakter dan tanggung jawab siswa sebagai pelajar.
ISU STRATEGIS
1. Global
Pada tingkat global, perkembangan teknologi dan arus informasi yang sangat cepat memberikan pengaruh besar terhadap perilaku dan karakter peserta didik. Sekolah dituntut untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga disiplin dan memiliki tanggung jawab yang tinggi.
Menurunnya karakter disiplin peserta didik akibat pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi digital.
Tantangan penggunaan media sosial dan gadget yang memengaruhi fokus, tanggung jawab, serta kepatuhan siswa terhadap aturan sekolah.
Persaingan pendidikan global menuntut sekolah menghasilkan generasi yang disiplin, berkarakter, dan memiliki etos kerja tinggi.
Pembentukan budaya disiplin menjadi bagian penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang mampu bersaing di era global.
Sekolah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai komitmen, tanggung jawab, dan kedisiplinan sejak dini.
2. Nasional
Secara nasional, peningkatan disiplin siswa menjadi bagian penting dalam penguatan pendidikan karakter. Berbagai bentuk pelanggaran tata tertib sekolah menunjukkan perlunya komitmen sekolah dalam membangun budaya disiplin yang konsisten dan berkelanjutan.
Rendahnya kesadaran sebagian peserta didik terhadap tata tertib sekolah seperti keterlambatan, pelanggaran aturan, dan kurangnya tanggung jawab belajar.
Penguatan pendidikan karakter menjadi program prioritas dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Disiplin sekolah mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, tertib, dan kondusif.
Komitmen sekolah diperlukan untuk membangun budaya positif melalui aturan yang konsisten dan pembinaan berkelanjutan.
Kerja sama antara sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam meningkatkan disiplin siswa.
3. Lokal
Dalam lingkup lokal, permasalahan disiplin sering terlihat dari kebiasaan siswa yang kurang mematuhi aturan sekolah, seperti datang terlambat dan kurang menjaga ketertiban. Kondisi ini memerlukan perhatian serta inovasi sekolah agar budaya disiplin dapat diterapkan secara efektif.
Masih ditemukan siswa yang datang terlambat, kurang mematuhi aturan sekolah, dan rendahnya kesadaran menjaga ketertiban sekolah.
Pemberian sanksi yang bersifat rutin terkadang belum memberikan efek perubahan perilaku yang signifikan.
Lingkungan pergaulan dan kebiasaan sehari-hari siswa memengaruhi tingkat kedisiplinan di sekolah.
Perlunya inovasi sekolah dalam membangun budaya disiplin yang lebih efektif, edukatif, dan berkelanjutan.
Komitmen seluruh warga sekolah diperlukan agar tercipta budaya disiplin yang menjadi kebiasaan positif siswa
4. METODE PEMBAHARUAN
Sebelum Penerapan Inovasi
Sebelum diterapkannya inovasi Disiplin Komitmen Sekolah, penanganan terhadap siswa yang datang terlambat masih menggunakan metode sanksi umum, seperti membersihkan halaman sekolah maupun membersihkan kamar mandi. Namun, bentuk hukuman tersebut belum mampu memberikan efek jera maupun perubahan perilaku yang signifikan kepada siswa. Keterlambatan menjadi kebiasaan yang terus berulang dan dianggap hal biasa oleh sebagian siswa.
Permasalahan ini telah berlangsung cukup lama, bahkan sejak kurang lebih 12 tahun berdirinya SMA N
6. Jumlah siswa yang datang terlambat setiap hari sekolah masih tergolong tinggi, yaitu sekitar 30–60 orang per hari. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa metode sebelumnya belum efektif dalam membangun kesadaran, tanggung jawab, serta komitmen disiplin siswa terhadap aturan sekolah.
Sesudah Penerapan Inovasi
Setelah diterapkannya inovasi Disiplin Komitmen Sekolah, mulai terlihat perubahan positif terhadap tingkat kedisiplinan siswa. Inovasi ini mulai diterapkan pada tahap uji coba tanggal 2 Agustus 2025 dengan masa percobaan selama satu minggu. Pendekatan baru yang diterapkan mampu meningkatkan kesadaran siswa untuk lebih menghargai waktu dan mematuhi aturan sekolah.
Hasil dari penerapan inovasi menunjukkan adanya penurunan jumlah siswa yang terlambat secara bertahap. Jika sebelumnya jumlah keterlambatan mencapai 30–60 orang per hari, setelah inovasi diterapkan angka tersebut menurun menjadi sekitar 10–20 orang per hari. Perubahan ini menunjukkan bahwa inovasi Disiplin Komitmen Sekolah lebih efektif dalam membangun budaya disiplin, rasa tanggung jawab, dan komitmen siswa terhadap tata tertib sekolah.
5. KEUNGGULAN/KEBAHARUAN
Keunggulan dan keunikan inovasi Disiplin Komitmen Sekolah terletak pada penerapan budaya disiplin yang dilakukan secara konsisten dan melibatkan seluruh warga sekolah. Inovasi ini tidak hanya menekankan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga membangun kesadaran bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang tertib, nyaman, dan berkarakter. Dengan adanya komitmen bersama, disiplin menjadi sebuah kebiasaan positif yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Terbentuknya iklim belajar yang tertib, aman, nyaman, dan kondusif.
Penerapan disiplin yang baik mampu menciptakan suasana belajar yang lebih teratur sehingga proses pembelajaran berjalan efektif. Peserta didik menjadi lebih tepat waktu, fokus dalam mengikuti pelajaran, serta memiliki tanggung jawab terhadap tugas dan aturan sekolah. Lingkungan sekolah pun menjadi lebih harmonis dan mendukung peningkatan prestasi belajar.
Terjadi perubahan kualitas karakter menjadi lebih baik.
Inovasi ini memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter peserta didik maupun warga sekolah. Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, dan menghargai waktu mulai tertanam dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya kesadaran siswa untuk menaati aturan, berperilaku sopan, serta memiliki semangat dan komitmen dalam belajar maupun menjalankan tugas di sekolah.
6. CARA KERJA INOVASI
Tahapan inovasi penerapan Disiplin Komitmen Sekolah dilakukan secara terencana dan melibatkan seluruh warga sekolah agar program dapat berjalan dengan baik serta memberikan dampak positif terhadap pembentukan budaya disiplin di lingkungan sekolah. Adapun tahapan pelaksanaannya sebagai berikut:
Inisiator Bapak Kepala Sekolah.
Program diawali dari gagasan dan inisiatif Kepala Sekolah sebagai upaya meningkatkan disiplin peserta didik, guru, dan warga sekolah. Kepala sekolah berperan sebagai penggerak utama dalam merancang serta mengarahkan pelaksanaan inovasi.
Rapat Dewan Guru dan Disepakati
Setelah adanya gagasan program, dilakukan rapat bersama dewan guru untuk membahas tujuan, aturan, mekanisme, dan bentuk pelaksanaan inovasi. Hasil rapat kemudian disepakati bersama sebagai komitmen seluruh guru dalam mendukung program disiplin sekolah.
Sosialisasi kepada Orang Tua/Wali Murid Kelas X, XI, dan XII.
Sekolah melakukan sosialisasi kepada orang tua/wali murid agar memahami tujuan dan manfaat program. Kegiatan ini bertujuan membangun kerja sama antara pihak sekolah dan orang tua dalam membimbing serta mengawasi kedisiplinan peserta didik.
Pelaksanaan
Program dilaksanakan secara konsisten dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Seluruh warga sekolah menerapkan aturan dan komitmen disiplin yang telah disepakati guna menciptakan lingkungan belajar yang tertib, nyaman, dan berkarakter
LINDA . 2 (Layanan Informasi dan Dampingan Keluarga)
2025-03-11
Ringkasan MIW
Pengusul
BLUD PUSKESMAS TIMIKA
Tipe inovator
instansi
Kontak
-
Anggota kelompok
-
Kategori anugerah
Inovasi Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Judul inovasi
LINDA . 2 (Layanan Informasi dan Dampingan Keluarga)
Tanggal pengembangan
2025-03-11
Latar belakang
Pada awalnya, inovasi ini lahir dari sebuah komitmen sederhana: memastikan bahwa tidak ada satu pun keluarga yang luput dari akses pelayanan kesehatan dasar. Di masa-masa awal, gerakan pelayanan terintegrasi dengan pendekatan keluarga ini berjalan sepenuhnya melalui sistem manual yang mengandalkan dedikasi fisik para petugas lapangan.
