Menuju Indonesia Emas 2045, Mimika Akselerasi Pembangunan Daerah Berbasis Ekosistem Riset dan Inovasi
TIMIKA, papuamctv.com — Pemerintah Kabupaten Mimika secara resmi mengukuhkan posisinya sebagai pionir transformasi berbasis ilmu pengetahuan di Tanah Papua melalui pembukaan Mimika Innovation Week (MIW) 2026. Digelar di Gedung Eme Neme Yauware, Timika, pada Selasa (09/06/2026), perhelatan tahun kedua ini menandai lompatan besar Mimika yang kini menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta seluruh elemen akademisi lokal untuk membangun ekosistem riset yang berkelanjutan.
Acara ini menjadi momentum krusial dengan dilaksanakannya penandatanganan nota kesepakatan sinergi antara Pemkab Mimika dengan BRIN, serta penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan seluruh perguruan tinggi di Kabupaten Mimika. Langkah strategis ini diperkuat dengan peluncuran Coaching Clinic Pamong Inovasi Daerah.
Membuka secara resmi agenda tersebut, Bupati Mimika Johannes Rettob didampingi langsung oleh Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Dr. Yopi, M.sc. dan Kepala BRIDA Mimika, Slamet Sutejo. Kehadiran para pimpinan OPD, akademisi, pelajar, serta pemangku kepentingan lainnya menegaskan kuatnya sinergi lintas elemen dalam membangun ekosistem inovasi di Mimika.
Dalam sambutannya, Bupati Mimika Johannes Rettob, S.Sos., M.M., mengungkapkan rasa syukurnya atas perkembangan signifikan kelembagaan riset di daerahnya. Jika tahun lalu agenda ini masih melekat pada Bappeda, tahun ini Mimika telah mengoperasikan badan baru yang berdiri mandiri, yaitu Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).
"Kita menyadari tantangan pembangunan semakin kompleks. Daerah tidak bisa lagi sekadar mengandalkan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan alam tanpa pengelolaan cerdas bisa menjadi bumerang. Kita harus mampu mengelola pengetahuan dan mengambil keputusan berdasarkan data serta bukti ilmiah," tegas Johannes Rettob.
Upaya serius ini membuahkan hasil konkret pada peta inovasi nasional. Pada periode 2023–2024, Mimika masih tertahan di peringkat 300-an dari 415 kabupaten/kota se-Indonesia. Namun, memasuki tahun 2025, posisi Mimika melonjak tajam ke peringkat 200-an nasional, sekaligus mengukuhkan diri sebagai terbaik kedua di seluruh Tanah Papua.
Kini, Mimika tidak lagi menjadikan wilayah Papua sebagai satu-satunya tolok ukur. "Kita harus bersaing dengan teman-teman di Indonesia Barat. Kita harus mampu membuktikan bahwa dari Mimika, kita bisa berbuat untuk Indonesia," tambah Bupati.
Apresiasi tinggi datang dari Deputi Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Dr. Yopi. Ia memuji komitmen kuat Pemkab Mimika dalam memperkuat hilirisasi inovasi di daerah. Dr. Yopie menilai kehadiran BRIDA Mimika berhasil melakukan orkestrasi dengan mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan untuk bergerak bersama.
Namun, BRIN juga memberikan tantangan besar bagi keberlanjutan proses ini. Dr. Yopi meminta agar target pembangunan berbasis inovasi di Mimika tidak berhenti pada orientasi jangka pendek atau target politis tahun 2029, melainkan diproyeksikan secara visioner hingga Indonesia Emas 2045 selaras dengan RPJMN.
Untuk mengatasi kesenjangan (gap) antara pencipta inovasi dan pengguna di masyarakat, BRIN mendorong pembentukan "Rumah Inovasi Mimika" sebagai wadah one stop services (pelayanan satu pintu).