Proses panjang dan melelahkan harus dilalui sebelum tim kesehatan bisa turun ke masyarakat. Petugas harus duduk melingkar di Puskesmas, menyisir tumpukan berkas cetak untuk melakukan pendataan awal, memetakan wilayah secara konvensional, dan mencatat target kunjungan di atas lembaran-lembaran kertas. Setelah data awal siap, barulah kunjungan rumah (home care) dilakukan. Petugas menyusuri jalan, mengetuk pintu warga satu per satu, melakukan intervensi kesehatan, dan kembali mencatat hasilnya secara manual. Meski penuh dengan kehangatan tatap muka, sistem manual ini memiliki keterbatasan ruang dan waktu.
Tujuan
Memudahkan masyarakat yang memiliki keterbatasan (lansia dengan dengan keterbatasan mobilitas, pasien dengan penyakit kronis dan pasien ODGJ) untuk mendapatkan akses layanan kesehatan, Serta keluarga lainnya yang membutuhkan informasi dan dampingan layanan kesehatan
Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kesehatan
Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk deteksi dini penyakit
Menurunkan angka kejadian penyakit menular dan tidak menular di masyarakat.
Manfaat
1. Mudahnya masyarakat mendapatkan layanan kesehatan tanpa perlu berkunjung ke fasilitas kesehatan
2. Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya deteksi dini penyakit menular dan tidak menular
3. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan perilaku hidup bersih dan sehat pada tatanan rumah tangga
4. Menurunnya angka kejadian penyakit menular dan tidak menular di masyarakat
Rancang bangun
DASAR HUKUM
Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan
Undang-Undang No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
Undang-Undang No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan
Undang-Undang No. 19 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Puskesmas
Peraturan Presiden No. 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah
Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) No.01.07/MENKES/2015/2023 tentang Petunjuk Teknis Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer
Peraturan Bupati Mimika No. 49 tahun 2024 Tentang Penetapan Inovasi Daerah
PERMASALAHAN
MAKRO :
Adapun permasalahan bidang kesehatan di kabupaten Mimika setelah kami identifikasi adalah sebagai berikut :
Akses layanan kesehatan yang belum merata:
Distribusi fasilitas kesehatan yang tidak merata, dengan sebagian besar puskesmas dan rumah sakit terpusat di kota Timika, sedangkan di daerah pedalaman masih minim akses layanan kesehatan.
Kekurangan tenaga kesehatan, terutama dokter dan spesialis, di beberapa daerah.
Infrastruktur jalan dan transportasi yang belum memadai, sehingga menyulitkan masyarakat di daerah terpencil untuk menjangkau layanan kesehatan.
Tingginya angka penyakit menular:
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA): ISPA masih menjadi salah satu penyakit terbanyak di Mimika, terutama pada anak-anak.
Tuberkulosis (TB): Angka kejadian TB di Mimika masih cukup tinggi, dan menjadi salah satu penyebab kematian utama di daerah ini.
Malaria: Malaria masih menjadi masalah kesehatan di beberapa wilayah di Mimika, terutama di daerah pesisir dan dataran rendah.
HIV/
AIDS: Angka prevalensi HIV/AIDS di Mimika tergolong tinggi, dan menjadi salah satu fokus utama dalam penanggulangan penyakit menular di daerah ini.
Masalah kesehatan terkait gizi:
Stunting: Prevalensi stunting di Mimika masih cukup tinggi, terutama pada anak balita di daerah pedalaman.
Kurang gizi: Kekurangan gizi pada anak-anak masih menjadi masalah di beberapa wilayah di Mimika.
Masalah kesehatan lingkungan:
Akses air bersih dan sanitasi yang belum memadai: Hal ini menyebabkan tingginya angka penyakit yang terkait dengan sanitasi yang buruk, seperti diare dan penyakit cacingan.
Lingkungan yang tercemar: Pencemaran lingkungan, seperti pencemaran udara dan air, dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti penyakit pernapasan dan kanker.
MIKRO :
Adapun permasalahan bidang kesehatan di Puskesmas Timika setelah kami identifikasi yang merupakan Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2024 adalah sebagai berikut :
Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (22%)
Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin (15%)
Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir (16%)
Pelayanan Kesehatan Balita (24%)
Pelayanan Kesehatan Pada Usia Pendidikan Dasar (96%)
Pelayanan Kesehatan Pada Usia Produktif (36%)
Pelayanan Kesehatan Pada Usia Lansia (21%)
Pelayanan Kesehatan Penderita Hipertensi (18%)
Pelayanan Kesehatan Diabetes Melitus (18%)
Pelayanan Kesehatan Orang Dengan Gangguan Jiwa Berat (71%)
Pelayanan Kesehatan orang dengan TB (87%)
Pelayanan Kesehatan Orang dengan Risiko Terinfeksi HIV (22%)
ISU STRATEGIS
ISU
GLOBAL:
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ketiga dengan fokus pada "Menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua pada semua usia".
Mengurangi rasio kematian ibu secara global hingga kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup.
Mengakhiri kematian bayi baru lahir dan balita yang dapat dicegah.
Mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit tropis terabaikan lainnya, serta memerangi hepatitis, penyakit menular seksual, dan penyakit menular lainnya.
Mengurangi dengan separuh jumlah kematian akibat penyakit tidak menular kronis pada tahun
2030. Memastikan akses universal ke layanan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk perencanaan keluarga, informasi dan edukasi, dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang aman dan efektif.
Mencapai cakupan kesehatan universal, termasuk akses yang adil ke layanan kesehatan esensial yang berkualitas, obat-obatan dan produk kesehatan yang aman, efektif, terjangkau, dan berkualitas, dan tenaga kesehatan yang terampil.
ISU
NASIONAL :
Ketersediaan dan Kualitas Tenaga Kesehatan: Masih ada ketimpangan distribusi tenaga kesehatan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Banyak daerah terpencil kekurangan tenaga kesehatan, baik dokter, perawat, maupun bidan. Selain itu, kualitas pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan juga menjadi perhatian.
Akses Pelayanan Kesehatan: Akses terhadap layanan kesehatan masih belum merata. Daerah-daerah terpencil sering kali sulit dijangkau dan minim fasilitas kesehatan. Masalah infrastruktur, seperti transportasi dan komunikasi, turut mempengaruhi akses ini.
Pendanaan dan Pembiayaan Kesehatan: Pembiayaan kesehatan yang terbatas menjadi kendala dalam penyediaan layanan yang berkualitas. Meskipun ada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), masih ada tantangan dalam hal pengelolaan dan keberlanjutan dana.
Penyakit Menular dan Tidak Menular: Penyakit menular seperti tuberculosis, malaria, dan HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan utama. Selain itu, penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung juga meningkat dan memerlukan perhatian serius.
Kualitas Pelayanan Kesehatan: Masih ada keluhan terkait kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan, termasuk waktu tunggu yang lama, pelayanan yang kurang ramah, dan ketersediaan obat yang terbatas.
ISU
LOKAL :
Kabupaten ini juga menghadapi masalah kesehatan spesifik, seperti malaria yang masih cukup tinggi, serta masalah kesehatan masyarakat lainnya seperti gizi kurang dan penyakit menular.
METODE PEMBAHARUAN
Pada awalnya, inovasi ini lahir dari sebuah komitmen sederhana: memastikan bahwa tidak ada satu pun keluarga yang luput dari akses pelayanan kesehatan dasar. Di masa-masa awal, gerakan pelayanan terintegrasi dengan pendekatan keluarga ini berjalan sepenuhnya melalui sistem manual yang mengandalkan dedikasi fisik para petugas lapangan.
Proses panjang dan melelahkan harus dilalui sebelum tim kesehatan bisa turun ke masyarakat. Petugas harus duduk melingkar di Puskesmas, menyisir tumpukan berkas cetak untuk melakukan pendataan awal, memetakan wilayah secara konvensional, dan mencatat target kunjungan di atas lembaran-lembaran kertas. Setelah data awal siap, barulah kunjungan rumah (home care) dilakukan. Petugas menyusuri jalan, mengetuk pintu warga satu per satu, melakukan intervensi kesehatan, dan kembali mencatat hasilnya secara manual. Meski penuh dengan kehangatan tatap muka, sistem manual ini memiliki keterbatasan ruang dan waktu.
Menyadari bahwa pelayanan kesehatan masyarakat harus bergerak lebih cepat, responsif, dan tanpa sekat, sistem ini mengambil langkah berani untuk bermigrasi ke ruang digital. Langkah kaki petugas di lapangan kini diperkuat oleh sistem otomatisasi yang andal. Melalui pembaruan visi dan teknologi, lahirlah LINDA.2, yang kini bertransformasi menjadi Layanan Informasi dan Dampingan Keluarga.
Kata "Dampingan" pada nama baru ini menegaskan komitmen Puskesmas untuk tidak hanya hadir saat kunjungan fisik, melainkan mendampingi kesehatan keluarga setiap saat. Jembatan transformasi ini ditemukan pada teknologi yang paling dekat dengan keseharian masyarakat: Whats App Chatbot. Transformasi ini mengubah paradigma lama—jika dulu masyarakat yang harus mencari informasi atau petugas yang harus selalu mengetuk pintu, kini seluruh pusat informasi dan pendampingan Puskesmas telah berpindah ke dalam ruang obrolan di genggaman tangan masyarakat.
Melalui nomor Whats App resmi LINDA.2, masyarakat kini dapat mengakses berbagai layanan kesehatan esensial dan pendampingan selama 24 jam dengan sangat mudah, instan, dan interaktif:
Informasi Jadwal Posyandu yang Aktual: Para ibu tidak perlu lagi khawatir terlewat jadwal imunisasi atau penimbangan balita. Cukup dengan memilih menu pada chatbot Whats App, jadwal Posyandu berkala di wilayah sekitar akan langsung tertera secara real-time.
Edukasi Kesehatan Digital: Kebutuhan akan informasi kesehatan, mulai dari tips gizi seimbang, pencegahan penyakit menular, hingga pola hidup bersih dan sehat, kini tersaji dalam bentuk pesan teks yang ringkas, valid, dan mudah dipahami.
Integrasi Layanan Home Care (Dampingan Nyata): Inilah perwujudan sejati dari fungsi dampingan pada LINDA.
2. Bagi pasien yang memiliki keterbatasan fisik, kaum lansia, atau pasien kronis yang kesulitan untuk datang langsung ke Puskesmas, mereka tidak lagi merasa terisolasi. Melalui fitur Home Care di chatbot Whats App, pasien atau keluarganya dapat langsung mengajukan permohonan kunjungan. Sistem ini terhubung langsung dengan Puskesmas, sehingga tim medis dapat segera menjadwalkan kunjungan rumah secara terukur dan tepat sasaran.
Kotak Saran dan Keluhan Digital: Transparansi dan evaluasi kini menjadi lebih mudah. Masyarakat diberikan ruang khusus di dalam chatbot untuk mengirimkan keluhan, kritik, maupun saran terkait pelayanan di Puskesmas. Setiap masukan langsung terekam ke sistem manajemen sebagai bahan perbaikan kualitas layanan yang berkelanjutan.
Melalui transformasi menuju LINDA.2 (Layanan Informasi dan Dampingan Keluarga) berbasis Whats App, Puskesmas telah membuktikan bahwa pemanfaatan teknologi tidak menghapus esensi dari pendekatan keluarga, melainkan justru memperluas dan memperkuat jangkauannya
KEUNGGULAN/KEBAHARUAN?)
LINDA.2 adalah wujud nyata komitmen BLUD Puskesmas Timika dalam mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan memadukan teknologi chatbot via whatsapp yang sederhana namun kaya fungsi seperti adanya layanan jadwal posyandu, edukasi kesehatan, keluhan/saran, hingga layanan home care. LINDA.2 sukses bertransformasi menajdi sahabat digital keluarga yang andal demi mewujudkan masyarakat Timika yang lebih sehat dan mandiri.
CARA KERJA INOVASI
Melalui mekanisme yang sangat praktis yaitu dengan memindai kode respons cepat (QR Code) atau menyimpan nomor whatsapp resmi dari brosur/flayer yang tersebar di media sosial. Masyarakat di wilayah kerja BLUD Puskesmas Timika dapat langsung mengakses Layanan Informasi dan Dampingan Keluarga (LINDA). Inovasi berbasis chatbot ini memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memlilih layanan secara insntan, mulai dari layanan jadwal posyandu, edukasi kesehatan, keluhan/saran, hingga pengajuan kunjungan rumah (home care), sehingga pelayanan kesehatan yang responsif ini dapat terwujud dalam satu genggaman.
Kebaruan
Melalui nomor Whats App resmi LINDA.2, masyarakat kini dapat mengakses berbagai layanan kesehatan esensial dan pendampingan selama 24 jam dengan sangat mudah, instan, dan interaktif:
Bagi pasien yang memiliki keterbatasan fisik, kaum lansia, atau pasien kronis yang kesulitan untuk datang langsung ke Puskesmas, mereka tidak lagi merasa terisolasi. Melalui fitur Home Care di chatbot Whats App, pasien atau keluarganya dapat langsung mengajukan permohonan kunjungan. Sistem ini terhubung langsung dengan Puskesmas, sehingga tim medis dapat segera menjadwalkan kunjungan rumah secara terukur dan tepat sasaran
Kesiapterapan
LINDA.2 adalah wujud nyata komitmen BLUD Puskesmas Timika dalam mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan memadukan teknologi chatbot via whatsapp yang sederhana namun kaya fungsi seperti adanya layanan jadwal posyandu, edukasi kesehatan, keluhan/saran, hingga layanan home care. LINDA.2 sukses bertransformasi menajdi sahabat digital keluarga yang andal demi mewujudkan masyarakat Timika yang lebih sehat dan mandiri.
Potensi komersialisasi
-
Kemanfaatan
Melalui nomor Whats App resmi LINDA.2, masyarakat kini dapat mengakses berbagai layanan kesehatan esensial dan pendampingan selama 24 jam dengan sangat mudah, instan, dan interaktif:
Keberlanjutan
Dari lembaran kertas pendaftaran yang menumpuk hingga ketukan jari di layar Whats App, LINDA.2 terus melangkah maju. Sebuah inovasi yang membuktikan bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas adalah pelayanan yang selalu ada, mudah dijangkau, dan siap mendampingi setiap keluarga menuju kehidupan yang lebih sehat,
1. Tujuan jangka pendek: melakukan pemeriksaan kesehatan dan intervensi kesehatan seperti pemberian obat atau rujukan laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut atau rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi terhadap anggota keluarga yang dikunjungi.
2. Tujuan jangka menengah: mendapatkan data kesehatan masyarakat sebagai dasar dalam pembuatan kebijakan di bidang kesehatan.
3. Tujuan jangka panjang: peningkatan derajat hidup masyarakat Kabupaten Mimika khususnya yang berada di pesisisr dan pengunungan.
Manfaat
Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
Inovasi ini membantu masyarakat mendapatkan akses pemeriksaan kesehatan secara mudah dan gratis, sehingga kondisi kesehatan bisa terpantau lebih baik.
Deteksi dini penyakit
Dalam pemerikasaan kesehatan memungkinkan ditemukannya penyakit sejak tahap awal (seperti hipertensi, diabetes, anemia), sehingga penanganan bisa lebih cepat dan mencegah komplikasi.
Meningkatkan kesadaran dan perilaku hidup sehat
Melalui kegiatan ini, masyarakat menjadi lebih peduli terhadap pentingnya pemeriksaan rutin dan mulai menerapkan pola hidup sehat.
Memperluas akses layanan kesehatan
Inovasi ini menjangkau masyarakat yang sulit mengakses fasilitas kesehatan, terutama di daerah terpencil atau dengan keterbatasan ekonomi.
Efisiensi biaya kesehatan
Dengan deteksi dini, biaya pengobatan penyakit berat di masa depan dapat ditekan, baik bagi individu maupun pemerintah.
Mendukung program promotif dan preventif
CKG/PKG sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengutamakan pencegahan dibanding pengobatan.
Penguatan data kesehatan masyarakat
Hasil pemeriksaan dapat menjadi basis data untuk perencanaan program kesehatan yang lebih tepat sasaran.
Meningkatkan kolaborasi lintas sektor
Pelaksanaan inovasi ini biasanya melibatkan berbagai pihak (tenaga kesehatan, pemerintah, kader, dll.), sehingga memperkuat kerja sama dalam pembangunan kesehatan.