"Kami di BRIN didukung oleh 10.000 periset dengan berbagai keahlian yang siap difasilitasi untuk membantu pemerintah daerah mengupgrade 32 urusan konkuren daerah. Kami menantang Pemkab Mimika untuk membangun etalase inovasi yang menarik, memperkuat platform diskusi, dan menyatukan seluruh informasi inovasi dari OPD, masyarakat, hingga perguruan tinggi dalam satu pintu," ujar Dr. Yopi.
Tantangan ini langsung disambut baik oleh Bupati Johannes Rettob yang menyatakan siap segera membentuk Rumah Inovasi Mimika di pusat layanan terpadu, lengkap dengan sentra Kekayaan Intelektual (KI) Mimika.
Salah satu terobosan konkret yang dilaporkan Pemkab Mimika kepada BRIN adalah status Mimika sebagai satu-satunya kabupaten di Indonesia yang memiliki Riset Kesehatan Dasar Daerah sendiri. Data ilmiah ini sukses dikonversi menjadi fondasi pembangunan di berbagai sektor.
Tidak hanya itu, implementasi tagline visi-misi "Membangun dari Kampung ke Kota" kini sepenuhnya didasari atas kajian komprehensif terhadap 133 kampung dan 19 kelurahan di Mimika. Hasil riset tersebut memetakan potensi, kekurangan, serta peluang di tiap wilayah, sehingga anggaran pembangunan tahun ini dialokasikan secara tepat sasaran, bukan lagi berdasarkan intuisi atau asas "suka-suka".
Di lingkungan internal birokrasi, Pemkab Mimika memberlakukan kebijakan progresif: Satu OPD Minimal Dua Inovasi per tahun. Saat ini tercatat sudah ada 118 inovasi yang masuk ke kantong BRIDA Mimika.
Menariknya, Johannes Rettob menjelaskan bahwa inovasi di Mimika tidak melulu soal aplikasi digital yang rumit.
"Di samping aplikasi, kami memiliki inovasi yang berbasis regulasi namun sarat dengan nilai budaya lokal (local wisdom). Terbukti, inovasi non-aplikasi ini justru mendapat penghargaan luar biasa di tingkat nasional dari Kementerian Dalam Negeri karena dinilai sangat efektif dalam menyederhanakan pelayanan publik," jelasnya.
Pemkab berjanji, jika ada inovasi dari masyarakat atau perguruan tinggi yang terbukti efektif dan efisien dalam memotong jalur birokrasi, pemerintah akan segera mematenkannya melalui Peraturan Bupati (Perbup) agar dapat diimplementasikan secara massal.
Guna memastikan ekosistem riset berjalan optimal, Bupati Mimika mengajak seluruh perguruan tinggi lokal untuk aktif menelurkan gagasan konstruktif melalui Tridharma Perguruan Tinggi. Ia secara terbuka meminta agar mahasiswa mengubah pola pergerakan dari sekadar melayangkan kritik di media sosial menjadi aksi nyata yang solutif.
"Saya berharap mahasiswa dan perguruan tinggi kreatif. Jangan hanya tajam dalam protes politik di WhatsApp Group atau medsos, tetapi minim solusi ketika diajak bicara inovasi. Mari jadi mitra strategis pemerintah," imbaunya.
Sinergi pentahelix ini juga diserukan kepada institusi media. Pemkab berharap media massa di Papua mulai menggeser fokus pemberitaan.
"Untuk teman-teman media, mari kita kurangi porsi tulisan yang terus-menerus menggaungkan konflik atau perang. Mulailah membuka ruang untuk menuliskan inovasi-inovasi yang sudah dibuat pemerintah dan bagaimana manfaat konkretnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Kita harus terbuka."
Sesuai dengan tema besar MIW 2026, "Membangun Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah dalam Mewujudkan Mimika yang Maju, Adaptif, dan Berdaya Saing", kolaborasi erat antara Pemkab Mimika, BRIN, akademisi, dan masyarakat ini diyakini menjadi bahan bakar utama dalam mengubah potensi besar daerah menjadi keunggulan kompetitif yang siap bersinar di kancah nasional. (HK)