Rancang bangun
A. DASAR HUKUM
KEPUTUSAN KEPALA DINAS KESEHATAN NOMOR 400.7/ 715 / 2025 TENTANG PETUNJUK TEKNIS KEGIATAN PUSKESMAS JALAN KAKI (PUSJAKI) TAHUN 2025
B. PERMASALAHAN
a. Makro : Peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
b. Mikro : Deteksi dini penyakit melalui pemeriksaan kesehatan masyarakat
C. ISU STRATEGIS
Isu Global :
a. Meningkatnya beban penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung di seluruh dunia
b. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kesehatan
c. Ketimpangan akses layanan kesehatan antara negara maju dan berkembang
d. Dampak perubahan gaya hidup modern (kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat) terhadap kesehatan masyarakat
Isu Nasional : Tingginya prevalensi PTM di Indonesia
asih rendahnya partisipasi masyarakat dalam program skrining kesehatan
Keterbatasan tenaga kesehatan dan fasilitas di beberapa daerah
Kurangnya edukasi dan literasi kesehatan masyarakat
Belum meratanya pelaksanaan program promotif dan preventif seperti CKG
Isu Lokal :
Rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin
Akses ke fasilitas kesehatan masih terbatas (jarak, transportasi, atau biaya)
Kurangnya sosialisasi program CKG di masyarakat
Faktor sosial budaya yang mempengaruhi perilaku kesehatan
Keterbatasan tenaga atau sarana pendukung di wilayah setempat
D. METODE PEMBAHARUAN
a. Kondisi Sebelum:
Capaian CKG sangat rendah
b. Kondisi Sesudah
Capaian CKG meningkat secara signifikan
E. KEUNGGULAN/KEBAHARUAN?
1. Pelayanan kesehatan pada puskesmas pesisir dan pengunungan untuk mendukung program Pemeriksaan kesehatan Gratis/Cek Kesehatan Gratis yang merupakan program unggulan (prioritas) nasional / Quick Win Presiden Prabowo.
2. Dilakukan rutin dan terjadwal (sesuai kondisi di lapangan seperti cuaca, situasi laut atau kondisi tertentu lainnya)
3. Pemeriksaan dilakukan pada semua anggota keluarga dengan berbasis NIK.
4. Pemeriksaan dilakukan dengan paket layanan sesuai dengan siklus hidup (sesuai ketersediaan alat kesehatan dan BMHP yang dimiliki oleh Puskesmas)
5. Pelayanan dilakukan oleh tenaga medis sehingga hasil diagnosa dapat dipertanggungjawabkan
F. CARA KERJA INOVASI
Petugas puskesmas melakukan kunjungan ke rumah-rumah penduduk dan melakukan pemerikasaan kesehatan pada semua masyarakat yang dikunjungi baik yang sakit maupun yang sehat berdasarkan silkus hidup dengan layanan sesuai usia. Perkunjungan dilakukan pada tiap Kepala keluarga yang ditunjukkan dengan Kartu Kaluarga dan pendataan kesehatan dilakukan dengan menggunakan NIK. Data yang diperoleh kemudia dilaporkan ke Aplikasi nasional yaitu Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) sehingga data langsung dapat diketahui oleh pusat (Kemenkes RI).
PAPEDA JIWA (PELAYANAN PSIKIATRI DARING DAN PENDAMPINGAN KESEHATAN JIWA)
2025-03-03
Ringkasan MIW
Pengusul
Dinas Kesehatan
Tipe inovator
instansi
Kontak
-
Anggota kelompok
-
Kategori anugerah
Inovasi Pelayanan Publik
Judul inovasi
PAPEDA JIWA (PELAYANAN PSIKIATRI DARING DAN PENDAMPINGAN KESEHATAN JIWA)
Tanggal pengembangan
2025-03-03
Latar belakang
-
Tujuan
Tujuan jangka pendek
Tersedianya layanan konsultasi dokter spesialis jiwa yang dapat diakses oleh ODGJ dan keluarga di Kabupaten Mimika
Terbentuknya Tim Tanggap Terpadu yang aktif menangani laporan ODGJ di lapangan
Tertanganinya ODGJ yang selama ini terlantar di ruang publik tanpa penanganan medis
Tujuan jangka menengah
Meningkatnya jumlah ODGJ yang mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa secara berkelanjutan di Kabupaten Mimika
Terfasilitasinya pasien ODGJ yang memerlukan rehabilitasi untuk dirujuk ke RSJ
Meningkatnya kapasitas petugas puskesmas dalam deteksi dini dan penanganan dasar gangguan jiwa
Tujuan jangka panjang
Tersedianya RS atau Klinik Khusus untuk pasien jiwa
Terwujudnya sistem layanan kesehatan jiwa yang terintegrasi dan berkesinambungan di Kabupaten Mimika
Berkurangnya angka ODGJ terlantar di ruang publik
Meningkatkan kualitas hidup pasien ODGJ bersama keluarganya melalui pengobatan yang patuh dan dukungan sosial yang kuat
Manfaat
Melalui skrining keluarga, PAPEDA JIWA menemukan bahwa dalam satu rumah tangga tidak hanya terdapat satu ODGJ, tetapi beberapa anggota keluarga lain juga mengalami masalah kesehatan mental yang sebelumnya tidak pernah terdeteksi;
PAPEDA JIWA tidak hanya menangani pasien, tetapi juga membangun kapasitas keluarga sebagai pendamping utama dalam proses pemulihan. Melalui edukasi dan konsultasi rutin, keluarga memperoleh pemahaman mengenai pengobatan, tanda kekambuhan, dan cara mendukung pasien. Pendekatan ini berhasil meningkatkan kepatuhan pengobatan serta menurunkan stigma terhadap ODGJ di lingkungan keluarga.
Pasien dan keluarga mendapatkan akses konsultasi dokter spesialis jiwa tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke Jayapura
Keluarga memiliki wadah resmi untuk berkonsultasi dan mendapat panduan dalam merawat ODGJ
Tersedianya proses rujukan ke RSJ Jayapura sehingga tidak lagi menjadi beban finansial dan logistik keluarga
Tersedianya jalur komunikasi resmi dengan dokter spesialis jiwa untuk konsultasi kasus di lapangan
Terjalinnya koordinasi antar petugas lintas sektor Grup Whats App
Meningkatnya kapasitas petugas puskesmas melalui interaksi langsung dengan dokter spesialis
Tersedianya data ODGJ yang terkelola sebagai dasar perencanaan program kesehatan jiwa daerah
Meningkatnya cakupan layanan kesehatan jiwa tanpa harus menunggu penempatan dokter spesialis tetap
Berkurangnya permasalahan sosial akibat ODGJ yang terlantar di ruang publik
Berkurangnya stigma terhadap ODGJ melalui edukasi keluarga yang konsisten
Rancang bangun
DASAR HUKUM
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan;
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah;
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas;
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 54 Tahun 2017 tentang Penanggunalangan Pemasungan pada Orang Dengan Gangguan Jiwa;
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 Tahun 2024 tentang Standar Teknis Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal Kesehatan;
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pusat Kesehatan Masyarakat; Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
Mo U Kerja Sama Pelayanan Psikiatri antara Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika dengan Dokter Spesialis Jiwa RS Khusus Jiwa Abepura
PERMASALAHAN
Makro
Tingginya angka ODGJ yang tidak tertangani: Lebih dari 75% kasus gangguan jiwa di negara berkembang tidak mendapat penanganan memadai (WHO, 2020).
Distribusi dokter spesialis jiwa sangat tidak merata; mayoritas terkonsentrasi di kota besar dan Pulau Jawa;
Kesenjangan akses layanan jiwa di Indonesia Timur: wilayah Papua termasuk wilayah dengan akses layanan kesehatan jiwa terendah di seluruh Indonesia
Masih ada kasus pemasungan: Kabupaten-kabupaten terpencil tanpa fasilitas jiwa masih mencatat kasus pemasungan.
Mayoritas kabupaten baru di wilayah Papua belum memiliki dokter spesialis jiwa maupun fasilitas rawat inap jiwa.
Mikro
Sebuah keluarga di Timika pernah terpaksa mengurung salah satu anggota keluarganya dalam teralis besi yang ditempatkan di bekas kandang ayam selama bertahun-tahun, bukan karena kejam, tetapi karena tidak tersedianya akses layanan kesehatan jiwa, minimnya pendampingan, serta ketidaktahuan keluarga mengenai tempat memperoleh pertolongan yang tepat;
Penanganan ODGJ yang dilaporkan oleh masyarakat umumnya hanya direspon melalui kunjungan ke lokasi dan pengamanan pasien, namun belum diikuti dengan asesmen, pengobatan, pemantauan, maupun rehabilitasi yang berkelanjutan;
Kabup Aten Mimika sebagai lokasi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia (Grasberg-PT Freeport Indonesia) membawa kompleksitas sosial (urbanisasi cepat, kesenjangan ekonomi, konflik sosial, dan risiko gelombang phk) yang justru meningkatkan risiko gangguan jiwa di masyarakat;
Di tengah wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dengan aktivitas pertambangan, masyarakat masih menghadapi keterbatasan akses terhadap dokter spesialis jiwa, fasilitas rawat inap jiwa, sistem rujukan, maupun layanan pendampingan berkelanjutan;
Mayarakat yang membutuhkan layanan jiwa harus pergi secara mandiri ke RSJ Abepura di Jayapura atau ke kota lainnya, dengan biaya perjalanan dan akomodasi yang sangat mahal (estimasi 5-10 juta per kunjungan), sehingga sebagian besar keluarga tidak mampu mengakses layanan tersebut;
Belum ada mekanisme koordinasi lintas OPD dalam penanganan ODGJ terlantar atau dalam kondisi krisis;
Keluarga ODGJ sangat terbatas dalam mendapatkan edukasi dan dukungan, sehingga pasien sering kali diisolasi atau diabaikan, bahkan dipasung;
ISU STRATEGIS
Isu Global :
WHO menetapkan kesehatan jiwa sebagai prioritas dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada Tujuan 3 yang menargetkan pengurangan angka kematian akibat penyakit tidak menular serta peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan masyarakat;
Lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan kesehatan jiwa, artinya terdapat 1 dari 8 orang (atau sekitar 970 juta orang) hidup dengan gangguan jiwa, sementara kecemasan (anxiety), depresi serta gangguan penyalahgunaan zat menjadi gangguan paling umum dialami masyarakat (WHO, 2022);
Depresi dan kecemasan menyebabkan kerugian ekonomi global sebesar USD 1 triliun setiap tahunnya akibat penurunan kinerja dan absennya pekerja dari kantor (WHO & ILO, 2022).
Berdasarkan laporan berkala WHO, satu orang meninggal akibat bunuh diri setiap 43 detik di seluruh dunia.
Secara global, rata-rata pemerintah di suatu negara hanya mengalokasikan dana sebanyak 2% dari total anggaran kesehatan mereka untuk kesehatan jiwa.
Kelangkaan psikiatri, Menurut laporan WHO menunjukkan bahwa hampir setengah populasi dunia tinggal di negara dengan rasio kurang dari 1 psikiater per 100.000 penduduk, menyebabkan antrean panjang dan deteksi dini yang sangat minim.
Di negara-negara berpenghasilan rendah, kurang dari 10% penderita gangguan jiwa mendapatkan akses perawatan yang layak.
Isu Nasional :
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat pengidap gangguan jiwa berat di Indonesia diperkirakan mencapai 2,6 juta orang. Rasionya setara dengan 3 hingga 4 dari setiap 1.000 rumah tangga memiliki anggota keluarga dengan diagnosis psikosis/skizofrenia;
Riset National Adolecent Mental Health Survei (I-NAMHS) 2022 menyatakan bahwa 2,45 juta remaja usia 10-17 tahun di Indonesia terdiagnosis sebagai ODGJ;
Temuan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tahun 2025 bahwa data dari skrining kesehatan jiwa menemukan indikasi gejala kecemasan pada 4,4% pelajar (sekitar 338.000 anak) dan gejala depresi klinis pada 4,8 % pelajar (sekitar 363.000 anak) akibat tekanan akademik, masalah keluarga, hingga kasus perundungan (bullying);
Gangguan jiwa menjadi penyebab ke-2 Years Lived with Disability (YLDs) di Indonesia menunjukkan bahwa gangguan jiwa memberikan dampak disabilitas yang sangat besar terhadap kualitas hidup masyarakat Indonesia dan memerlukan penguatan layanan kesehatan jiwa yang mudah diakses hingga ke daerah terpencil Global Burden of Disease, IHME 2021);
Indonesia menghadapi defisit dan distribusi psikiater yang tidak merata. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, rasio psikiater terhadap penduduk Indonesia hanya 1 berbanding 200.000 penduduk, jauh di bawah standar WHO sebesar 1 berbanding 30.000 penduduk. Distribusinya pun sangat tidak merata, menumpuk di kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung;
Sebanyak 10.250 puskesmas (98,4%) di Indonesia belum memiliki psikolog klinis dan hanya 21 dari 38 provinsi memiliki psikolog klinis di puskesmas (Kemenkes R!, 2025);
Pada tingkat primer, hanya sekitar 50% dari total puskesmas di Indonesia yang dinilai mampu melakukan skrining kesehatan mental dasar akibat kurangnya pelatihan klinis kejiwaan bagi dokter umum dan perawat;
Proporsi orang dengan gangguan jiwa yang mencari pengobatan masih kecil, yakni 1,9/1000 penduduk (Data sampel BPJS 2015-2022);
Kesenjangan pengobatan gangguan jiwa di Indonesia mencapai lebih dari 90%, artinya kurang dari 10% penderita gangguan jiwa yang mendapatkan layanan terapi oleh petugas kesehatan. Banyak diantaranya mencari pengobatan alternatif atau ke tenaga non-medis seperti dukun;
Masih terdapat praktik pemasungan ODGJ di Indonesia, terutama di daerah yang jauh dari fasilitas layanan jiwa;
Isu Lokal :
Banyak pasien lama mengalami gejala yang memburuk akibat kurangnya dukungan keluarga yang memicu fenomena putus obat;
Berdasarkan pendataan aktif bagian P2 PTM, jumlah ODGJ yang terdata meningkat dari 157 kasus (2024) menjadi 210 kasus (2025);
Di tengah wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dengan aktivitas pertambangan, masyarakat masih menghadapi keterbatasan akses terhadap dokter spesialis jiwa, fasilitas rawat inap jiwa, sistem rujukan, maupun layanan pendampingan berkelanjutan Belum ada koordinasi lintas sektor untuk penanganan ODGJ terlantar maupun dalam kondisi krisis di Kabupaten Mimika;
Tantangan geografis dan demografis sebagai tantangan dalam pelayanan kesehatan jiwa
METODE PEMBAHARUAN
Kondisi Sebelum
Keberadaan dokter spesialis jiwa yang tidak menetap, sehingga ODGJ tidak dapat memperoleh diagnosis dan pengobatan yang tepat, serta layananan konsultasi yang terbatas;
Layanan jiwa di puskesmas sangat terbatas. Dari 26 puskesmas hanya 1 puskesmas yang memiliki program jiwa, itupun belum di dukung tenaga terlatih dan sistem skrining yang memadai;
Tidak ada sistem skrining kesehatan jiwa di tingkat Puskesmas, sehingga gangguan jiwa sering tidak terdeteksi, terlambat terdiagnosis, atau salah diidentifikasi sebagai masalah fisik semata.
Ketersediaan obat jiwa sangat minim
Tidak ada mekanisme rujukan terstruktur untuk kasus jiwa berat. Keluarga menghadapi birokrasi, jarak, dan biaya rujukan yang besar tanpa pendampingan dari pihak manapun.
Keluarga ODGJ sangat terbatas dalam mendapatkan edukasi maupun dukungan dalam merawat dan mendampingi anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, sehingga pasien sering kali diisolasi atau diabaikan.
Tidak ada forum atau sistem koordinasi antar OPD dalam menangani kasus ODGJ terlantar atau dalam krisis di lapangan.
Masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan jiwa harus pergi secara mandiri ke Rumah Sakit Khusus Jiwa Abepura di Jayapura dengan biaya perjalanan dan akomodasi yang sangat mahal, sehingga sebagian besar keluarga ODGJ tidak mampu mengakses layanan tersebut.
Ditemukan 7 kasus odgj yang dipasung.
Kondisi Sesudah
Pasien di Timika bisa langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis jiwa di Jayapura tanpa harus menunggu kunjungan fisik.
Mempermudah skrining awal gangguan kecemasan atau depresi sebelum gejalanya memburuk menjadi gangguan jiwa berat
Sejak diterapkan, PAPEDA JIWA telah mengintegrasikan tiga jalur layanan sehingga menjangkau total 210 ODGJ dan 287 ODMK, dengan rincian: (1) konsultasi telemedicine untuk kasus berat yang tidak dapat menunggu jadwal kunjungan; (2) pelayanan tatap muka langsung saat kunjungan dokter spesialis jiwa ke Timika sebanyak 4 kali per tahun; dan (3) skrining awal oleh petugas puskesmas yang telah terlatih. Seluruh jalur ini terintegrasi dalam satu ekosistem pencatatan dan tindak lanjut yang sama.".
Menjamin kontinuitas obat. Dokter dapat memperbarui resep secara berkala lewat aplikasi sehingga menurunkan risiko putus obat yang sering memicu kekambuhan pasien;
Rujukan Terdampingi: Untuk ODGJ berat yang memerlukan rawat inap, tim PAPEDA JIWA mendampingi pasien dan keluarga dalam seluruh proses rujukan ke RSJ Abepura Jayapura, mulai dari administrasi, transportasi, hingga pengurusan di tempat tujuan. Sebanyak 20 pasien telah berhasil dirujuk dengan pendampingan penuh sepanjang tahun 2024 sampai 2025;
Telemedicine / Konsultasi Digital, konsultasi kesehatan jiwa melalui Whats App dan video call langsung dengan dokter spesialis jiwa di Jayapura, memungkinkan respons cepat untuk kasus yang tidak dapat menunggu jadwal kunjungan luring. Layanan ini tersedia sepanjang waktu tanpa hambatan jarak geografis;
Terbentuk Grup Whats App Tim Terpadu Penanggulangan ODGJ yang merupakan Grup koordinasi lintas sektor yang melibatkan Dinas Kesehatan, Puskesmas, RSUD, Dinas Sosial, Dukcapil, BPJS Kesehatan, Lembaga Anti Narkoba (LAN), Babinsa dan Polisi. Sistem ini memungkinkan respons yang cepat, terkoordinasi, dan efektif terhadap kasus ODGJ terlantar atau dalam kondisi krisis di lapangan;
Memangkas biaya perjalanan. Masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi dan akomodasi besar untuk pergi ke rumah sakit jiwa di Jayapura atau Makassar.
KEUNGGULAN/KEBAHARUAN
Keunikan PAPEDA JIWA bukan terletak pada penggunaan Whats App sebagai media konsultasi, melainkan pada integrasi layanan kesehatan jiwa dari deteksi dini, konsultasi spesialis, pengobatan, pendampingan keluarga, hingga rujukan rehabilitasi dalam satu ekosistem layanan yang dapat berjalan meskipun daerah tidak memiliki dokter spesialis jiwa;
Di antara kabupaten-kabupaten tanpa dokter spesialis jiwa tetap di wilayah Papua, PAPEDA JIWA merupakan program pertama yang mengintegrasikan telemedicine psikiatri berbasis aplikasi pesan instan dengan sistem koordinasi lintas sektor dalam satu alur layanan yang terdokumentasi;
Program telemedicine nasional (SATUSEHAT, Riliv, Halodoc) dirancang untuk pengguna mandiri yang melek digital. PAPEDA JIWA menggunakan model yang berbeda secara fundamental yakni petugas puskesmas bertindak sebagai perantara antara psikiater dan ODGJ berat yang tidak mampu mengakses layanan sendiri.
Program digital kesehatan jiwa yang ada (SATUSEHAT, Riliv) hanya menjangkau ODMK ringan yang mampu menggunakan smartphone secara mandiri. PAPEDA JIWA secara khusus dirancang untuk ODGJ berat (skizofrenia, psikosis) yang justru merupakan kelompok paling rentan dan paling tidak terlayani di daerah terpencil.
Mengatasi hambatan geografis, konsultasi dengan spesialis jiwa di Jayapura dapat dilakukan real time tanpa perjalanan jauh;
Dampaknya terukur, sepanjang tahun 2024 sampai 2025 sebanyak 210 ODGJ dan 287 ODMK terlayani, 20 pasien berat berhasil di rujuk ke RS Khusus Jiwa Abepura di Jayapura, tidak ada lagi kasus pemasungan ditemukan serta 54 tenaga kesehatan terdiri dari dokter umum dan petugas jiwa di puskesmas terlatih dalam melakukan skrining kesehatan jiwa;
CARA KERJA INOVASI
Inovasi PAPEDA JIWA (Pelayanan Pendampingan ODGJ dan ODMK) dilaksanakan melalui alur pelayanan yang terintegrasi mulai dari skrining, konsultasi spesialis, pendampingan, hingga pemantauan berkelanjutan. Mekanisme ini dirancang untuk mempercepat akses pelayanan kesehatan jiwa bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), khususnya di wilayah Kabupaten Mimika yang memiliki keterbatasan akses terhadap dokter spesialis jiwa.
Tahapan pertama adalah skrining awal yang dilakukan oleh Petugas Jiwa Puskesmas menggunakan instrumen terstandar, yaitu Self Reporting Questionnaire (SRQ-20) untuk masyarakat umum dan Patient Health Questionnaire (PHQ-4) untuk skrining cepat kecemasan dan depresi. Hasil skrining digunakan untuk mengidentifikasi individu yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Pasien yang terindikasi mengalami ODMK berat maupun ODGJ selanjutnya diteruskan ke tahap konsultasi.
Pada tahap konsultasi telemedicine, petugas berkoordinasi dengan dokter spesialis jiwa melalui media komunikasi yang telah disepakati, seperti Whats App (chat, foto, voice note, maupun video call) sesuai dengan Nota Kesepahaman (Mo U) yang berlaku. Dokter spesialis melakukan asesmen berdasarkan informasi yang disampaikan dan memberikan rekomendasi diagnosis serta terapi yang diperlukan sehingga pelayanan dapat diberikan lebih cepat tanpa harus menunggu jadwal kunjungan langsung.
Sebagai pelengkap layanan telemedicine, dilakukan kunjungan spesialis langsung ke Kabupaten Mimika oleh dokter spesialis jiwa minimal empat kali dalam satu tahun. Kunjungan ini bertujuan memberikan pelayanan tatap muka kepada pasien, melakukan evaluasi klinis secara langsung, menangani kasus yang lebih kompleks, sekaligus meningkatkan kapasitas petugas kesehatan di daerah melalui pendampingan dan konsultasi.
Selanjutnya, Petugas Jiwa Puskesmas menindaklanjuti rekomendasi dokter spesialis dengan memberikan obat sesuai terapi, melakukan monitoring kondisi pasien secara rutin, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga, serta memastikan proses rujukan apabila diperlukan. Ketersediaan obat-obatan kesehatan jiwa dijamin melalui sistem pengadaan yang dikelola oleh Dinas Kesehatan sehingga kesinambungan pengobatan dapat terjaga.
Untuk memastikan keberhasilan terapi, dilakukan pemantauan berkala oleh dokter spesialis bersama petugas kesehatan. Pemantauan ini bertujuan mengevaluasi perkembangan kondisi pasien, memantau kepatuhan minum obat, mengidentifikasi faktor risiko kekambuhan, serta memberikan penyesuaian terapi apabila diperlukan.
Apabila pasien memerlukan pelayanan rawat inap di rumah sakit rujukan, maka dilaksanakan rujukan terampingi. Tim PAPEDA JIWA mendampingi pasien dan keluarganya mulai dari proses administrasi, pengaturan transportasi, hingga pendampingan selama proses penerimaan di rumah sakit rujukan, sehingga pasien memperoleh akses pelayanan yang aman, cepat, dan berkesinambungan.
Seluruh tahapan pelayanan didukung oleh koordinasi Tim Terpadu yang melibatkan Dinas Kesehatan, Puskesmas, Rumah Sakit, BPJS Kesehatan, Dinas Sosial, aparat keamanan, serta lintas sektor lainnya melalui grup komunikasi resmi. Koordinasi ini memastikan setiap kasus mendapatkan respon yang cepat, penanganan sesuai standar operasional prosedur (SOP), serta terdokumentasi dengan baik.
Seluruh proses konsultasi telemedicine dalam inovasi PAPEDA JIWA dilaksanakan sesuai dengan ketentuan keamanan dan kerahasiaan data pasien sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Data pasien hanya dapat diakses oleh tenaga kesehatan yang berwenang dan digunakan semata-mata untuk kepentingan pelayanan kesehatan.
Gebyar Sadar Pajak Daerah dan Aplikasi Undian Gebyar Sadar Pajak Daerah
2024-07-04
Ringkasan MIW
Pengusul
Badan Pendapatan Daerah
Tipe inovator
instansi
Kontak
-
Anggota kelompok
-
Kategori anugerah
Inovasi Pelayanan Publik
Judul inovasi
Gebyar Sadar Pajak Daerah dan Aplikasi Undian Gebyar Sadar Pajak Daerah
Tanggal pengembangan
2024-07-04
Latar belakang
-
Tujuan
Meningkatkan kesadaran, kepatuhan, dan partisipasi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan daerah melalui edukasi, sosialisasi, peningkatan kualitas pelayanan, serta pemberian reward atau apresiasi kepada wajib pajak yang taat, sehingga dapat mendorong optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Manfaat
Pemberian reward atau apresiasi kepada wajib pajak yang patuh diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk membayar pajak tepat waktu, meningkatkan kepatuhan secara berkelanjutan, membangun budaya sadar pajak, serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah. Dampak akhirnya adalah meningkatnya penerimaan pajak daerah yang mendukung pembiayaan pembangunan dan pelayanan publik.
Rancang bangun
A. DASAR HUKUM
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2023 tentang Ketentuan Umum Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
Peraturan Daerah Kabupaten Mimika Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
B. PERMASALAHAN
Berikut adalah permasalahan yang menunjukkan perlu adanya kegiatan Gebyar Sadar Pajak dan Aplikasi undian gebyar sadar pajak :
Banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya membayar pajak daerah, Melalui kegiatan ini, mereka bisa lebih sadar bahwa pajak yang dibayar akan kembali ke masyarakat dalam bentuk layanan publik
Kurangnya motivasi atau insentif bagi masyarakat untuk membayar pajak tepat waktu.
Tingkat kesadaran wajib pajak masih kurang dalam berkontribusi pada peningkatan PAD yang sangat penting untuk membiayai pembangunan daerah dan pelayanan publik.
Rendahnya edukasi dan sosialisasi, serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam mendukung optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
C. ISU STRATEGIS
Isu Strategis dalam Kegiatan Gebyar Sadar Pajak Daerah adalah permasalahan atau tantangan utama yang perlu diperhatikan agar kegiatan tersebut dapat berjalan efektif dan mencapai tujuannya. Berikut beberapa isu strategis yang umum muncul dalam pelaksanaan kegiatan ini:
Rendahnya Tingkat Kesadaran Wajib Pajak
Kurangnya Edukasi dan Sosialisasi
Minimnya Inovasi dan Digitalisasi
Banyak masyarakat belum memahami pentingnya membayar pajak daerah bagi pembangunan dan pelayanan publik sehingga masih ada anggapan bahwa pajak hanya kewajiban tanpa manfaat langsung. Selain itu kegiatan sosialisasi masih bersifat sporadis dan belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat dan yang kami lihat kegiatan gebyar pajak belum banyak memanfaatkan media digital atau platform online.
D. METODE KEBAHARUAN
Berikut adalah beberapa metode pembaruan kegiatan "Gebyar Sadar Pajak Daerah" yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efektivitas, partisipasi, dan kesadaran masyarakat terhadap kewajiban pajak daerah:
Digitalisasi Kegiatan Inovasi dalam Pemberian Doorpize
Transparansi
sosialisasi secara daring melalui Instagram,Facebook, Tik Tok dan melalui Website.
Struk pembayaran dapat di input dalam aplikasi berbasis web yang bisa ditukar hadiah atau mengikuti undian elektronik.
Transparan dalam pengundian pemenang Gebyar Sadar Pajak Daerah.
E. KEUNGGULAN KEBAHARUAN
Keunggulan kegiatan Gebyar Sadar Pajak Daerah dapat dilihat dari berbagai aspek yang mendukung peningkatan kesadaran, kepatuhan, dan kontribusi masyarakat terhadap pembangunan daerah. Berikut adalah beberapa keunggulan utamanya:
Meningkatkan Kesadaran Pajak Masyarakat
Mendorong Kepatuhan Wajib Pajak
Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Membangun Citra Positif Pemerintah Daerah
Menumbuhkan Rasa Memiliki dan Partisipasi
Inovasi dan Edukasi Berkelanjutan
F. CARA KERJA INOVASI
Cara kerja inovasi dalam kegiatan gebyar sadar pajak daerah adalah pertama membuat aplikasi pengundian pemenang gebyar sadar pajak. Kedua sosialisasi menggunakan sosial media dan media lokal, yang melibatkan tokoh masyarakat, duta pajak daerah dan influencer. Ketiga setelah masyarakat menginputkan struk belanja di aplikasi gebyar sadar pajak, struk yang sudah terkumpul akan diundi di aplikasi secara otomatis. Keempat Bapenda akan melakukan pengundian secara umum melalui live streaming dan disaksikan langsung secara terbuka dengan menyelenggarakan panggung hiburan agar masyarakat yang dimana nanti pemenang undian gebyar sadar pajak daerah dapat mengambil hadiah.
Meningkatkan kualitas pembelajaran
Meningkatkan kehadiran siswa dan guru
Membangun karakter siswa
Meningkatkan keterlibatan orang tua
Mengintegrasikan pendidikan dengan potensi lokal Mimika
Manfaat
Output
Peningkatan kehadiran siswa
Peningkatan hasil belajar
Meningkatnya partisipasi orang tua
Terbentuknya budaya belajar aktif
Outcome
SDM Mimika yang lebih berkualitas
Generasi mudah produktif dan mandiri
Penurunan angka putus sekolah
Rancang bangun
Permasalahan
a. Makro
Pembelajaran kokurikuler yang dimaksimalkan dalam satu hari
Kualitas pendidikan di wilayah Papua (termasuk Mimika) masih rendah
Kemampuan literasi dan numerasi siswa relatif rendah
Kesenjangan akses pendidikan antara kota dan kampung
Kurangnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan
b. Mikro
Kehadiran siswa dan guru belum optimal
Metode Pembelajaran masih konvensional dan kurang menarik
Minimnya kegiatan kolaboratif antara sekolah,orang tua,dan masyarakat
Kurangnya pembinaan karakter dan budaya belajar
Isu Strategis
a. Global
Transformasi pendidikan berbasis digital
Pendidikan berbasis karakter dan soft skills (4C:Critical thinking,Creativity,Collaboration,Comunication)
b. Nasional
Implementasi Merdeka Belajar
Pembelajaran Mendalam
Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Penurunan angka putus sekolah
c. Lokal (Kabupaten Mimika)
Rendahnya motivasi belajar siswa di wilayah kampung
Terbatasnya tenaga pendidik berkualitas
Kurangnya integrasi budaya lokal dalam pembelajaran
Perlu pendekatan kolaboratif antara sekolah,gereja,adat dan pemerintah
Metode Pembaharuan
a. Sebelum penerapan inovasi
Pembelajaran hanya berlangsung di kelas
Guru sebagai pusat pembelajaran
Orang tua kurang terlibat
Kegiatan sekolah hanya menonton
b. Sesudah penerapan inovasi (SELARAS)
Pembelajaran kolaboratif (guru-siswa-orang tua-masyarakat)
Program “Sehari Belajar Bersama” setiap minggu/bulan
Integrasi pembelajaran kontekstual berbasis lokal (ternak,pertanian,budaya)
Pendekatan aktif dan partisipatif
DESAIN INOVASI SELARAS
Konsep Utama
Program SELARAS adalah model pembelajaran kolaboratif satu hari khusus di sekolah yang melibatkan :
Guru
Siswa
Orang tua
Tokoh masyarakat/adat
Praktisi (Peternakan,pertanian,UMKM)
Bentuk Kegiatan
Kegiatan dalam satu hari SELARAS meliputi :
a. Sesi Kelas Inspiratif
Guru dan praktisi memberikan materi kontekstual
contoh: beternak ayam,berkebun,usaha kecil
b. Praktik Lapangan
Siswa belajar langsung (learning by doing)
contoh:
Pakan ternak
Tanam sayur
Kegiatan ekonomi sederhana
c. Kelas Orang Tua
Edukasi parenting
Pentingnya pendidikan anak
d. Budaya dan Karakter
Cerita adat
Nilai disiplin,kerja keras,gotong royong
Tujuan Program
Kategori Tujuan
Detail Tujuan Program
Kognitif/Keterampilan
Membekali siswa dengan keterampilan dasar TIK yang memadai sehingga mampu mengoperasikan perangkat komputer dan memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu belajar.
Mencapai pemahaman literasi digital yang kuat, membuat siswa mampu memilihdan memproses informasi dari dunia
maya secarabijak dan kritis.
Afektif/Minat
3. Mengembangkan minat dan bakat siswa di bidang
teknologi melalui metode pembelajaran yang Asyik, Menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan masa depan.
Peningkatan Mutu
4. Meningkatkan kesiapan teknologi siswa sejak dini dalam rangka mempersiapkan generasi yang paham teknologi dan mendukung perbaikan nilai pada Rapor Pendidikan
sekolah.
Manfaat
Kegunaan / Output / Manfaat Inovasi
Kegunaan atau manfaat program BATIK ASMEN dapat dilihat dari berbagai sudut pandang (siswa, sekolah, dan kualitas pendidikan):
A. Output Langsung (Hard Skill)
Siswa mampu mengoperasikan komputer dasar (menghidupkan, mematikan, mengelola file) secara mandiri.
Siswa mampu membuat output digital sederhana (dokumen teks, gambar, dan presentasi) yang dapat digunakan untuk tugas-tugas mata pelajaran lain.
Adanya Karya Portofolio Digital siswahasil darikegiatan Modul4 (Proyek TIK).Manfaat Pendidikan dan Karakter (Soft Skill).
Kategori Tujuan Deskripsi Manfaat
Siswa
Sekolah
Peningkatan Soft Skill: Siswamemiliki sikap kritis, etis, dan bertanggung jawab saat berinteraksi di dunia digital (kesiapan cyber safety).
Peningkatan Motivasi Belajar: TIK yang diajarkan secara ASMEN menghilangkan persepsi kaku terhadap teknologi, mendorong eksplorasi diri dan kreativitas.
Pencapaian Mutu Unggulan: BATIK ASMEN menjadi program unggulan yang mendukung penguatan profil pelajar Pancasila dan indikator mutu TIK pada Rapor Pendidikan.
Guru
Optimasi Aset: Fasilitas Lab Komputer sekolah termanfaatkan secara optimal dan rutin sebagai pusat pembelajaran, bukan hanya administrasi
Kemudahan Integrasi: Membantu guru mata pelajaran lain dalam memberikan tugas yang memerlukan kompetensi digital, karena siswa telah memiliki fondasi TIK yangkuat.
Rancang bangun
Deskripsi Inovasi : Batik Asmen“ Belajar TIK Asyik dan Menyenangkan”
SD Inpres Timika III adalah program unggulan SD Inpres Timika III yang dirancang sebagai media literasi digital, program ini berfungsi untuk membekali siswa dengan kompetensi teknologi dasar, yang pada akhirnya bertujuan untuk mengoptimalisasi perbaikan nilai pada Raport Pendidikan sekolah.
DASAR HUKUM
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Permendikbud Nomor 23 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Sekolah.
Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 7 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
Program Inovasi Digital SD Inpres Timika III Tahun
2025. Surat Keputusan Kepala Sekolah Dasar Inpres Timika III Nomor: 400.532/SD INP.III/MMK/147/XII/2025 tentang Pembentukan Tim Inovasi BATIK ASMEN (Belajar TIK Asyik dan Menyenangkan) Tahun Pelajaran 2025/
2026. Analisis Masalah Permasalahan Makro (Latar Belakang Global/Umum).
Permasalahan pada tingkat yang lebih luas atau umum yang mendasari inovasi ini adalah:
Tuntutan Era Digital: Pesatnya kemajuan teknologi digital dan informasi menuntut setiap siswa memiliki kecakapan dan daya saing di era global.
Kesenjangan Literasi Digital : Mayoritas siswa belum memiliki keterampilan literasi digital yang memadai, membuat mereka rentan terhadap tantangan negatif di dunia maya.
Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) Nasional "Kebutuhan SDM Unggul: Adanya gap (kesenjangan) antara kebutuhan pasar kerja global akan tenaga kerja berketerampilan digital tinggi dengan output lulusan pendidikan dasar yang belum sepenuhnya menguasai TIK sebagai life skill."
Implementasi Kurikulum dan Kebijakan Nasional "Minimnya Alokasi Waktu TIK Terstruktur: Kebijakan kurikulum nasional yang mengintegrasikan TIK ke dalam mata pelajaran lain seringkali tidak memberikan waktu yang memadai untuk pembelajaran TIK dasar yang terstruktur dan mendalam, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur."
Risiko dan Tantangan Dunia Maya "Tantangan Keamanan Digital Anak: Meningkatnya akses anak usia sekolah dasar terhadap gawai dan internet, tanpa dibekali pemahaman literasi dan keamanan digital yang memadai, meningkatkan kerentanan terhadap risiko negatif dunia maya (misalnya cyberbullying dan hoaks)."Permasalahan Mikro (Kebutuhan Kompetensi Dasar Sekolah)
Permasalahan spesifik yang terjadi di SD Inpres Timika III:
Kesulitan Dasar Operasional Komputer: Ditemukannya fakta bahwa banyak siswa di SD Inpres Timika III mengalami kesulitan dasar dalam mengoperasikan perangkat komputer dan memanfaatkan fitur-fitur TIK untuk pembelajaran.Kebutuhan Kompetensi Dasar: Belum terpenuhinya bekal kompetensi teknologi dasar yang memadai bagi siswa untuk mengoptimalkan perbaikan nilai pada Rapor Pendidikan sekolah.
Rendahnya Motivasi dan Minat Belajar TIK “Tingginya Persepsi TIK yang Kaku: Siswa menganggap pelajaran TIK sebagai materi yang sulit atau membosankan, yang menyebabkan rendahnya minat dan motivasi eksplorasi terhadap teknologi di luar jam pelajaran, padahal TIK seharusnya menjadi media yang 'Asyik dan Menyenangkan' (ASMEN).”
Keterbatasan Integrasi TIK dalam Mata Pelajaran Lain “Keterbatasan Penggunaan TIK sebagai Output Kreatif: Guru mata pelajaran lain mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan TIK sebagai alat untuk menghasilkan proyek kreatif siswa (seperti membuat presentasi, poster digital, atau laporan yang menarik), sehingga potensi teknologi sebagai alat bantu belajar belum tereksplorasi penuh.”
DESAIN INOVASI BATIK ASMEN
Struktur Program dan Kegiatan Inti
Struktur Program
Deskripsi Impelentasi
Nama Program
BATIK ASMEN (Belajar TIK Asyik dan Menyenangkan)
Bentuk Pelaksanaan
Ekstrakurikuler Wajib (2 kali seminggu, 60-90 menit per sesi)
Pendekatan
Hands-on (Praktek langsung) dan Project-Based Learning
(Pembelajaran berbasis proyek).
Sasaran
Siswa Kelas 4 – 6 dengan jadwal per sesi
Modul Program Kegiatan
Modul Fokus Materi Kegiatan Praktik
Modul 1Literasi Perangkat Keras& Dasar Pengenalan Hardware (CPU,Monitor), Etika & Prosedur Startup/Shutdown yang benar, Latihan
Ketik 10 Jari(Tux Typing), Penguasaan Mouse.
Moduln 2Kreativitas Digital Awal (Aplikasi Dasar)Membuat gambar dan berkreasi di MS Paint, Mengetik dan mengedit teks sederhana di Wordpad/MS Word, Manajemen File (membuat/mengganti
nama/memindahkan folder).
Modul 3Literasi dan Keamanan Digital Pengenalan Web Browser dan Pencarian Informasi (Searching), Etika Berinternet (Netiket), Identifikasi Hoaks,
Keamanan Data Pribadi (Cyber Safety).
Modul 4Proyek TIK & Integrasi Membuat Presentasi Sederhana (3-5 slide tentang Hobi/Cita-cita), Membuat Poster Digital tentang Budaya Sekolah
atau Kesadaran Lingkungan
Ulangan menggunakan kertas membutuhkan waktu untuk dikoreksi secara manual dan direkap secara tulis tangan/excel sederhana
Literasi digital peserta didik masih rendah
Tujuan
TUJUAN INOVASI
Meningkatkan kualitas penilaian berbasis teknologi.
Mendorong transformasi digital di sekolah.
Membuat asesmen lebih efektif, efisien, dan menarik.
Meningkatkan kompetensi digital guru dan siswa.
Manfaat
Bagi Siswa:
Penilaian lebih menarik dan cepat diketahui hasilnya.
Melatih literasi digital.
Bagi Guru:
Mempermudah asesmen dan analisis nilai.
Menghemat waktu kerja.
Bagi Sekolah:
Mendukung program sekolah digital.
Meningkatkan mutu layanan pendidikan.
Rancang bangun
METODE PEMBAHARUAN Sebelum penerapan inovasi
Ulangan menggunakan kertas.
Koreksi manual oleh guru.
Rekap nilai dilakukan secara tulis tangan/Excel sederhana.
Umpan balik hasil belajar lambat.
Sesudah penerapan inovasi
Penilaian menggunakan Google Form, Quizizz, Kahoot, atau aplikasi asesmen digital.
Koreksi otomatis dan hasil langsung muncul.
Nilai terdokumentasi digital.
Guru memberi umpan balik cepat dan terukur
Kebaruan
Penilaian menggunakan Google Form, Quizizz, Kahoot, atau aplikasi asesmen digital, sehingga juga turut mendukung program lingkungan melalui ulangan paperless. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat baru khususnya bagi kami di Distrik Kwamki Narama, dimana siswa kami merupakan 100% OAP, dari suku Amugme dan suku-suku kekerabatan.
Kesiapterapan
Koreksi otomatis dan hasil langsung muncul.
Nilai terdokumentasi digital.
Guru memberi umpan balik cepat dan terukur
Potensi komersialisasi
-
Kemanfaatan
Guru memberi umpan balik cepat dan terukur
Siswa dapat mengetahui hasil ulangan dan umpan balik dengan cepat sehingga menjadi pembelajaran
Meningkatkan literasi digital siswa SMPN 9 yang 100% adalah OAP dan berada di wilayah rawan konflik
Keberlanjutan
Dapat dikembangkan untuk pembelajaran juga memanfaatkan platform digital yang ada.